Kamis, 22 Mei 2008

FSS dan 100 Tahun Kebangkitan Nasional


Kompas Jatim, 21 Mei 2008
FSS DAN 100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL
Oleh : S Yoga

Dari tanggal 1-15 Juni nanti, kita akan disuguhi hajatan kebudayaan yang bernama Festival Seni Surabaya (FSS) 2008, dengan mengambil tema “Seratus Tahun Kebangkitan Nasional: Tribute to Surabaya” sebuah tema besar sebenarnya. Namun memang demikian sebuah hajatan sudah umum mengambil tema yang gagah dan mentereng. Dan bila kita cermati kelakuan ini sudah berlangsung sejak zaman kolinial Belanda, yang oleh Clifford Gertz disebut sebagai Negara Panggung. Sebuah negara yang lebih suka mementingkan gebyar atau penampilannya saja.

Tentu saja kita berharap FFS kali ini bisa memaknai kebudayaan secara subtansial. Sehingga relevansi antara kebangkitan nasional dan kontribusi kebudayaan akan kita dapatkan. Khusunya dengan perkembangan dan dinamika kesenian di Surabaya dan Jawa Timur pada umumnya. Yang mana semangat nasionalisme, berupa pencarian jati diri dan identitas lokal yang merupakan spirit penciptaan karya dapat mewarnai dan ditampilkan sebagai kebanggaan Jawa Timur. Baik oleh pementasan teater, tari, seni rupa, musik atau sastra. Yang akhirnya akan memberikan simpati dan semangat para generasi muda untuk berkarya lebih baik lagi.
Bila kita tengok kembali kelahiran Kebangkitan Nasional, yang dipelopori oleh Dr. Boedhi Oetomo, Dr. Cipto Mangunkusumo dan Dr Wahidin Sudiro Husodo, yang ketika itu merupakan mahasiswa kedokteran STOVIA, Jakarta. Sehingga kelahiran organisasi Boedhi Oetomo (BO) pada tanggal 20 Mei 1908, dijadikan tonggak kebangkitan nasional. Yang tahun ini merupakan peringatan yang ke-100 tahun (seabad), sebuah angka yang keramat dan spesial bagi bangsa Indonesia.
Namun demikian seringkali masih terjadi perdebatan, siapa sebenarnya yang layak disebut sebagai tonggak kebangkitan nasional. Karena ada yang berpendapat Syarikat Islamlah (SI) yang merupakan cikal bakalnya karena terlebih dahulu dilahirkan sebelum BO. Yakni pada tanggal 16 Oktober 1905, di Solo dengan tokoh pendirinya Haji Samanhudi dan HOS. Tjokroaminoto berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, Agus Salim dan Abdoel Moeis dari Sumatera Barat, dan AM. Sangaji dari Maluku. Yang justru menentang kolonial Belanda, keanggotannya bersifat kerakyatan dan terbuka. Dalam novel Jejak Langkah-nya Pramoedya Ananta Toer hal itu digambarkan dengan baik.
Sedangkan BO lebih bersifat elitis, banyak dipimpin oleh para ambtennar, pegawai negeri, dan digaji oleh Belanda. Misal BO pertama kali diketuai oleh Raden T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar kepercayaan Belanda, yang memimpin hingga tahun 1911. Kemudian diganti oleh Pangeran Aryo Notodirodjo dari Keraton Paku Alam VIII Yogyakarta. Anggota BO juga merupakan anggota Freemasonry Belanda (Vritmejselareen). Dan pada akhirnya Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, pun keluar dari BO, mungkin karena arah perjuangannya sudah tidak sesuai lagi dengan cita-citanya.
Tentu kita tidak perlu memperdebatkan hal itu lagi, yang lebih penting kita mengetahui sejarahnya dan mengambil hikmah dari cita-cita yang hendak mereka perjuangkan, yakni kebangkitan nasional. Namun apakah kebangkitan nasional atau nasionalisme itu memiliki arti yang subtansial bagi kita semua. Sementara korupsi, kolusi dan nepotisme merajalela di sekitar kita, bahkan yang banyak melakukan adalah para pejabat atau birokrat. Bagaimana hal ini bisa dijelaskan bila dikaitkan dengan cita-cita BO, yang ingin mengangkat nilai-nilai luhur, semangat kebangsaan dan kesadaran terhadap pembangunan. Rupanya cita-cita itu banyak dikhiananti oleh para pejabat sendiri. Dan hal inilah pula yang perlu direspon oleh para penyaji kebudayaan dalam FSS kali ini, sehingga bisa merefleksikan apa sebenarnya yang sedang terjadi dalam masyarakat. Bila tidak yang terjadi hanya nasionalsimse semu yang romantis dan formal, tidak kritis dan konstruktif.

Penyeimbang Kebudayaan
Karena menilik sejarah yang ada sejak zaman kolonial Belanda sebenarnya kebangsaan kita telah dicerai berai dengan politik devide et impera, memecah belah. Dan ada pepatah juga yang menyatakan, Wong Jawa mati dipangku walanda. Hal ini bisa dipahami karena selama penjajahan telah terjadi involusi dibidang ide, cita-cita dan pandangan dunia. Konsep magis religius dan elite birokrasi dari negara panggung pada masa kerajaan macet. Ia harus menyesuaikan diri pada konsep negara birokrasi (beambtenstaat) Belanda. Maka munculah neo priyayi-neo priyayi baru yang lebih patuh kepada Belanda daripada negara. Dalam novel Para Priyayi, Umar Kayam pengarang kelahiran Ngawi, hal itu dijelaskan dengan segala akibat dan resikonya hingga pada masa Orde Baru.
Rupanya masalah kebangkitan nasional juga merupakan tema utama dalam karya sastra, antara lain Umar Kayam, Pramoedya Ananta Toer, Muhammad Yamin, Sutan Takdir Alisjahbana, Y.B. Mangunwijaya, Idrus dengan cerpen Surabayanya (yang mengkritisi arti perjuangan). Dan generasi muda sekarang diharapkan dalam FSS kali ini juga dapat memberikan kontribsui yang berarti tentang makna kebangsaan atau nasionalisme sehingga dapat memberikan kontribusi atau penyeimbangan kebudayaan yang ada. Karena selain rasa kebangsaan yang digerogoti oleh dekadensi moral pribadi masing-masing individu, juga dalam era globalisasi ini, kita telah digempur habis-habisan oleh budaya massa yang bersifat profan dan kapitalis. Di mana di depan ruang tamu kita, sudah siap menyerang budaya barat lewat layar kaca. Sehingga pola hidup kita tiba-tiba telah berubah dari nilai-nilai ketimuran dan kearifan lokal yang ada.
Lalu bagaimana selama ini, semenjak Orde Lama dan Orde Baru kebangkitan nasional dimaknai. Bila kita cermati ada hal yang keliru sehingga masyarakat kita mendapatkan dampaknya, kerapuhan mental, sosial dan ekonomi. Karena semenjak Orde Lama apa yang dikamsud dengan nasionalisme adalah memperkuat negara, terlebih pada masa Orde Baru, sehingga negara merupakan idealisme dari rasa kebangsaan. Yang akhirnya terus-menerus memperkuat birokrasi yang ada. Negara mengontrol konsep jati diri bangsa lewat struktur kekuasaannya. Yang ada adalah nasionalisme negara buka nasionalisme kerakyatan, padahal nasionalisme mestinya milik masyarakat. Sementara semangat kerakyataan; semangat solidaritas sosial dan demokrasi dihindari, dan yang muncul demokrasi seolah-olah. Memperkuat negara dan melemahkan rakyat. Akibatnya ketika terjadi krisis, rakyat tidak dapat mengatasi dirinya sendiri. Terjadilah amuk masa karena krisis ekonomi. Maka jatuhlah Soekarno dan Soeharto lewat cara yang sama.
Untuk itu pentinglah konsep kebudayaan dan nasionalisme yang kritis, kita tengok kembali. Dan lewat FSS kali ini meski dengan tema megah, semua persoalan bangsa dapat dicerna, direfleksikan, dan diambil hikmah untuk mencari jalan keluarnya. Karena pada saat ini, kita juga sedang dihadapkan pada krisis, baik itu krisis pangan, krisis moral dan krisis kepemimpinan yang benar-benar memahami isi hati rakyatnya. Karena yang ada seringkali justru ketika menjabat mereka lupa akan kebutuhan rakyat dan hanya mempertahkan status quo saja.
Tentu kita berharap FSS kali ini bisa berjalan dengan baik, dan para penyajinya pun bisa memberikan susuatu yang dapat menambah wawasan kebangsaan kita dalam arti yang lebih luas. Sehingga terjadi transformasi budaya. Dan di sini pula letak pentingnya kedudukan seni di dalam kehidupan. Ia bukan lokomotif demokrasi tapi ia gerak roh budaya demokrasi itu sendiri. Yang akan membimbing manusia di dalam menempuh perjalanan hidupnya secara lebih manusiawi.
***
Penyair tinggal di Situbondo,
Anggota Komite Sastra DK-Jatim.

Tidak ada komentar: