Selasa, 27 Mei 2008

BAU BUSUK DI KAMAR MANDI

BAU BUSUK DI KAMAR MANDI

Naskah Monolog: S. Yoga


LELAKI SETENGAH BAYA :

(Setting di ruang kamar mandi yang cukup besar, di dalamnya ada wastafel, handuk, pisau cukur, kloset, bak mandi, kran dari atas, korden, cermin dengan perlengkapan rias, ada bedak, sisir, sikat wc. Seorang lelaki setegah baya masuk, berpakaian lengkap, necis, pakai dasi dan membawa tas. Meletakkan tas. Memandang lama ke arah cermin besar, mengamat-amati, nampak curiga pada wajahnya sendiri). Aku kira tak ada yang berubah sejak aku dilahirkan. Wajahku tetap sama bersih.

(Melihat jam, lalu mondar-madir). Apakah aku harus berangkat. Istri sudah berangkat kerja sejak dini hari, tempat kerjanya jauh, anak-anak berangkat sekolah, pembantu ke pasar, tinggal diriku yang kesepian. (Menciumi tubuhnya sendiri). Apakah aku harus mandi lagi. Kenapa tubuh ini akhir-akhir ini baunya tidak enak. (Membau tangannya yang sudah ia uapi dengan bau mulutnya, lalu menutup mulutnya yang berbau tidak enak). Ah kenapa mulutku baunya tidak enak sekali. Aku harus mandi. Aku harus mandi lagi. Aku tak peduli pertemuan di kantor terlambat.

LELAKI SETENGAH BAYA :

(Lelaki itu mulai membuka dasi, jas, baju, sepatu, kaos kaki, celana panjang, hingga hanya mengenakan celana kolor dan kaos dalam putihnya. Ia segera mengambil pasta gigi dan sikat gigi. Segera mengosok gigi. Berkumur. Membau bau mulutnya lagi dan mengulangi gosok gigi lagi). Kenapa? Kenapa? Kenapa ini semua terjadi padaku. Bau mulut saja tak mau hilang.

LELAKI SETENGAH BAYA :

(Jalan mondar-mandir). Terkutuk. Terkutuk bau mulut ini. Apalagi nanti ada pertemuan. Busuk. Busuk. Busuk mulut ini. (Kaget dengan reaksi perutnya). Aduh perutku. Bebaskan aku dari penyakit ini. Bebaskan aku dari kutukan ini.

(Berlari, memelorotkan celana dan duduk di toilet, berak, telepon berdering tapi dibiarkan saja). Aduh! Aduh! Oh lega sekali. Lega sekali. Semua ini baunya minta ampun. Benar-benar bangkai. Apa benar yang dikatakan dokter. Ini semua perihal pencernaan. Aku harus cari obat alternatif lain, orang-orang pintar yang aku datangi semuanya tak membawakan hasil. Mereka hanya mengingatkan bahwa semua yang dimakan manusia ada sebab akibatnya. Kalau yang dimakan halal keluarnya ya halal. Kalau yang dimakan haram keluarnya ya haram. Kalau kita dapat uang dengan cara yang tidak jujur, dibelikan apa pun juga tidak berguna bahkan bisa mencelakakan kita. Orang pintar itu justru menuduhku orang yang tidak baik.

LELAKI SETENGAH BAYA :

(Kini ia buka semua pakaiannya, telanjang, lalu duduk di pinggir bak mandi, membuka kran yang hangat, sambil sesekali membau badannya). Masih bau juga. Darah apa yang aku kandung selama ini. Darah keluargaku. Darah nenek moyangku. Oh sejarah yang kelam. Darah dari darah yang berbau. Kotor dan busuk.

(Terdiam, berjalan berkeliling). Sejarah manusia memang selalu kelam. Sejarah manusia memang selalu terluka. Terluka oleh orang lain. Oleh perasaan kita sendiri. Oleh nasib kita yang selalu tidak mujur. Oleh orang-orang yang dekat dengan diri kita. Oleh orang-orang yang kita cintai. Terluka oleh anak-anak kita. Terluka oleh istri tercinta kita. Oleh orangtua kita. Oleh mertua kita. Oleh atasan kita. Oleh nafsu kita. Semua ini bermula dari ayah mertua. Sudah aku katakan bahwa aku tidak mau bekerja sebagai pegawai keuangan. Itu semua bukan keinginanku. Rasanya aku malu dengan diriku sediri.

LELAKI SETENGAH BAYA :

(Ia mulai memasukkan shampo busa, perlahan badannya direndam dalam bak mandi, dan sesekali berdiri menikmati guyuran air dari kran bagian atas). Semua ini karena istriku. Ya istriku. Aku tahu siapa yang berlaku tidak baik di rumah ini. Sudah tidak beres keluarga ini. Dulu kelihatan baik. Tapi akhirnya semuanya terbongkar sudah. Aku harus belikan gelang. Aku harus belikan cincin. Aku harus belikan mobil. Akhirnya aku harus pandai-pandai menyiasati pembukuan. Tapi hari ini aku harus berhadapan dengan petugas pemeriksa keuangan. Aku takut ketahuan. Aku takut. (Telepon berdering tapi dibiarkan). Aduh! Aduh!.

LELAKI SETEGAH BAYA :

(Duduk di pinggir bak mandi sambil bermain air). Kapal ini sudah karam. Untuk apa dipertahankan. Tidak jelas siapa nahkoda di rumah ini. Rasanya aku hanya boneka.

LELAKI SETENGAH BAYA :

(Telepon berdering lagi tapi dibiarkan. Ketakutan). Sekarang saatnya aku harus mempertanggungjawabkan semuanya. Aku harus menghadapi pemeriksa keuangan. Mereka tidak mau diajak kerjasama sama sekali. Aku bingung. (Merasa ketakutan sekali dan kecewa, hilir mudik tak karuan).

LELAKI SETENGAH BAYA :

(Lelaki setengah baya duduk di atas kloset setelah mengambil pisau pencukur jenggot). Kalau hidup begini terus. Dikejar-kejar rasa bersalah yang tak habis-habisnya. Alangkah baiknya kalau aku bunuh diri saja. (Mempermainkan pisau). Rasanya masalah akan selesai. Tapi ini tindakan bodoh.

LELAKI SETENGAH BAYA :

(Bercermin dan mulai meracau dengan lamunan pikiran-pikirannya). Wajahku rupanya tidak seperti yang dulu lagi. Aku tahu ini bukan wajahku yang asli. Rasanya aku sedang memakai topeng. Semua orang di kantor juga memakai topeng. Mereka baik sama semua orang namun ada maksudnya. Sering aku melihat pegawai kantor bila menghadap atasan memakai topeng mereka bicara manis. Aku melihat di kantor-kantor lain juga orang-orang memakai topeng. Aku melihat orang-orang di televisi juga memakai topeng. Aku melihat orang-orang di atas podium sambil berpidato berapi-api juga memakai topeng. Aku melihat para tentara yang katanya menegakkan keamanan dan kebenaran juga memakai topeng. Aku melihat para polisi yang menjaga ketertiban juga memakai topeng. Aku melihat para hakim dan jaksa di pengadilan juga memakai topeng. Aku melihat wajah-wajah para anggota dewan juga memakai topeng meski berwarna-warni namun tujuannya sama. Apalagi kalau bukan uang. Memang topeng salah satu alat untuk menghibur dan mendatangkan uang. Para badut-badut itu gentayangan di kantor-kantor. Aku juga melihat para menteri memakai topeng dan berganti kostum. Aku seringkali melihat presiden memakai topeng saat berpidato dan wawancara. Dan aku melihat para wartawan yang mewanwancarai juga memakai topeng. Jadi semua orang kini sudah memakai topeng. Oh negeri badut yang malang. (Telepon berdering tapi dibiarkan saja).

LELAKI SETENGAH BAYA :

(Tersadar dari lamunan yang membuat dirinya meracau). Oh, Tuhan maafkan pikiran-pikiran kacauku ini. Semoga mereka tidak bersalah. Semoga pikiran-pikiran tidak waras ini tidak terbukti. Semua orang di negeri ini baik-baik saja. Bersih-bersih saja. Hanya dirikulah yang paling terkutuk. Maafkanlah aku. Maafkan.

LELAKI SETENGAH BAYA :

(Telepon berdering. Berjalan hilir mudik bingung bukan main). Apakah aku akan hadir dalam pertemuan nanti. Apakah aku tetap di sini hingga pertemuan usai. Kalau aku hadir semua akan terbongkar. Rasanya yang paling tepat aku harus hadir. Berani berbuat harus berani bertanggungjawab. Inilah hidup. Rasanya lebih baik aku mengikuti semua petunjuk atasan. Biarlah kalau ketahuan atasanku juga akan kena. Apalagi atasanku tentu sudah punya jalur khusus, punya backing. Jadi kenapa aku harus takut dengan petugas keuangan. Ya aku putuskan untuk berangkat sekarang juga waktu masih cukup. Lima menit ke kantor sudah sampai. Aku harus berangkat. Aku harus berani.

LELAKI SETENGAH BAYA :

(Segera memakai baju dan celana, jas, dasi dan sepatu, bercermin, mematut matut diri, siap berangkat). Tapi bau apa ini yang keluar. Bau apa ini. Busuk sekali. Busuk sekali. Pasti kloset itu. (Membuka kloset). Bukan ternyata. Lalu bau apa. Pastilah bak mandi itu. Tapi nggak ada apa-apa. Tidak ada bangkai. Ini pasti bangkai tikus. Pastilah tikus itu mati di saluran pipa. (Memeriksa saluran pipa). Bukan dari saluran pipa. Kalau dari sini pastilah baunya busuk sekali di sekitarnya. Lalu bau apa. Apa kaos kaki ini. Tapi barusan dicuci. (Bercermin lalu mencium baju dan tubuhnya). Ya, Tuhan bau busuk itu datang dari tubuhku. Ya tubuhku yang berbau busuk. Tubuhku yang kotor. Jiwaku yang kotor. Hatiku yang tercela. Tentu saja dengan bau yang sebusuk ini aku tidak berani menghadap pemeriksa keuangan. Aku tahu mereka pasti akan mencium bauku. Bau yang sangat busuk. Aku tak akan pergi ke kantor. Aku tak berani menghadap. Bau busuk ini. Harus aku tutupi dengan apa. Dengan apa.

LELAKI SETENGAH BAYA :

(Telepon berdering. Mengambil bedak di tempat rias dekat cermin). Dengan bedak ini baunya akan hilang. (Menaburkan bedak ke wajah dan seluruh tubuhnya yang sudah berpakaian rapi). Baunya hilang. (Teriak-teriak sambil berlari-lari). Bau busuk hilang. Oh masih bau. Masih bau busuk. Seolah bau busuk datang dari neraka. Kotoran terbusuk di dunia. Aku harus bersih menghadap petugas penyidik. Aku harus bersih. Tidak sebusuk ini. Memang baunya luar biasa. Siapa pun pasti akan mencium. Pasti tercium. Sepandai-pandai tupai meloncat suatu saat akan jatuh juga. Sepandai-pandai menyimpan bangkai suatu saat akan tercium juga. Ya hidupku penuh dengan kebusukan. Penuh dengan orang-orang busuk yang berada di sekitarku. Ya semuanya karena uang. Uang dan goadaan materilah yang membuat semua bau busuk ini. Aku menjadi gila sekarang. Aku harus bagaimana. Kalau aku menghadap …… (Telepon berdering. Berdiri di pinggir bak mandi). Ah kacau semua hidup ini. Lebih baik aku mandi lagi biar bersih. (Telepon berdering. Masuk bak mandi). Ya Tuhan ampunilah aku. Ampuni dosa-dosaku. Aku kapok. Aku tak akan mengulangi lagi. (Telepon berdering. Ia ambil kopor dan ia buka, isinya uang semua, ia hambur-hamburkan) Ini semua karena ini. Karena uang (Sambil kepalanya ditimbul-tenggelamkan dalam air). Bau busuk. Busuk sekali. Busuk. Busuk. Busuk. Busuk …….(Telepon terus berdering). Busuk…… Busuk…. Busuk….. (Lama-lama wajah lelaki setengah baya tenggelam dalam bak mandi, telepon terung berdering dalam kesunyian dan kegelapan).

SELESAI.

***

Madiun, 10 September 2003



Tidak ada komentar: