Selasa, 27 Mei 2008

Puisi di Kompas, 6 November 2005



SAPI SONOK


cermin di bumi

cermin di langit

datanglah padaku


irigan irigan sesajen

musik saronen, arak arakan payung purba

terompet, siter, tetabuhan

gamelan dan gong bertalu talu

membuka rahasia hidup


langkah sepasang sapi jantan dan betina

menari nari dengan pakaian kemanten

dihiasi pernik pernik, gelang, kalung, perak

tembaga dan alis mata tegak

mata berbinar menuju pelaminan

menuju duka dan nestapa

menuju kebahagiaan dan keabadian


satu langit dan satu bumi

didandani bersepakat satu rumah

kandang sapi, bau apek, tai terbakar

dan pesing air kencing, lumpur basah

adalah lantai lantai kehidupan

yang harus dijalani

di depan ada cermin

maha luas

cermin siapakah itu

tak ada yang tahu

hanya ekor sapi yang kebat kebit

mengusir lalat hijau sebesar jempol tangan

yang menghisap pantat coklat


sepasang kemanten terus menari nari

diiringi musik bertalu talu

dalam rimba kata kata yang terdengar

cempreng di pengeras suara yang hampir pecah

kaki kiri dan kaki kanan bersijingkat seirama saronen

kepala berlengak lengok dengan gemerincing genta

yang terpasang di leher

seperti orang berdzikir

dengan pakaian warna warni

hijau pupus, merah lembayung dan kuning langsat

bagai keberanian sedang dipertaruhkan

dengan doa sekerabat dekat

dan puja puji dari nyanyian ilahi


orang orang bertepuk tangan

sambil melambai lambaikan masa lalu

dengan kaki yang gemetar terkena busung lapar

melepas upacara yang sedang dihelat

apakah akan lulus memasuki kehidupan


dua cermin yang terpasang

di kanan kiri gapura

memantulkan bayang bayang hitam

diselingi cahaya cahaya yang kemilau

dua sapi saling berebut simpati

dalam tarian purba yang wingit

di depan cahaya mereka berdua

berlutut dan memberi sembah

dengan dua kaki tertekuk

sujud kehidupan dan sujud maut

kepada ilahi

musik mengalun kembali

dalam seruling yang meninggi

seolah suara terompet dari

yang maha jauh


di balik kelambu

sepasang kemanten sedang bercengkrama

menghitung keuntungan

dengan baju baju baru

perhiasan baru

hadiah baru

sambil ekornya

mengibas ngibas

kiri kanan

mengusir

kesunyian

dan saling

berbelit

lit


*Sapi Sonok, sapi Madura yang dilombakan keindahan dan kepandaiannya menari diiringgi musik.


Gapura-Sumenep 2005

(Kompas 6 November 2005)



CEMARA UDANG

buat d zawawi imron


kau telah renta

dengan suara parau

lukisan lukisan di dinding

semua berbentuk abstrak

yang kulihat hanya sebaris

huruf alif


saban hari kau hanya mengikat diri sendiri

tak jauh dan tak dekat

tak tinggi dan tak pendek

duniamu kini hanya ada di sekitar

bonsai kata kata

kata kata yang kau ambil

dari alam dan semesta

kau bayangkan kata kata

adalah rumahmu sendiri

yang penuh dengan cemara udang

yang kau tanam dalam pot porselin

kau sirami, kau rawat dan kau potong

daun daun kata kata tumbuh ke segala arah

namun kau luruskan lagi ke arah kiblatmu

yang indah dan bersahaja

seindah suara gadis remaja

mengaji di surau senja hari

ayat ayatmu mengalun dari

lembah ke lembah

hati ke hati


di pagi hari cemara udang yang kau bonsai

tumbuh dengan dahan dahan yang lebat dan liar

seperti berkelebatannya kata kata dalam pikiranmu

yang tak tertuang dalam alifmu

kini saban pagi kau tunggui daun kata katamu

yang berguguran ke bumi


*Cemara yang berbentuk seperti udang terbalik, banyak tumbuh di Pantai Lobang, Sumenep.


Gapura-Sumenep 2005

(Kompas 6 November 2005)



ASTA TINGGI


kuburan itu seperti pasar

karnaval para pesiarah

pelancong dan kaum muda yang pacaran

tak kutemukan tempat keramat

yang dulu ada

hanya ada pohon mengkudu

tak berharga

kecuali pohon nangger

dengan kalong bergelantungan

seolah mayat yang terbungkus

kain hitam digantung di bumbungan

jejakmu kini tinggal fosil cerita lama

yang tak dipercaya

begitu pula aku yang ragu akan

kenangan kesempurnaan hidup

yang terbayang hanya selir selir

dan dayang dayang cantik yang

selalu kau keloni sebelum berperang

di mana kini rohmu berada

hanya kekosong warna senja

dan lelawar berterbangan dari

gua hidupmu

gua malammu

gua pohonmu

tempat para malaikat mengintip hidupmu di malam gelap

bagiku malam adalah maut yang menjemput

sebelum neraka pagi meminta untuk

berkorban pada nafsu duniawi

kerja kerja kerja dan kerja

jadi hidup membosankan bukan

lebih baik menghafal kitab

dan menunggu mati

berbaring bersamamu


*Makam para Adipati Sumenep


Gapura-Sumenep 2005

(Kompas 6 November 2005)




1 komentar:

Sony Karsono mengatakan...

Bung Yoga yang baik:

Kapan Anda gondrong lagi?

Salam hangat