Sabtu, 24 Oktober 2009

Biodata S Yoga


S Yoga dilahirkan di Purworejo Jawa Tengah, alumnus Sosiologi FISIP Unair Surabaya. Puisi, cerpen dan esaynya tersebar di media massa lokal dan nasional. Anggota Komite Sastra DK-Jatim 2008-2013. Kini tinggal dan bekerja di Ngawi, sebagai konsultan pemberdayaan masyarakat.
Pernah menerima Penghargaan Seniman Jawa Timur 2009. Bulan November 2007 diundang TUK-Jakarta dalam acara 8 Penyair Muda Baca Karya. Pada Agustus 2007 diundang dalam Festival Kesenian Yogyakarta. Pada Juni 2007 diundang dalam Festival Seni Surabaya.Pada November 2006 diundang Dewan Kesenian Jakarta dalam acara Lampion Sastra.
Meski sejak SD sudah suka pada dunia tulis menulis dan sastra, namun baru pada SMA dengan teman-temannya berani mempublikasikan karya dan terangkum dalam antologi Kering-Shanira kumpulan cerpen dan puisi SMAN I Purworejo tahun 1988. Saat menjadi mahasiswa selain tetap menekuni dunia tulis menulis seperti puisi, cerpen, artikel sastra, budaya dan sosial-politik, juga banyak terlibat di dunia teater di antaranya, Teater Puska Unair dan Bengkel Muda Surabaya.
Beberapa karyanya puisi dan cerpennya terangkum dalam antologi bersama; Manifesto Illusionisme-Antologi Puisi Temu Sastrawan Jawa Timur 2009, Tanah Pilih-Temu Sastrawan Indonesia I-Jambi 2008, Tongue in Your Ear-Festival Kesenian Yogyakarta 2007, Lima Pusaran-Festival Seni Surabaya 2007, Jogja 5,9 Skala Richter-Antologi Puisi-Bentang 2006, Doa Tangan-Tangan-Bengkel Muda Surabaya 2006, Maha Duka Aceh-Antologi Puisi-Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin 2005, Nubuat Labirin Luka-Antologi Puisi untuk Munir-Aceh Working Group-Sayap Baru dan Imprasial 2005, Black Forest-Antologi Cerpen Festival Seni Surabaya 2005, Dari Zefir sampai Puncak Fujiyama-Lomba Cerpen Kreativitas Pemuda Diknas & Institute Creativ Writing 2004, Penyair Jawa Timur-Antologi Puisi Festival Seni Surabaya 2004, Permohonan Hijau-Antologi Puisi Festival Seni Surabaya 2003, Lampung Kenangan-Lomba Cipta Puisi Krakatau Award-Dewan Kesenian Lampung 2002, Graffiti Imaji-Antologi Cerpen Pendek-Yayasan Multimedia Sastra 2002, Para Penari-Lomba Cipta Cerpen Nasional Kota Batu 2002, Dari Negeri Asing-Lomba Cipta Cerpen Forum Lingkar Pena 2002, Letters from the Soul-Library of Congress 2002, Gelak Esai & Ombak Sajak Anno 2001-Kompas, Amsal Sebuah Patung-Borobudur Award 1997, Antologi Puisi Indonesia-Komunitas Sastra Indonesia 1997.
Selain menulis puisi dan cerpen, juga menulis novel, esay, catatan pementasan dan kritik seni. Karya-karyanya juga tersebar di berbagai media masa, di antaranya, Jurnal Cerpen, Jurnal Puisi, Sepuluh Besar Lomba Cipta Cerpen Nasional Bali Post 2002, Lomba Cipta Puisi Krakatau Award 2004, Semi Finalis Poetry. Com bulan Agustus 2002-Lomba Cipta Puisi Terbuka International, Lomba Cipta Cerpen dan Puisi Kopisisa Purworejo 1998, Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, Horison, Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Jurnal Nasional, Padang Ekspres, Surabaya Post, Sinar Harapan, The Jakarta Post, Jawa Pos, Surya, Lampung Post, Surabaya News, Suara Merdeka, Solo Pos, Suara Karya, Suara Pembaruan, Bali Post dan Radio Jerman.Selain berkaya dalam bahasa Indonesia juga menulis dalam bahasa Jawa yang disebarluaskan di majalah Penyebar Semangat dan Jayabaya.
Pernah menjadi sutradara film independen bersama teman-temannya di @rekfilm Surabaya untuk lomba film di TVRI Surabaya tahun 2002, dan filmnya terpilih sebagai film terbaik. Naskah dramanya yang berjudul Rumah di Tubir Jurang menjadi nominator lomba cipta Naskah Drama Remaja TBJ 2005 dan menjadi salah satu pilihan dari lima naskah drama lainnya untuk dipentaskan oleh peserta dalam Festival Teater Remaja se-Jawa Timur 2005-Taman Budaya Jawa Timur.

Alamat : Jl. Kyai Mojo (Utara) No 8
RT 08 / RW 02 Kelurahan Pelem
Ngawi – Jawa Timur
E-mail : syoga5@gmail.com
HP : 085649767669

Minggu, 04 Oktober 2009

Puisi di Kompas, 4 Oktober 2009


SAJAK-SAJAK S YOGA
NAIK SEPEDA FONGERS

kulewati jalan kampung penuh debu
bagai asap menyelimuti diri ini
kubunyikan bel ting tong
agar kambing-kambing menyingkir
agar aku segera tiba di kuburan
di senja hari yang sunyi

fongers tua dengan rem botol
membawaku ke tempat keramat
lampu kupadamkan agar perjalanan
malam (karena senja telah sirna) ini
tambah seram
tiba di tempat istimewa
segera kuparkir fongers bb-60-ku
sambil berbaring semalaman
aku menanti bintang jatuh
sambil bersiul-siul
semoga ada burung hantu
yang menyahut

agar kita tahu
betapa isyarat menjadi
tanda yang berarti
seperti roda sepeda
yang berputar mencari waktu
pemberhentian

Ngawi-Madiun, 2009
Kompas, 4 Oktober 2009

ARLOJI

ia berdetak saja
tak mengenal waktu
di tangan ia melingkar
meski terlepas
ia telah menorehkan
sebuah isyarat
yang tak bisa terhapus

ketika tidur
ia membisikiku
dengan zikir detik
yang khidmat
di keheningan

apakah aku
masih bisa bangun
esok pagi

segera kuhempaskan
pikiran buruk
aku tak ingin
malam-malamku
dihantui kecemasan

kadang aku merasa
arloji adalah
berhala yang dipuja
agar kita selalu ingat
dan terikat pada janji
perih memang bila
janji tak bisa ditepati

di keramaian pun
aku tak bisa lepas dari detik
yang selalu mengintai
sehingga hidup ini
rasanya selalu diawasi

waktu berjalan begitu lambat
sedang usia meloncat-loncat
persis uban di kepala
hingga tak bisa kuhitung lagi

kadang aku merasa damai
bila arloji ini tiba-tiba rusak
dan masuk reparasi

namun hanya sebentar
karena detaknya
terus ada di dada
ia tak pernah henti
selalu mengikuti

kapan berhenti berdetak
agar kecemasan ini
tidak berlebih

Ngawi-Madiun, 2009
Kompas, 4 Oktober 2009

Sabtu, 12 September 2009

ELANG HITAM (ELANG JAWA)







Koleksi Pribadi

Rabu, 12 Agustus 2009

Koleksi Fongers BB 60 Ori











Kontruksi Rem Botol Depan Belakang Orisinil
Stang fongers bautan ori, piringan K keling
Velg dp-blk kron prinx, ban hitam luck ston
Hub depan dan belakang Atom 36
Sadel lapusil, dinamo bosch besar
Lampu merk Berko
Not For Sale

Selasa, 31 Maret 2009

Koleksi sepedaku (Gazelle Dames seri 11)


Kamis, 19 Februari 2009

Jalan Masih Panjang, Nak, Jangan Bersedih


Di Tanah Lot


Senin, 02 Februari 2009

Puisi, Surabaya dan Peradaban

Gb Tamar Saraseh
Surabaya Post, Minggu 1 Februari 2009
PUISI, SURABAYA DAN PERADABAN
Oleh : S Yoga

Peradaban kota merupakan perwakilan dunia modern. Di mana rasionalitas, efektifitas, efesiensi dan pembagian kerja nampak mengedepan. Dengan lapisan-lapisan masyarakat yang terbagi secara jelas, baik dalam bidang pekerjaan maupun kelas sosial. Dan kelas sosial inilah yang merupakan problem kota besar, di mana kaum yang terpinggirkan atau bagi pejabat yang telah kehilangan moralitasnya. Apakah kota menjadi surga bagi mereka atau sebaliknya menjadi neraka yang mengerikan bagi kehidupan selanjutnya. Memang kota diharapkan menjadi sebuah peradaban yang serba modern, serba praktis dan rasional. Di mana kota menjadi sentral kehidupan dan peradaban yang dijunjung warga kota, dengan teknologi dan kemudahannya. Sehingga warga kota seringkali disebut warga yang modern dan rasional, dibanding warga lainnya yang ada di luar kota, yang identik dengan tradisional dan terbelakang.
Namun kenyataannya kota seringkali tidak seperti yang diharapkan, oleh para pendatang yang berharap mendapat mimpi indah hidup di kota. Kota seolah menjadi lorong gelap dengan struktur sosial yang tidak memihak. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin terpinggirkan. Maka muncul hunian para kaum miskin, gelandangan, pelacuran dan kriminalitas. Kejahatan pun bukan hanya milik kaum terpinggirkan, namun para kaum terhormat kota tak ketinggalan ikut berperan, menjadi koruptor dan pengambil kebijakan yang salah. Inilah peradaban kota yang mengalami dehumanisme dan ketertinggalan budaya. Karena kebudayaan selalu bercita-cita dan merefleksikan dirinya dengan sesuatu yang bermoral dan memanusiakan manusia. Sedangkan peradaban kota cenderung menjauhi moralitas.

Fatamorgana
Tak kecuali kota Surabaya, yang menjadi sumber inspirasi bagi sebagian sastrawan, dengan menghayati kenyataan yang ada. Yang diolah menjadi estetika urban oleh para sastrawan-penyair. Di mana Surabaya dan peradabannya menjadi sebuah wilayah yang patut dimaknai sebagai tanda-tanda zaman. Sehingga banyak sastrawan yang telah menulis karya, baik prosa maupun puisi yang bersumber dari kota Surabaya. Sebut saja Idrus dengan cerpen Surabaya-nya yang terkenal itu, di mana menceritakan kebobrokan moral para pejuang, Pramudya Ananta Toer dengan Bumi Manusia, dengan perjuangan Nyai Ontosoroh yang berseting di wilayah Wonokromo dan sekitarnya, Budi Darma dengan Rafilus, tokoh aneh dan terasing dari peradaban kota sehingga nampak terpinggirkan, bahkan penyair Jerman Berthold Brecht juga pernah menulis puisi berjudul Surabaya Jhony.
Tak ketinggalan para penyair Jawa Timur juga memberikan perhatian khusus terhadap peradaban kota Surabaya dalam karya-karyanya. Dan umumnya karya-karya mereka selalu bernada murung ketika menatap peradaban Surabaya. Misal puisi “Montase Kota Mati”-F Aziz Manna, Di taman makam kota terbaca kisah/ribuan orang bergerak dalam perang/(antara impian dan dendam) payung-payung hitam/meninggalkan masa depan/waktu hanya hitungan, kota hanya sebutan. Sebuah kecemasan akan modernitas yang ternyata kurang membawa keberuntungan bagi kaum pendatang maupun kaum marginal. Sehingga kota hanya sebuah impian bagi para pendatang, yang kalah secara struktural dan hidup sebagai parasit kota. Mereka miskin dan termarginalkan secara struktural, kota tidak punya rasionalitas, bahkan birokrasi yang ada menjadi belenggu, bukannya mempermudah, namun justru memperlambat dan seringkali memunculkan sarang koruptor, dengan banyak pintu dan pungutan. Sehingga kota nampak irasional, penuh fatamorgana, kita tak punya/rasionalitas; kota/tua kita-hantu-hantu yang diledakkan//Di sepanjang/trotoar-pagar hanya fatamorgana, “Melawat ke Kota Tua”-Mashuri.
Kota memang merupkan meltingpot, tempat awal mula bertemu dengan segala silang sengkarut kehidupan kota besar. Di mana akhirnya kota menjadi hunian orang tersingkir semacam pencopet, pelacur, begundal dan buronan. Hal ini kita jumpai dalam puisi Akhudiat, Wonokromo adalah leher botol/Ke tembolok Surabaya melahap & muntahan apa & siapa saja/Tak perlu basa-basimu, sumpah serapahmu, protes atau acungan jempol/Bahkan sindiran atas jalan layang//Di sini kancah buangan & mimpi orang tersingkir/Pecopet, pelacur/begundal, buronan/Mengendap di kampung-kampung yang tumbuh sendiri/Atau Sembunyi di hutan lalang timur stasiun kereta api//Wonokromo adalah monumen/Pasar terbakar.

Diancuk Jaran
Sedang puisi-puisi Indra Tjahyadi yang terangkum dalam “Kitab Syair Diancuk Jaran” berisi 32 puisi, rupanya khusus diperuntukkan bagi kota Surabaya. Semua puisi bercerita tentang kehidupan Surabaya, dari zaman Belanda, Jepang, kemerdekaan hingga kini. Di mana diceritakan baik kehidupan orang Cina, Arab maupun pribumi, dengan dialek yang berciri khas Suroboyoan, terus terang, kasar, liar dan menohok. Sehingga memunculkan sebuah identitas kota baik secara isi maupun bentuk ungkapnya. Inilah puisi yang menampilkan diri Surabaya secara lebih kompleks.
Baik yang remang-remang semacam pelacuran, tak ada setan/tapi mereka sebut aku begundal/;pejantan jalang yang terlahir/dari rahim danyang/kampung jarak gang makam. Tonggak kepahlawanan yang ironis macam puisi “Di Depan Tugu Pahlawanan”, “dulu kakekmu tewas di sini/setelah dikeroyok empat begal/sepulang ngemis di depan Pasar Turi”. Maupun percampuran ras, Madura, Arab dan pecinan, lek enti’ lu/ketemu be’ aku/tolong bho’ lu tanya’i/darimana asalku/ato sapa namaku//soale tinggaku/nde’ pinggiran kota//kota surabaya/dengan pesona/panorama sing kisruh/sing cuma diinapi/para pemabuk. Di mana identitas modern yang seharusnya dapat mempermudah manusia dalam mengarungi kehidupan, teryata menjadi malapetaka bagi sebagian besar penghuni kota yang mengalami ketertinggalan budaya.
Namun lain lagi dengan penyair Aming Aminoedhin dalam, “Surabaya Ajari Aku tentang Benar”, Surabaya, ajari aku bicara apa adanya/Tanpa harus pandai menjilat apa lagi berlaku bejat/Menebar maksiat dengan topeng-topeng lampu gemerlap/Ajari aku tidak angkuh/Apa lagi memaksa kehendak bersikukuh/Hanya lantaran sebentuk kursi yang kian lama kian rapuh. Yang mengisahkan tentang kecemasan kebijakan yang tidak memihak rakyat, baik dari pejabat maupun wakil rakyat, yang lebih banyak membutakan mata hatinya daripada kebijakan yang manusiawai bagai warga kota.
Inilah panorma kehidupan kota Surabaya dengan silang sengakrutnya di mata para penyair. Merupakan sebuah peringatan bagi pengambil kebijakan dan para warga kota yang harus siap-siap mengalami kehidupan yang bukanya tambah modern namun cenderung lebih primitif atau barbar dalam tatanan etika dan moralnya. Memang dalam struktur fisik kota, kita bisa melihat adanya kemajuan pesat, dengan banyaknya plaza, hotel, apartemen, realestat, cafe pub dan fisik lainnya yang mencerminkan kemeriahan peradaban. Namun kemajuan modernitas tersebut tidak diikuti dengan peningkatan rasionalitas dan moralitas para pejabat, wakil rakyat dan para penghuni kota lainnya, yang justru menyebabkan kebijakan-kebijakaan yang berlawanan dengan kemanusiaan dan moralitas. Sehingga secara struktural kaum bawah, selalu terpinggirkan di tengah kota yang menjanjikan mimpi indah.
***
S Yoga
Penyair, Anggota Komite Sastra DK-Jatim.

Rabu, 21 Januari 2009

Puisi S Yoga Kompas 18-1-2009

ACINTYAPADA

pernah kumasuki gua tua
sumur kelam, candi purba
dan karang terjal menuju lorongmu
yang perawan dan asing dari dunia

tak kujumpa apa yang kucari selama ini
hanya kesunyian yang merobek hati
kusaksikan pula bayang-bayang berlarian berbalik arah
hilang dalam lobang kegelapan yang marak

Ngawi, 2008
Kompas, Minggu 18 Januari 2009

JEJAKMU

di pohon-pohon purba tepi jalan
kuikuti jejakmu hingga ilalang panjang
kulukis wajahmu pada pasir putih
yang hanyut dibawa gelombang

Situbondo, 2008
Kompas, Minggu 18 Januari 2009

RAJUNGAN

telah kusempurnakan kesunyian
pada laut lepas yang menanti
luka-luka telah kukuburkan
pada asin garam lautan

kini merayap di bawah lautan
tanpa cahaya dan matahari
hanya kuserap hidup dari pohon laut
sebelum pelayaran berakhir

Situbondo, 2008
Kompas, Minggu 18 Januari 2009

DAUN JATI

sebuah senja telah dilafalkan hujan
dengan matahari yang muram
sebelum musnah ditelan malam

daun-daun jati berguguran
berserakan di antara akar mati
di hutan sepi

Ngawi, 2008
Kompas, Minggu 18 Januari 2009

MALAM BERKACA PADA REMBULAN

malam berkaca pada rembulan
kesunyian kita di rawa-rawa
seruling kesedihan memanjang di tanjung
malam sempurna menjadi bayang-bayang

Ngawi, 2008
Kompas, Minggu 18 Januari 2009

POHON KEPUH

pohon yang menjulang
dengan keheningan yang lengang
di puncaknya angin menghempas
ada yang mengerang dan terlepas

Purworejo, 2008
Kompas, Minggu 18 Januari 2009

KEPOMPONG

di pohon johar yang istirah
di musim penghujan yang basah
aku tumbuh dari rasa sakit masa lalu
menyulam rumah berkabut

Purworejo, 2008
Kompas, Minggu 18 Januari 2009

WAYANG

hanya bayang-bayang
yang tersihir dari kesunyian
hanya gemerlap lampu malam hari
yang memuaskan kehampaan

Ngawi, 2008
Kompas, Minggu 18 Januari 2009

Cerpen Bapakku Telah Pergi


Suara Merdeka, 14 Desember 2008
BAPAKKU TELAH PERGI*
Cerpen : S. Yoga

Bapakku telah pergi. Menemui pembakaran. Ruang suci tempat selesaian. Apa yang harus aku ingat dan kenang dari semua itu. Tak ada. Tak ada yang ingin kuingat. Namun apakah mungkin, aku bisa melupakan, karena begitu kuat kenangan terhadap Bapak mencengkeram pikiran. Padahal abunya telah kularung di lautan, tempat yang paling ia senangi ketika masih hidup. Bapak senang plesir hingga lautan terjauh dan pulau-pulau terpencil. Membawa pancing dan jaring. Bila kesabarannya tak terbendung untuk memperoleh ikan dengan memancing. Maka Bapak akan menjaringnya, hingga ikan-ikan kecil dan besar dapat diciduk dan bergeleparan di dalam jala. Ia merasa puas dan tertawa terbahak-bahak. “Tak ada seni memancing yang kudapat bila berprinsip kesabaran,” begitu kata Bapak sambil memasukkan ikan-ikan ke dalam bak penampungan.
Ah kenangan ini, begitu menyengsarakan, Bapak telah pergi, namun kenangan terus menyeret-nyeret. Dengan apa harus kuputuskan tali sejarah Bapak yang membelitku. Oh kenangan, ia meringkuk di dasar hati yang paling dalam. Seperti batu yang berserakan di dasar kali. Ia akan mengganggu arus air, bahkan bisa merubah jalur utama. Bisa membuat langkahku tersendat-sendat, bahkan membelokkan arah tujuan dari hidupku. Atau justru hidupku selama ini sudah ditentukan Bapak? Tanpa aku sadari.
“Itulah hidup,” kata Bapak suatu saat, sambil duduk di kursi goyang.
“Tapi Bapak, apakah hidup harus seperti ini. Bukankah masih ada jalan yang lebih baik?” tanyaku sambil kuperhatikan wajah Bapak yang mulai keriput.
“Anakku, kau benar-benar masih hijau, belum banyak makan asam garam kehidupan, jadi jalan pikiranmu masih lempeng-lempeng saja, kaya rel kereta api. Lalu kalau kau sudah berkeluarga nanti, anak dan istrimu mau dikasih makan apa. Kalau sikapmu masih kekanak-kanakan. Dunia sudah berubah, saingan tambah berat, musuh tambah banyak, karena itu bila ada kesempatan dan peluang sikat hingga tujuan tercapai.”
Bapak benar-benar raja tega, bila kupikir-pikir, karena semua anak-anaknya diajari bagaimana cara menjalani hidup dengan menghalalkan segala cara. Bila melanggar tak segan-segan tangan Bapak begitu ringannya menghajar tubuh kami. Tapi entah kenapa kami hanya bisa diam saja, dan mengamini semua petunjuk Bapak. Petunjuk Bapak seolah sabda, tak bisa dibantah lagi, maka jadilah ia hantu, yang selalu menghantui pikiran dan jalan hidup anak-anaknya. Seolah seekor ular, yang bisanya tak mungkin dihindari. Dan ekor-ekornya terus membelit tubuh kami yang rapuh ini. Dan Ibu hanyalah bidadari manis, yang selalu menyembuhkan luka-luka memar kami, tapi luka dalam hati terus menumpuk hingga membusuk.
“Ular itu pintar anak-anakku. Contohlah ia,” begitu petunjuk Bapak ketika kami duduk bersama di meja makan.
“Ular itu berbisa, Bapak, jadi tak baik untuk anak perempuan, sepertiku,” begitu jawab kakak perempuanku.
“Karena itu kau harus memahami filosofi ular, nantinya kau akan bisa menaklukan dunia, sekaligus lelaki yang kau idam-idamkan. Karena sifat lelaki juga seperti ular,” kata Bapak dengan mata berbinar-binar, seolah menemukan sebuah ladang oase di tengah gurun.
“Tapi aku phobia ular, lho, Pak!” sahut kakak perempuanku sambil tangannya didekapkan ke dadanya, ketakutan.
“Ha ha ha ha. Anak-anak, sekali lagi Bapak katakan bahwa kalian benar-benar tak pernah beranjak dewasa. Dan Bapak tekankan bahwa kalian harus jadi ular. Tentu saja ular yang cerdik dan pintar. Ular itu memiliki senjata yang mematikan, baik itu gigi-giginya, bisa yang beracun, tubuhnya untuk membelit, juga mulut dan perutnya yang bisa menelan musuh meski tubuhnya jauh lebih besar. Belum lagi dalam situasi tertentu ia bisa merubah kulitnya menjadi baju baru yang lebih baik. Tubuhnya juga licin dan lincah dalam keadaan apa pun, jadi benar-benar sulit ditangkap dan cepat menyembunyikan diri bila ada bahaya.”
“Tapi Bapak, ular bukan manusia, sehingga ia tak tahu rasa belas kasihan, semua mangsanya akan dilumat habis,” sergah kakak lelakiku sambil membetulkan kaca matanya.
“Itulah kelemahan kalian semua, memandang manusia dengan cara yang sederhana. Tentu saja kita masih memiliki rasa kemanusiaan. Bukankan di perusahaan-perusahaan yang kita miliki, kita telah memperkerjakan orang-orang yang kurang beruntung,” jelas Bapak.
“Yang aku maksud adalah cara kita mendapatkan perusahaan itu, Pak?” tanya kakak lelakiku dengan nada agak tinggi.
“Bukankan dengan uang kita. Dan menurut hukum dan udang-undang negara, siapa pun yang memiliki uang dapat saja membuat perusahaan, siapa yang melarang. Kita punya uang siapa yang melarang. Dan uang itu kita dapatkan dari kerja keras, keringat kita!” terang Bapak dengan nada tinggi.
Makan malam pun diakhiri dengan pertanyaan-pertanyaan yang terus bergejolak dalam pikiran kami semua. Apa makna hidup sebenarnya bila semua diukur dengan cara keduniawian. Hidangan makam malam pun tak bisa kami nikmati dengan memuaskan, bahkan kami hampir lupa apa tadi yang kami santap dan minum. Karena pikiran-pikiran kami terus bergentayangan saling berkejaran dengan pikiran-pikiran Bapak yang begitu menenggelamkan masa lalu dan masa depan kami. Sedang Ibu hanya diam saja seolah pikirannya ada di luar sana, mengembara bersama para bidadari. Mungkin juga Ibu, sudah tidak mau berurusan dengan Bapak, karena bila salah, tamparanlah yang akan didapat. Ah begitu kejamnnya Bapak, bila kupikir-pikir. Namun di sisi lain ia begitu mencintai keluraga. Apakah ini perpaduan malaikat dan iblis sekaligus, aku tak tahu dan aku tak peduli lagi.
Suatu kali aku bersenang-senang dengan teman-teman semalam suntuk, dan ketika pulang, aku merasa kesepian di kamar, dunia ini seakan tak peduli lagi. Apakah sebenarnya yang kau tanamakan dalam jiwa kami, Bapak. Kemegahan atau kesepian.
“Kau bertanya tentang jiwa, anakku. Ia tak lain hanyalah sebuah ilusi dari impian kita. Bila impian kita tergapai maka sebagian jiwa kita akan terisi, demikian seterusnya. Sehingga bila impian-impian kita belum tercapai, maka sebenarnya jiwa kita belum penuh,” begitu kata Bapak, suatu ketika sambil membersihkan senapan buruan.
“Bapak, apakah seluruh jiwa nantinya akan kita bawa mati? Termasuk juga impian-impian kita?” tanyaku sambil mengambil ransel berburu.
“Ha ha ha ha ha ha! Bicaramu seperti seorang pendakwah saja. Cepat siapkan senapanmu dan kita akan berburu. Kau harus ikut, biar aku tunjukkan bagaimana cara berburu yang baik. Melacak jejak babi hutan di belantara.”
Kami rupanya telah menyiapkan bekal perburuan dengan sangat baik. Entah kenapa Ibu yang biasanya enggan ikut dalam perburuan, kali ini sangat bersemangat dan ingin menyaksikan kami berburu. Dalam perjalanan sang sopir entah kenapa selalu menabrakan ban mobil ke dalam sebuah lobang, atau memang jalan kini banyak yang sudah berlobang. Sehingga tubuh kami seringkali tergoncang-goncang. Dan entah kenapa pula Ibu selalu memandang ke atas dan melihat burung-burung berterbangan. Bapak hanya diam dan waspada memandang ke depan.
Perjalanan pun sampai tempat perburuan yang dituju. Kami turun dan membuat kemah di tepi jalan. Biar Ibu dan sopir menjaga mobil dan menyiapkan makan siang. Bapak memintaku agar cepat mempersiapakan senapan dan perlengkapan lainnya. Kami pun mulai memasuki hutan. Hutan nampak sunyi, hanya ada suara belalang dan cericit burung. Tak ada tanda-tanda babi hutan atau menjangan berlalu-lalang. Tak terasa perjalanan hampir satu jam, namun tak selongsong peluru pun yang terlepas dari laras senapan kami. Benar-benar hari yang naas bagi perburuan ini.
Awan mulai menghitam, berarak-arakan melintas di atas kami. Sebentar pasti hujan lebat datang. Bapak pun mengajak agar segera kembali. Tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulut Bapak, hanya isyarat mata dan gelengan kepala yang membuat kami akhirnya membatalkan perburuan selanjutnya. Kami pun bergegas untuk segera sampai di mobil, agar hujan tidak membasahi. Namun setengah jam dari perjalanan, arak-arakan awan hitam bergelimpangan ke arah barat, menjauh dari hutan perburuan, dan berganti menjadi awan cerah, putih bagaikan gumpalan kapas. Di puncak pohon pinus nampak bertenger puluhan burug gagak yang berkaokan. Tak lama kemudia ia berterbangan dan berputar-putar di atas hutan. Suaranya benar-benar menakutkan seolah mereka sedang berkabung. Kami terus saja menlanjutkan perjalanan pulang, tak ada gunanya kembali ke tengah hutan lagi. Benar-benar hari yang sial.
“Hentikan langkahmu, ada jejak babi hutan, jangan menembak” sahut Bapak.
Memang gerakan-gerakan binatang melintasi semak-semak dan dahan-dahan sangat terlihat di depan mata kami. Benar kata Bapak jarak masih cukup jauh, percuma melepaskan tembakan, karena pasti akan meleset. Kami terus berjalan perlahan dan kini hampir merangkak. Terdengar di atas kami, burung-burung gagak terus menerus berkaokan dan berkelayapan. Sedang rombongan babi hutan nampak tidak terpengaruh. Namun suara burung gagak kini mulai bercampur dengan suara-suara mobil yang melintas tak jauh dari tempat kami mengendap-endap. Berarti lokasi ini sudah dekat dengan jalan raya. Lantas apa maunya babi hutan ini, apakah ia akan melintasi jalan raya, menuju hutan sebelah. Tentu saja ini akan lebih menyulitkan, karena bisa jadi begitu dekat jalan raya, mereka akan berlari secepat mungkin untuk menyebrang, lalu masuk hutan kembali. Nampak Bapak memberi isyarat agar aku bersiap-siap. Biasanya Bapak akan menembak duluan, bila masih ada gerakan maka giliranku yang harus membidik. Jika ada gerakan lagi maka Bapak yang harus membidik, demikian juga selanjutnya giliranku lagi. Namun bila tak ada gerakan, maka perlahan kami akan melihat buruan yang terkapar. Tiba-tiba rombongan babi hutan bergerak-gerak tak tentu arah. Dan Bapak menembaki secara membabi buta. Entah kenapa aku terpaku dan tak sanggup berbuat apa-apa.
“Dasar anak tolol!!! Tak tahu situasi! Apa yang bisa diharapkan dari anak seperti kamu!!” dan telapak tangan kanan Bapak mendarat di mukaku. Bapak benar-benar marah. Namun aku diam saja, karena aku merasa bersalah. Meski bibirku mulai berdarah.
Terdengar suara teriakan seseorang dari jalan raya. Dan kami pun segera berlari ke arah suara. Sayup-sayup suara minta tolong begitu dekat, berasal dari perkemahan. Begitu sampai di tempat, Bapak begitu shock, demikian juga aku, melihat Ibu yang terbaring bersimbah darah. Ibu dibopong sang sopir, dan segera dimasukan ke dalam mobil. Kami pun cepat meluncur ke rumah sakit terdekat. Namun mau apa dikata, nyawa Ibu tak bisa ditolong lagi.
Hari-hari berkabung bagi Bapak adalah sepanjang hari setelah kematian Ibu. Perasaan Bapak tak bisa dilukiskan lagi, ia hanya diam dan diam saja. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Dan hari-harinya dihabiskan dengan mengurung diri di dalam kamar, hingga tubuhnya membeku, terbujur di pembaringan, menyusul Ibu.
Bapakku telah pergi, memang. Tapi semua jalan pikirannya telah menjadi hantu, demikian kuat, demikian mendesak. Membelit tubuh dan pikiran kami.
***

*Judul puisi Mardi Luhung, kalimat miring bagian dari puisi tersebut.

Cerpen Dalam Gelap Tanpa Cahaya Bulan dan Bintang

Gb Tamar Saraseh
Sumber Jurnal Cerpen Indonesia Nomor 2, Juni 2002
DALAM GELAP TANPA CAHAYA BULAN DAN BINTANG
Cerpen : S. Yoga

Senja itu, seperti senja-senja yang lain; senja di masa lalu dan mungkin senja di masa depan, temaram merah dengan ufuk-ufuk pancaran langit yang cerah cerlang di sisi atasnya, di sisi bawahnya seperti bara api yang tersulut dari kegelapan bumi, seakan ada tangan-tangan jahat yang menarik dalam gelap. Mengingatkanku akan tungku perapian di dapur nenek, seiring terbayang kaki nenek yang telanjang di dekatkan di perapian, seolah denyut darah tak mau lagi memanasi sekujur tubuh, sehingga perlu penopang dari energi panas yang lain. Tentu karena seorang nenek pasti sudah tua dan perlu penopang untuk hidup. Bara api di senja itu benar-benar mirip mata raksasa yang rakus akan nafsu dunia dan telah malang melintang di dunia angkara murka, dunia yang penuh arak, perempuan jahat memamerkan betis di pinggir jalan, yang puting susunya menyembul dari balik sweter merah, sambil bergincu di setiap waktu, dunia di bawah tanah yang gelap dan lembab, yang jalannya berliku-liku, berserak dan bercecabang, dipenuhi lorong-lorong tanpa cahaya, menuju ke arah barat dunia yang gaib. Dari arah senja nampak kerumunan burung kuntul melambai pulang, berarak melintasi senja ke arah utara, menuju carang di gerumbul pohon bambu tutul, seakan gerombolan gagak yang berkaok-kaok, melintasi cahaya merah, menandakan adanya kematian. Sebentar lagi warna merah temaran akan dikerek diganti kelir gelap oleh tangan-tangan gaib di bawah bumi, atau dari dalam lautan, gelap yang teramat gelap, tanpa lampu dan lilin, sehingga jalan-jalan kampung hanya akan terlihat oleh mata yang berakal sehat dan bermata waras. Gelap akan membentang sepanjang malam, tanpa cahaya bulan dan bintang, langit diselimuti mendung hitam pekat, gelap malam akan memaparkan kisah perjalanan siang yang telah ia tempuh, di mana, ke mana, bagaimana, mengapa, ia bisa bertahan di siang hari yang panas dan gerah, mungkin sembunyi di ketiak bumi. Tentu. Di malam hari dalam gelap tanpa cahaya bulan dan bintang, hanya ditemani dahan-dahan dan batang-batang bergesekan menimbulkan suara derit purbani yang lirih namun memilukan, seolah suara dari jiwa yang kelam muncul dari dasar kematian, dibarengi suara burung hantu yang berkukuk ditiming waktu yang tepat dan mengejutkan, suara jangkerik mengkili telinga, desir ular meraba kulit ari, dan cicak yang menghitung detik menanti hari dan menelusup dalam kesunyian malam.
Seekor kelelawar tiba-tiba menuntun mataku ke arah setangkup benda yang teramat besar dan hitam seperti gundukan tanah atau timbunan sampah di tengah jalan, yang rupanya tidak terlalu besar namun di mataku benda itu rupanya cukup membelalakkan mata dan kuanggap sebuah benda yang besar dan magis hingga akan membawa bencana. Dalam perjalanan sebelumnya jelas-jelas tak ada benda apa pun yang mampu menghalangi mata siapa pun yang berjalan melewati jalan ini. Jalan yang lengang dan lapang. Aku mulai mendekati benda magis, mataku menyelidik dari jarak lima tombak, sebuah keajaiban gelap yang menumpuk di tengah jalan. Pikiranku bekerja perlahan-lahan dan mengendap-endap menyibak sebuah batu yang terbujur kaku dan abadi namun terasa lunak seolah seonggok lempung yang mudah hancur terbujur di bawah cakrawala langit senja. Apa mungkin batu dari langit yang dilempar malaikat yang usil. Atau batu dari jalanan. Siapa yang melempar batu sebesar ini, mungkin orang kuat sehingga serupa batu apa pun mampu ia lempar dan buang. Atau tubuh raksasa yang terbujur di tengah jalan seperti yang dikisahkan nenek dalam dongeng malam, yang kini menjelma di hadapan mata cerlangku dan ingin menampakkan dirinya bahwa raksasa itu benar-benar ada dan nyata di dunia, raksasa yang rakus dan serakah, yang mati di tangan pahlawan rupawan, sebuah pemahaman baru, karena dalam diriku hanya ada cerita bahwa kisah raksasa bisa dijumpai dalam negeri dongeng, namun kenapa nenek di setiap akhir cerinta selalu mengatakan; “maka kamu, bocah bagus, bermata lebar, jangan suka main-main di dekat sungai, nanti dibawa raksasa wewe gombel dengan tangan sebesar batang bambu petung, jari-jari sebesar pisang kepok, payudara panjang dan besar, berayun-ayun hitam kemilau kekanan-kekiri, berkeriput dan bersisik ular, giginya bersiung dan matanya merah menyala, rambut gimbal dan kaki bengkok sebesar kaki gajah yang terserang tumor, dan siap membopongmu ke atas pohon randu alas. Menculik siapa pun yang ia senangi.” Berarti bila nenek mengatakan begitu, maka raksasa itu benar-benar ada. Buktinya banyak orang hilang tak pernah kembali, siapa lagi yang menculik kalau bukan raksasa wewe gombel atau gederuwo yang suka bertindak sewenang-wenang.
Sedikit demi sedikit mata kecilku mulai menemukan titik terang di remang hari akan teka-teki yang sedang kuhadapi, diwarnai cahaya kemerahan yang hampir gelap seluruhnya dan geluduk mulai menguntur dengan kilat menyambar bagai lidah langit yang menjilat tubuh bumi, benda itu menampakkan kekudusan dan kesihiran, sehingga mataku begitu takjub dan menderita karena tak juga mengetahui kebenaran yang nyata dihadapanku, kebenaran yang masih maya dan belum tuntas tergali hingga ke akar-akarnya. Dalam kekhusukan menyelidik, kaki yang bersijingkat perlahan-lahan seperti hendak mencuri sesuatu barang sedangkan jiwanya sebenarnya menolak keras-keras akan perbuatan yang merugikan orang lain, tiba-tiba aku dikejutkan kukuk burung hantu menghentak dari pohon mahoni yang tumbuh menyembul di pinggir jalan, mata hatiku kecut dan mulutku reflek memaki:
“Burung terkutuk! Jatungku hampir copot.”
“Kuk-kuk-kuk-kuk.”
“Diamlah penguasa malam.”
Untuk sementara perjalanan petualangan dalam membuka tabir rahasia akan benda terpuruk menjadi bunyar, dan harus kembali dari titik nol lagi, sehingga pada akhirnya mampu menyusun kronologis dan ujud benda yang sebenarnya. Kikuk mata hatiku segera terobati oleh kejelasan yang sedikit terbuka dari kesamaran maya mata kecilku, sebuah bangkai kerbau terbujur kaku, kakinya menjuntai hitam pekat seolah berminyak. Bukan. Bukan. Bukan bangkai kerbau, namun sesosok lelaki yang terkapar, jelas kontolnya terkulai, dengan luka-luka parah dan melembam di sekujur tubuh. Aku lihat dengan teliti dari jarak satu tombak, mataku berusaha menelanjangi sosok tubuh yang tergeletak, namun aku tak menemukan apa-apa kecuali lelaki yang terluka. Kuberanikan lagi mendekat lebih akrab, hingga kakiku menyentuh, betapa terkejut, ketika menyadari tubuh itu begitu lunak, bukan sesosok tubuh yang biasa kita jumpai, namun sesosok mayat yang terbaring dan hampir membusuk, namun tak ada bau busuk yang menyembul, hanya bau tanah dan bau keringat yang hampir mirip bau minyak menyengat. Tentu bukan mayat yang membusuk, masih bagus keadaannya, hanya tubuhnya jadi lunak dan membengkak. Jelaslah luka-luka yang pernah ia alami tak bisa dikenali lagi dari luka apa ia berasal. Sulit ditebak apakah dari benda tumpul atau dari benda tajam; apa dari selongsong peluru yang merajam, pisau dapur, pisau cukur, sangkur, atau martil dan batu, tak bisa di duga, semuanya membiru dan menampakkan dari kedua jenis benda itu luka lelaki berasal, yang menyatu haru atau tidak dari benda apa pun, namun dari jenis sengatan atau patukan binatang yang berbisa atau dari dalam tubuhnya luka itu berasal, apa mungkin dari racun yang ia teguk, karena juga nampak melepuh, mungkin juga dari cairan panas yang mematikan, semacam air raksa, atau air panas yang disiramkan disekujur tubuh. Tak bisa dicandra dengan persis dan meyakinkan, semuanya membayang penuh keragu-raguan yang abadi, hanya si mayatlah yang tahu mengapa dan bagaimana luka rajam yang sempurna itu berasal, yang akhirnya menghacurkan seluruh tubuh indahnya serta memutuskan satu-satunya nyawa kebanggaannya.
Cahaya merah hampir menghilang. Gelap hampir sempurna. Geluduk terus mengema. Kilatan petir seperti lidah ular menjulur siap menerkam sang mangsa. Namun hujan tak turun. Malam sebentar lagi benar-benar baka. Suara belalang bersautan menemani kesepian. Kesepian yang akut.
Mayat misterius rupanya dipenuhi lalat yang merubung, berdegung-dengung bagai lebah siap menyengat siapa pun yang mendekat. Dengungan-dengungan itu seolah suara-suara dari masa lalu, atau mungkin dari neraka yang membuatku bertambah ketakutan dan undur diri selangkah ke belakang, terbayang dalam khayalan tentang dunia para raksasa dengan binatang-binatang purba menjijikkan. Setelah sejenak aku tersadar pada apa yang tengah kuhadapi, keberanianku kembali bangkit untuk menguak kebenaraan yang harus aku tuntaskan, memahami sedetailnya siapa dan mengapa mayat ini berada di sini. Aku melangkah lagi mendekati mayat yang terbujur melintang di tengah jalan. Kuamati wajahnya yang menghitam dengan cukuran gundul atau memang berkepala plotos yang terbenam dalam lumpur, sehingga sekujur tubuh berwarna hitam, tentu mayat ini pernah tercebur ke dalam kubangan lumpur. Kucermati lagi tubuh mayat nampak telentang di atas tanah, tangan kanan memegang batu sekuat mungkin, seakan ia melawan sebelum ajal menjemput tamat. Sebuah perlawanan yang agung namun tak berdaya melawan musuh-musuh mautnya yang lebih perkasa dan berkuasa atas nasib dirinya, sebuah ajal yang tak diundang, matanya terpejam dan mulutnya tersenyum bangga, seakan mengucapkan selamat tinggal pada dunia yang pernah ia singgahi dan sangat membahagiakan atau mengucapkan selamat tinggal pada anak-anaknya yang jumlahnya belasan, juga pada istri-istrinya yang ditinggal pergi tanpa dapat lagi memberikan nafkah baik lahir maupun batin dan nampak merelakan bila anak-anak dan istri-istrinya kawin lagi dan beranak pinak sebanyak-banyaknya seolah ia bangga akan keturunan-keturunannya, karena ia sangat mempercayai para keturunannya nanti atau yang pernah berhubungan dengan dirinya akan memiliki watak-watak dan kepribadian seperti dirinya, gagah berani melawan kebengisan yang mengacam kehidupan, melawan musuh-musuh hidupnya, melawan siapa pun yang ingin melukai dan mencelakakan jalan hidup keluarga, melawan kebenaran yang selalu ia pegang dan jalankan. Mati satu tumbuh seribu begitu mungkin arti senyum kematian yang telah ia berikan dan menampakkan dalam ujud terakhirnya sebagai manusia, sebelum berubah jadi tanah, sebelum melalang dalam dunia gaib dan lain. Dan ia akan bangga dengan senyum yang dikulum melihat keturunannya melawan musuh-musuh dirinya, musuh-musuh yang berhati jahat. Tentu senyum itu sebagai doa juga atas penyiksaan dirinya yang sama sekali tidak ia restui, sehingga ia mengalami hal yang paling menyakitkan di dunia, dan sebagai doa pula akan keselamatan anak cucu Sulaiman, -begitu mungkin namanya, serta istri-istrinya dalam menegakkan kebenaran.
Aku terus mencandra bagaimana mungkin mayat bisa berada di tengah jalan, mayat yang begitu besar dan berat, siapa yang kuat mengangkat, siapa yang menaruh, bila memakai kendaraan tentu bekas ban akan nampak di jalan tanah, bila digotong beramai-ramai, akan nampak jejak kaki dan sepatu para pengusung, bila digeledek dengan gerobak, akan terlihat kaki-kaki kuda atau sapi, namun di sekitar mayat tidak tampak jejak apa pun, kecuali jejak-jejak kaki kecil mungil tak bersepatu, milikku. Apa mungkin mayat ini sudah ada sejak beberapa hari yang lalu, sehingga jejak-jejaknya sudah terhapus, namun pikiranku segera menyangkal keras akan dugaan tersebut, karena dengan jelas dan yakin, aku telah mengingat-ingat sedalam-dalamnya, dan demi jagad raya yang menyaksikan, aku tidak berdusta, perjalanan sore ketika melintas di jalan ini, ketika menengok nenek di tepi sungai, tak ada mayat satu pun dan benda apa pun yang mencurigakan, bahkan aku ingat di bawah pohon asam aku berhenti sebentar untuk memunguti buah asam yang jatuh berserakan di semak-semak dan ilalang, karena terhempas angin, apa mungkin buah asam berubah jadi mayat. Apa mungkin mayat itu barusan tiba, sebelum aku pulang dari rumah nenek, yang segera setelah mayat diletakkan beramai-ramai, segera jejak-jejak kaki mereka dilenyapkan dengan dahan atau sapu dan dikipasi agar jalan tanah sempurna seperti sedia kala dan terakhir ditaburi daun-daun yang rontok dihembus angin, sambil mereka berjalan mundur ke arah matahari terbenam, tempat gelap akan menjemput, karena pintu hari segera ditutup dan dibukalah pintu malam yang kelam, mereka bisa lenyap di telan malam, tempat sembunyi paling aman sedunia, sehingga tak satu pun orang yang mengira mayat itu barusan diletakkan, dan tak satu pun yang mengira kalau mayat itu mereka yang meletakkan, dan tak satu pun yang dapat melacak siapa yang melakukan, dan tak satu pun yang dapat melacak kenapa mayat itu dibunuh, sebuah taktik yang sempurna untuk menghilangkan jejak, apa pun kejahatan yang ada di dunia, sebuah labirin gila, seakan kelenyapan jejak akan mampu menghapus segala kejahatan yang telah ia lakukan, dan tak akan tercatat dalam ingatan dan sejarah siapa pun, kecuali sejarah dan ingatan si pelaku dan si korban, yang tak mengerti tak akan mengingat selamanya, ingatan hanya akan muncul adanya mayat misterius yang terbujur di tengah jalan, jalan menuju rumahku. Jalan menuju desa perbukitan yang sepi dan jauh dari kepintaran karena kebodohan selalu memayungi dan merestui desaku, sebuah tempat yang strategis untuk melenyapkan jejak kejahatan dan memendam kebenaran dalam gelap malam dan warga desa yang tak satu pun peduli dengan hal usut mengusut. Aku hanya menduga-duga dalam kebingungan yang menampakkan puncaknya pada dahiku yang berkeringat dan mata yang terpejam-pejam dan kaki yang gemetaran serta tangan yang mengaruk-garuk kepala, padahal tak ada yang terasa gatal di kepala dan rambut tak dihuni seekor serangga pun, namun rasa gatal mencabik-cabik dalam otak dan kalbu yang terus mempertanyakan keberadaan diriku dan mayat yang ada di tengah jalan. Kenapa hari ini aku terlibat dalam peristiwa yang misterius, kenapa aku yang harus mengalami bukanya orang lain, kenapa mayat itu ada di tengah jalan, kenapa aku tadi pulang dari rumah nenek harus di sore hari ketika remang senja akan tiba, kenapa aku harus melewati jalan yang sunyi, kenapa tak ada seorang pun kecuali diriku, kenapa ketika pulang dari rumah nenek mataku terlalu cermat melihat apa pun yang ada di sekitar. Andaikan aku terus berlari di tepi jalan tanpa menoleh kanan-kiri tentu sudah sampai rumah dan sekarang pasti sedang bermain-main petak umpet, kuda lumping, jamuran, dengan teman-teman, tak bertemu dengan seonggok mayat misterius.
Aku bertambah heran karena bau mayat tak sebusuk ujud asli, nampak membusuk dengan lalat merubungi dan air mulai mengalir dari tubuh, membengkak dan gembur. Dan apakah mayat ini akan terus membengkak lebih panjang dan lebih besar lagi, tiga kali lipat dari tubuh asli, sehingga seolah-olah ada tiga mayat yang terbujur kaku sebelum membengkak. Tentu tak gampang mengangkat mayat, mungkin tak ada seorang pun di dunia yang mampu mengangkat sendirian, dibutuhkan tak kurang lima belas orang, itu pun harus dipilih dari laki-laki kekar yang terbiasa kerja kasar di pelabuhan, memiliki otot-otot sempurna, tiap hari makan sepuluh piring nasi, lima belas telur angsa sehingga memiliki energi yang cukup besar, hampir seimbang dengan tenaga kuda, atau bahkan harus dibutuhkan jumlah orang lebih banyak lagi, karena selain mengangkat daging busuk, mereka harus mengangkat berliter-liter cairan dalam tubuh mayat, ditambah binatang-binatang yang selalu sigap berkembang biak di dalamnya, mereka akan berjalan lamban, perlahan-lahan seperti semut mengotong mangsa ke liang dalam, tempat semut bersemayam, sebuah lorong gelap tanpa cahaya, dan mereka akan membawa mayat itu ke penguburan di lereng bukit, seperti kereta api menuju senja yang berjalan lamban karena kehabisan batu bara, berapa kali mereka harus berhenti, karena kehabisan energi, karena begitu berat si mayat, semakin lama tentu berat mayat akan bertambah, mungkin binatang di dalam tubuh mayat semakin bertambah banyak, belatung-belatung yang getayangan dan berjibun ribuan jumlahnya siap berkembang dengan hitungan detik, dan air semakin berlimpah berliter-liter dalam tubuh mayat, sehingga mengelembung seperti balon, siap meledak kapan pun ketika titik kulminasi dari tekanan maksimal sudah diambang kritis, dampaknya akan luar biasa, mengagetkan orang di sekitar, dan melukai sebagian orang yang menonton, namun bila yang meledak mayat yang mengelembung, karena batas maksimal sudah tercapai, apa yang akan terjadi, mungkin juga bekas-bekas ledakan yang terdiri dari serpihan daging dan lelehan air busuk, serta belatung-belatung yang bertaburan, akan membuat orang mual dan pusing, lebih parahnya akan menimbulkan penyakit dan bencana yang menakutkan yang membuat seluruh desa terjangkiti penyakit yang akut yang disebabkan oleh penyakit yang ada dalam tubuh si mayat. Di mana paginya sakit sorenya mati, sorenya sakit paginya mati, sebuah pageblug yang ditakuti warga desa, seperti yang pernah terjadi puluhan tahun yang lalu, di mana mayat-mayat bergelimpangan, besar-kecil, tua-muda, lelaki-perempuan. Sebuah pagebluk tentang mayat-mayat yang tak bernama.
Malam benar-benar sempurna. Petir menyambar-nyambar. Hujan mulai turun. Di dalam gelap tanpa cahaya bulan dan bintang aku masih terus tekun memecahkan misteri. Siapa yang melakukan pembunuhan. Dan untuk apa harus membunuh.
***
Ponorogo, 7 Desember 2001

5

Taman Puisi Gelap Surabaya

Suara Karya, Sabtu, 13 Desember 2008
Taman Puisi Gelap Surabaya
Oleh S Yoga
Tak bisa dipungkiri, bahwasanya puisi gelap begitu marak perkembangannya di Jawa Timur, khususnya di Surabaya. Pengistilahan puisi gelap sendiri masih bisa diperdebatkan lagi, juga mutu puisi tidak terkait dengan istilah puisi gelap atau puisi terang. Istilah ini juga sudah biasa digunakan untuk menyebut kecenderungan puisi-puisi dari penyair komunitas Airlangga. Dengan para penyairnya di antaranya W Haryanto, Sihar Ramses Sakti, Indra Tjahyadi, Mashuri, Deny Tri Aryanti, Dheny Jatmiko, Ahmad Faishal dan Puput Amiranti N, coba simak puisi-puisi mereka pada dekade 2000-an hingga sekarang, maka akan terasa kegelapan dan keremang-remangan. Tentu saja hal ini tidak kebetulan semata, karena mereka memang berkembang pada satu komunitas, bermarkas di lingkungan kampus Universitas Airlangga. Namun perlu juga diketahui bahwa meski berada dalam satu komunitas banyak juga penyair yang memilih jalan sendiri, karena demokratisasi dan menghargai perbedaan, lebih ditegakkan daripada mazhab atau ideologi. Misal penyair Panji K Hadi, F Aziz Manna, S Yoga, M Anshor Syahroni, Kadirman, K Yudha Karnanta, St Fatimah, Luska Fitria dan M Aris.
Surealisme

Bila ditelusuri sejarahnya, sebenarnya kecederungan taman puisi gelap Surabaya mulai berkembang pada tahun 1995-an, saat itu mereka gandrung dengan aliran surealisme, super realis, "yang melampaui kenyataan", begitu menurut pencipta istilah tersebut; Guillaume Apollinaire, bagi mereka surealisme adalah jawaban dan gambaran yang tepat dari realitas sosial yang mencekam, represif dan informasi yang tak bisa dipegang kebenarannya. Puisi, Indra Tjahyadi, "Amsal Kekosongan dan Rindu" bisa menjadi petunjuk akan kata-kata atau bahasa yang tak bisa dipercaya, Seperti katamu bulan adalah hantu. Seteguk pekik terlepas/dari negeri raibmu, lebih nyata ketimbang perahu/Bahasa yang diciptakan geludhuk membisukan penglihatanku.
Maka mereka suntuk membaca dan mempelajari surealimse lewat tokohnya Andre Brenton dan penyair Kriapur (Solo) dengan apokaliptiknya. Kalau kita baca karya-karya Kriapur maka kita akan bisa menarik benang merah pada puisi-puisi gelap mereka. Menurut Abdul Hadi W.M dalam acara Cakrawala Sastra Indonesia tahun 2004, ketika menelaah penyair Jawa Timur, di antaranya Indra Tjahyadi dan W Haryanto, ia menyatakan penyair Jawa Timur berkecenderungan apokalipsa, di mana hasrat untuk menunjukkan bahwa zaman kita hidup sekarang ini dipenuhi tanda-tanda buruk yang mengisyaratkan hancurnya tatanan kehidupan sosial dan kebudayaan. Kemudian Nirwan Dewanto dalam kata pengatar antologi puisi, Lima Pusaran, FSS 2007, menyatakan, sejumlah penyair dari Surabaya memang giat dalam sepuluh tahun terakhir. Di antaranya dengan mengusung puisi gelap yang bisa menjelma keajaiban atau keganjilan dengan kocokan maut kata-kata.
Karena kegandrungan penyair komunitas Airlangga akan surealisme maka ketika membuat antologi bersama, mereka beri judul Manifesto Surealisme, sebuah judul yang mengambil pernyataan, manifesto, Andre Brenton, karena pada tahun 1924, penyair Perancis ini, pernah mengeluarkan Manifesto Surealisme. Andre Breton menyerukan pembebasan potensi-potensi terpendam dalam diri manusia, di alam bawah sadar, yang telah terkekang oleh rasio dan kebiasaan. Merayakan alam mimpi dan menekankan bawah sadar. Membiarkan imajinasi liar bekerja secara bebas tanpa kendali nalar dan tata bahasa. Mereka berharap menemukan paduan antar kata dalam sebuah metafor yang mengejutkan dan baru, tidak terpancang pada logika struktural dan konvensi umum sebuah puisi. Mereka mencoba menerapkan temuan psikoanalisis Sigmun Freud dari Austria. Yakni antara naluri-naluri dan hasrat-hasrat utama kita (id) dan corak perilaku kita yang lebih beradab dan rasional (ego).
Puisi gelap atau abstrak, tidak rasional, sebenarnya sudah marak pada tahun 1950-1960, di mana pada waktu itu banyak puisi yang susah dimengerti dan dinikmati. Kemudian muncul juga pada tahun 70 dan 80-an. Seolah gelombang yang secara siklus terus mengempur kesadaran rasional kita di zaman modern. Puisi-puisi gelap penyair koumintas Airlangga ini, seolah-olah melakukan pelarian kedalam keterasingan terhadap pikiran-pikiran pembaca, mengambil jarak, menjauhi akal sehat dan imajinasi pembacanya. Puisi-puisinya sangat subjektif, alienasi dirinya terhadap dunia sekitarnya. Sarat imajinasi, pembebasan imaji, dan metafor, kata-kata adalah imajinasi. Yang seringkali meloncat-loncat, tidak sinkron, retak-retak dari bangunan imaji sebelumnya. Puisi dipahami sebagai sebuah teks (writerlytext) yang cerai berai, retakan-retakan peristiwa. Dalam gelap rimba imajinasi. Kita berharap bisa mendapatkan sejumput kearifan dan keindahan.
Karena itu dalam menelaah puisi, penyair komunitas Airlangga, perlulah juga melihat struktural semiotik dan latar seting sosial budaya. Di mana kondisi sosial dan politik yang sedang berkembang, khususnya pada era Orde Baru, Soeharto, sangat berperan. Namun kegelisahan mereka dalam manifestasinya tidak muncul dalam karya sastra kritik sosial atau puisi protes. Mereka lebih memilih dalam gambaran dari bentuk pemerintahan yang reprensif itu sendiri. Dalam wadah sebuah ekspresi simbolik yang subyektif. Yang mencerminkan sebuah zaman kegelapan, di mana struktur kekuasaan yang otoriter dan militerisme berkembang, keterasingan masyarakat begitu mengedepan. Puisi Deny Tri Aryanti, "Tarian Sebuah Musim", merupakan gambaran dari keterasingan peradaban; Aku tak ingin menjadi abu/saat mayat-mayat menari gemulai/menorehkan darah pada tanah peradaban.
Sikap pejabat negara yang bukan pada batas kewenagannya namun sudah menjadi kesewenang-wenangan yang tak bisa ditoleransi lagi. Hingga puncaknya pada demonstrasi mahasiswa dan terjadilah peristiwa reformasi. Maka bentuk-bentuk puisi mereka benar-benar kelam, cemas, seram, gelap, erotis, liar, sebagai bentuk perlawanan realitas sosial yang ada, yang hinggar bingar dengan kekerasan, penembakan, pembunuhan, pengusuran dan ketidakadilan yang merajalela, di mana hukum menjadi barang dagangan. Puisi Mashuri, "Asu" bisa megambarkan betapa dahsyatnya perubahan sosial yang tak bisa terelakan, namun tak bisa disiasati sehingga mereka menjadi korban yang paling hina, yang digambarkan menjadi anjing, yang nasibnya ditedang kesana kemari tanpa keadilan. Begitu angin menderu, seluruh tubuhku berbulu, gigiku bertaring/ kuku-kukuku runcing. Aku telah menjelma anjing. Lalu aku menunggu/ isyarat, ketika malam telah lengser ke peraduan dan kokok ayam/ pertama menggantikannya untuk kembali bertahta. Ketakutan menebar di udara, seperti aromba busuk yang menusuk paru-paru.
Sehingga wajar bila judul antologi puisi mereka yang serba seram, menakutkan dan liar; Ekspedisi Waktu, Syair Pemanggul Mayat (Indra Tjahyadi), Pengantin Lumpur, Ngaceng (Mashuri), Labirin dari Mata Mayat (W Haryanto). Maupun judul-judul puisi mereka misal; Syair Pemabuk, Lembah Kabut Kematian, Kembali ke Neraka, Hantu Pasir, Hikayat Orang Bangkit dari Kubur, Kubur Panjang, Saksi Kematian, Karnaval Ajal. Kata-kata neraka, maut, labirin, mayat, hantu, kematian, kegelapan dan bayang-bayang seolah-olah menjadi kata-kata kunci dalam puisi-puisi mereka.
Dalam kondisi seperti ini, akhirnya mereka memilih sebuah paradigma atau ideologi dalam perjuangan literernya yakni surealisme yang cenderung kedalam kegelapan, di mana bentuk-bentuk strukturalisme mereka tentang. Hingga bila memahami puisi mereka dengan cara strukturalisme maka akan sia-sia, yang akan ditemui hanyalah kegelapan semata. Karena puisi mereka adalah retakan-retakan realitas yang tidak bisa atau terpahami lagi, karena kegelapan peristiwa yang ada, realitas yang ada bagai jaring-jaring labirin yang tak bisa diurai dan ditemukan siapa pelaku, bagaimana bisa terjadi, apa yang terjadi sebenarnya, dan bagaimana bisa keluar dari kenyataan yang ada. Mereka tak bisa memahami realita itu semua, karena yang ada hanya kabar burung tanpa ada sebuah kebenaran yang bisa diyakini. Bila hingga kini mereka masih tekun menulis dengan cara demikian, puisi gelap, berarti mereka masih meyakini bahwa pada zaman sekarang ini, yang kataya menjunjung demokratisasi dan keterbukaan ternyata masih menyimpan labirin kegelapan yang susah untuk dibongkar, semisal mafia peradilan dan korupsi rente dalam sebuah birokrasi. Di mana irasional kemanusiaan berlangsung.***
S Yoga, Alumnus Sosiologi FISIP Unair Penyair danpemerhati kebudayaan anggota Komite Sastra DK-Jatim.

Panorama Sastra Religius


Surabaya Post, Minggu 16 November 2008
PANORAMA SASTRA RELIGIUS
Oleh : S Yoga

Perkembangan sastra religius di Jawa Timur (Jatim) mungkin kurang menarik bagi generasi muda. Sehingga bila kita cermati, hingga kini jarang terlahir sastrawan muda yang kesadarannya terhadap religi cukup tinggi. Padahal sastra religius merupakan salah satu aset yang sangat penting. Hal ini dikarenakan dukungan secara kultural sudah sangat mencukupi, di mana basis-basis pesantren tersebar di Jatim. Sehingga hal yang pontensial ini hendaknya mampu melahirkan karya-karya religius yang mampu berbicara di tingkat nasional.
Apalagi kita tahu Sumenep merupakan gudangnya penyair religius, misal Abdul Hadi WM, D Zawawi Imron, Jamal D Rahman dan Ahmad Nurullah. Sedangkan dalam bidang prosa ada M Fudoli Zaini (Alm) dengan karya Arafah dan Batu-Batu Setan. Sementara di daerah lain kita mengenal Djamil Suherman (Alm), novelis kelahiran Surabaya, menghasilkan Perjalanan ke Akhirat dan Umi Kulsum, yang karyanya berlatar belakang pesantren. Muhammad Ali (Alm) juga kelahiran Surabaya dengan karya Di Bawah Naungan Al-Qur`an. Namun mereka umumnya malang melintang pada tahun 1960-1970 dan yang lebih muda tahun 1980-1990. Karena itu kita berharap kepada generasi muda, khususnya mereka yang berkomunitas di lingkungan pesantren. Yang jelas memiliki potensi yang lebih daripada mereka yang berada di luar. Karena ajaran dan kehidupan keagaam setiap hari mereka pelajari dan jalani
Pada masa kerajaan-kerajaan di Tanah Air, kita sudah mengenal sastra religi yang pada waktu itu dikenal dengan nama suluk maupun serat. Sehingga kita kenal Suluk Quthub, Suluk Berang-Berang, Suluk Wijil, Suluk Sukma Lelana, Suluk Seh Amongroga, sedangkan serat yang terkenal yang mencerminkan keagamaan adalah Wedhatama dan Wulangreh. Kita juga mengenal adanya lagu atau syair yang diciptakan Sunan Bonang, Tombo Ati dan Sunan Kalijaga, Ilir-ilir dan Kidung Rumeksa Ing Wengi. Tentu saja para sunan menciptakan syair demikian bukan tanpa maksud, karena mereka memahami masyarakat yang senang dengan nyanyian dan gamelan, maka diciptakanlah lagu-lagu yang berisi ajaran tasawuf bagi para pengikutnya. Bahkan hingga sekarang lagu tersebut masih banyak dinyanyikan oleh masayarakat desa dan disenangi oleh banyak orang, seakan-akan sudah menjadi milik masyarakat, guna menetramkan hati dan siar agama.
Ketika menyebut sastra religius, tentu saja yang terngiang dalam pikiran adalah sastra yang menyuarakan keagamaan. Hal ini tidaklah salah, demikian juga ada yang menyebutnya sastra sufi, sastra transendensi dan sastra profetik. Yang kesemuanya bermuara kepada pengertian kesadaran akan rasa ketuhanan, kebenaran yang bersumber pada Tuhan. Dan konsepsi ini bisa berlaku bagi semua agama. Yang di Islam biasanya terfokus pada amar mar’ruf, nahi munkar, tu’ minu billah. Menyuruh berbuat baik, mencegah kemungkaran dan bertaqwa pada Allah.

Pencerahan Rohani
Untuk bisa berbuat sesuai tiga hal tersebut, yang pasti rohani kita harus suci terlebih dahulu. Namun di sisi lain kehidupan kita sekarang ini seringkali tergoda oleh hal-hal duniawai. Karenanya bisa jadi posisi kita berada dalam krisis iman. Belum lagi gempuran materialisme dan sekularisme terus-terusan berada di sekitar kita. Lalu apa yang bisa diperbuat oleh para sastrawan guna menjawab tantangan zaman yang harus segera dibenahi ini. Bagaimana sastrawan Jatim telah mewarnai, memerangi hal-hal buruk yang bisa membuat moral kita terjun bebas menjadi nihil. Alias tak bermoral, yang akhirnya merajalela menjadi kejahatan, yang jauh dari harapan dan kaidah agama. Bahkan bila kita melihat penulis-penulis muda yang ada, seringkali malah berpaling dari sastra religius, dan lebih memilih menekuni sastra liberalisme atau sastra kelamin (mengeksploitasi seks). Dan hal ini akan semakin menjauhkan diri kita untuk mewujudkan kehidupan sastra religius yang lebih berkembang dan sanggup menjawab persoalan kehidupan. Karena krisis iman atau moral hanya bisa diatasi dengan cara meningkatkan transendensi. Sehingga kita semua dapat menemukan pencerahan rohani.
Sementara itu ada pendapat yang mengatakan bahwa karya sastra harus memberi pesan atau amanat yang jelas dan baik. Mengandung nilai-nilai moral yang tinggi. Padahal dalam prakteknya sastra seringkali berlawanan dengan harapan tersebut, karena sastra membeberkan kebobrokan, kenistaan dan kepahitan hidup. Di mana dari kerusakan-kerusakan moral ini akan memuncak dalam sebuah katarsis, pesuncian jiwa. Sehingga dari pengalam membaca sastra, akan kita ambil hikmahnya. Jadi seringkali sastra memberikan pesan atau amanat hanya tersirat saja, tidak tersurat. Dan hal ini membutuhkan diri pembaca untuk aktif berpikir, tidak hanya menerima jadinya saja, yang justru akan membuat diri kita pasif.
Lalu bagaimana mewujudkan karya sastra religius yang bisa dikatakan berhasil, namun juga tidak lepas dari rasa taqwa terhadap Tuhan. Kita tahu pada awal mulanya puisi adalah mantra atau pun doa. Sehingga kehidupan sastra religi, meski pada zaman dulu belum dikenal, sebenarnya sudah ada, yakni dalam ritus-ritus. Sastra religius merupakan doa dalam bentuk ekspresi yang mampu mengetarkan jiwa.
Seringkali kita membaca bahwa sastra religius hanyalah semata-mata memindahkan atau mencomot kata-kata yang ada dalam kitab suci. Sehingga kita tidak menemukan kebaruan dan keunikan di dalamnya. Bahkan sama saja dengan kita mendengarkan rohaniwan berdakwah atau kita membaca buku-buku keagamaan. Padahal bagi seorang penyair yang benar-benar memahami estetika, ia akan dituntut lebih tinggi dalam kemahirannya menerjemahkan doa ke dalam pencitraan baru yang otentik dan kreatif. Kita ambil contoh sebuah puisi, Abdul Hadi WM, Tuhan/Kita begitu dekat/Sebagai api dengan panas/Aku panas dalam apimu/Tuhan/Kita begitu dekat/Seperti kain dengan kapas/aku kapas dalam kainmu/Tuhan/Kita begitu dekan/Seperti angin dan arahnya/Kita begitu dekat/Dalam gelap/kini aku nyala/pada lampu padammu.
Karya ini menunjukkan kedekatan yang sangat intim antara sang penyair dan Tuhannya. Penyair begitu dekat seperti api dan panas, kapas dan kain, angin dan arahnya. Wahdatul wujud begitu sebutanya dalam ilmu tasawuf, sedang dalam mistik Jawa disebut Manunggaling Kawulo Gusti. Menyatunya mahluk dengan Tuhannya. Puisi di atas tidak terjebak dalam konseptual, definitif dan normatif keagamaan. Sehingga justru mampu memberikan pencerahan rohani terhadap pembaca karena sifatnya yang personal, otentik dan sublim. Sehingga mengejutkan dan mampu menciptakan keindahan. Memberikan gambaran penghayatan si penyair akan rasa ketuhanan dengan intreprestasi yang intens dan unik.
Dan salah satu fungsi karya sastra adalah memperingatan sejak dini akan adanya dekadensi moral dan dehumanisasi. Karena itu, ia meruapakan salah satu oase pencerahan. Melihat betapa pentingnya peran sastra religius di masa mendatang, karena rohani kita selalu digempur habis oleh godaan duniawi. Maka kita berharap akan muncul generasi muda para sastrawan di Jatim, yang memiliki daya jelajah religiuitas yang tinggi dalam karya-karyanya. Sehingga dapat menjadi warna tersendiri dalam kehidupan sastra yang selama ini lebih banyak tergoda pada sastra liberal. Tentunya yang benar-benar menjelma menjadi karya sastra yang menyatu antara bentuk dan isi. Mengejutkan, otentik dan tidak normatif. Dan bukan hanya tempelan dogma-dogma agama belaka. Yang justru akan melunturkan nilai-nilai sastra.
***
S Yoga
Penyair dan anggota Komite Sastra DK-Jatim

Rabu, 12 November 2008

Ludruk, Kemerdekaan dan Perlawanan


Surabaya Post, 21 September 2008
LUDRUK, KEMERDEKAAN DAN PERLAWANAN
Oleh : S Yoga

“Bekupon Omahe Doro, Melok Nipon Soyo Sengsoro”.
Begitulah kidungan Cak Durasim, pendiri Ludruk Organizatie (LO) di zaman perjuangan, yang berhasil membangkitkan rasa tidak senang rakyat terhadap Jepang, hingga masuk bui, disiksa tentara Jepang, dan akhirnya meninggal di penjara. Dari fenomena ini, kita tahu bahwa ludruk, sebenarnya merupakan kesenian perlawanan di masa penjajahan, baik itu di masa kolonial Belanda maupun Jepang. Kontribusi ludruk di masa perjuangan kemerdekaan tak bisa diremehkan. Ludruk efektif menghibur masyarakat yang tertekan, tertindas dan lapar, yang dikebiri hak sosial, ekonomi dan politiknya. Sehingga masyarakat ketika menyaksikan pertunjukan ludruk, sekejab bisa terbebas dari segala tekanan hidup dan merasa merdeka. Dan di dalam peristiwa ludruk, yang biasanya terbagi dalam nyanyian, tari remo, kidungan, lawakan dan lakon utama. Para pemain bisa memasukan kidungan atau dialog sambil menyampaikan kritik sosial, yang disebut pasemon, semonan. Di mana kritik tersebut harusnya tidak membuat marah penguasa yang dikritik.

Paranoid
Namun bagi penguasa yang paranoid, ketakutan tanpa sebab, ludruk dipandang membahayakan kekuasaan sehingga hal itu dianggap kegiatan yang subversif. Perlawanan budaya ludruk juga bisa dilihat dari sejarah terbentuknya. Memang ada dua versi dari mana ludruk berasal, yang satu berpendapat ludruk lahir dari Jombang dan yang kedua ludruk berasal dari Surabaya. Ada yang menyatakan pada tahun 1890, ludruk sudah ada, yang serupa badut yang ngamen, mbarang dari rumah ke rumah, dengan tarian yang kakinya menghentak-hetak (gedruk-gedruk) tanah yang kemudian disebut ludruk. Yang disertai nyanyian, dialog dan lawakan dengan cerita yang sederhana atau kisah-kisah kepahlawanan lokal, seperti Cak Sakera dan Sarif Tambak Yoso. Yang biasanya dipentaskan di pesta pernikahan atau pesta rakyat lainnya.
Sebagai teater rakyat atau jalanan, baik jenis ludruk besut, lerok dan ludruk, secara nyata membuat pengisahan sendiri, yang umumnya cerita berpusat pada kebenaran istana atau penguasa. Kini rakyat diberi alternatif pengisahan lewat lakon di dalam ludruk. Pengisahan ini pun tidak mengambil kisah agung-besar, ludruk memberikan spirit perlawanan dengan kisah-kisah lokal, bahkan keseharian. Di sinilah ludruk menemukan jati dirinya sebagai teater rakyat dan agen perubahan, baik di masa kolonial maupun revolusi. Tidak seperti wayang, tari bedaya atau kethoprak yang muncul dari kalangan istana atau kaum elite, yang komunikasinya benar-benar mempertahankan tata bahasa Jawa. Ludruk memakai bahasa rakyat jelata yang cenderung kasar, egaliter, tanpa ungah-unguh. Selain dari sejarah, bahasa dan pengisahan, ludruk juga menunjukkan perlawanan budaya dengan kostum, yang umumnya memakai kaos merah putih dan ini merupakan semangat nasionalisme yang mensimbolkan bendera merah putih. Juga dengan karakter perempuan yang dimainkan oleh laki-laki, hal ini bisa diartikan ejekan pada rakyat yang tidak mau berjuang sebagai seorang banci atau perempuan.
Di zaman kemerdekaan ludruk masih memiliki fungsi kritik sosial, perlawanan, namun di era Orde Baru ludruk benar-benar dibungkam kreatifitasnya, dan dikenakan kaca mata kuda yang hanya boleh melihat dan bersuara satu arah, yakni kebijakan pemerintah versi Orde Baru. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya grup ludruk yang bergabung dengan instansi dan militer. Sebelumnya ludruk juga telah dimanfaatkan oleh partai politik pada tahun 1945-1965, di mana pada masa itu ludruk yang paling populer adalah “Ludruk Marhaen”, yang sempat main di istana negara 16 kali, milik Partai Komunis Indonesia. Saat itu kedudukan ludruk sangat vital dalam mempengaruhi rakyat. Sehingga PKI mengambil kebijakan untuk merekrut ludruk lewat Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) guna menyuarakan partai, tak heran waktu itu banyak orang yang terpengaruh dan bergabung denga PKI, tanpa tahu subtansi visi dan misi yang sebenarnya. Yang akhirnya memunculkan prahara dan kudeta berdarah pada tahun 1948 di Madiun dan 1965 di Jakarta.

Badut Politik
Waktu itu hampir semua partai politik memiliki grup ludruk sebagai corong partai untuk mempengaruhi dan mencari pengikut, khususnya di Jawa Timur, baik yang berbahasa Jawa maupun Madura. Ludruk menjadi primadona partai guna memenangkan pemilu. Di mana para seniman ludruk pun banyak yang akhirnya menjadi anggota partai. Dan fenomena tersebut dalam tataran politik modern saat ini, seniman atau artis menjadi primadona baru untuk mendulang suara partai atau diajukan untuk menjadi bupati, walikota dan gubernur, bahkan dari kalangan artis ada yang berani mencalonkan diri sebagai presiden. Hal ini menunjukan bahwa kebudayaan ternyata juga berpengaruh penting terhadap perjalanan sebuah bangsa, lewat partai politik atau independen. Namun bila tidak sesuai dengan kapasitas yang dimiliki maka hanya akan menjadi badut politik.
Setelah era ludruk ditunggangi partai politik, di zaman Orde Baru nasib ludruk secara politis juga masih sama tragisnya, tidak merdeka dan independen. Ibaratnya keluar dari mulut ular masuk mulut harimau. Maka orientasi ludruk sebagai suara rakyat, aspirasi kaum bawah dengan kritik sosial dan mencoba mempengaruhi kebijakan pemenrintah, lagi-lagi menjadi terbungkam. Karena ludruk dikangkangi militer dan pemerintahan Orde Baru, di mana bermunculan nama-nama ludruk sesuai kesatuan militer; misal Ludruk Wijaya Kusuma yang terbagai hingga 5 unit (grup), di mana grup ludruk tersebut leburan dari Ludruk Marhaen-Surabaya, Anogara-Malang, Uril A-Malang, Tresna Enggal-Surabaya dan Kartika-Kediri. Ketika itu semua ludruk yang ada dibina oleh militer sehingga semua konsep pementasan haruslah sesuai atau mendapat ijin dari militer. Kebebasan berekspresi dan kreatifitas ludruk pun terberangus. Yang ada hanyalah satu suara-arah kebijakan yang sesuai dengan pesanan, sehingga dikenal juga sebagai ludruk pesanan, misal untuk klompecapir. Sebenarnya tidak ada salahnya ludruk menyuarakan pesan kebijakan pemerintah, namun seringkali ketika akan memberikan kritikan hal ini dilarang, yang boleh hanya pujian. Masyarakat pun akhirnya tidak memiliki kepedulian karena bahasa yang digunakan, abstrak, jauh dari kenyataan yang ada, sehingga kaku, tidak seperti aslinya dengan bahasa yang ceplas-ceplos, kasar dan familier.
Ludruk dapat menjadi kitab lupa dan gelak tawa bagi rakyat pada umumnya karena ia menyimpan tradisi dan memori hidup yang tak akan terhapus oleh sejarah apa pun, meski sejarah itu telah direkayasa. Karena ingatan pendukungnya lebih kuat lewat cerita dan humor hitam yang didedahkan. Ia menjadi saksi bagi perjalanan bangsa, ia menjadi ekspresi resistensi bagi rakyat jelata terhadap para penguasa. Karena hakikat ludruk adalah perlawanan yang menyuarakan cita-cita kaum lemah, ia simbol perjuangan mereka yang tertindas dan lahir dari kondisi sosial yang represif. Baik itu secara politis maupun ekonomi, di mana ludruk biasanya mengajarkan kearifan lokal dan ini merupakan perlawanan terhadap kapitalisme. Selain secara tradisi lisan menciptakan identitas lokal para pendukungnya. Secara politik ludruk telah menunjukkan jati dirinya sebagai bentuk subversif dari kebijakan pemerintah yang sewenang-wenang. Sehingga bila kini banyak grup ludruk yang kehilangan orientasi perjuangan tersebut, dengan pasemon dan lawakan yang getir, pahit maka ia sedang menggali kuburnya sendiri. Karena secara perlahan rakyat pastilah akan meninggalkannya. Karena itu spirit ludruk sebagai bentuk perlawanan rakyat terhadap penguasa yang tiran haruslah terus dihidupkan, tentu saja dengan lawakan yang elegan,dan selalu menyerap aspirasi kaum bawah.
Namun kini nasib ludruk sama tidak menentunya dengan nasib rakyat penerima BLT, yang hidup secara subsistensi. Di mana kehidupan ludruk seakan-akan tergantung kepada belas kasihan para pendukungnya. Kadang pentas kadang nganggur, peran pemerintah untuk menghidupkan ludruk pun tidak sungguh-sungguh. Hal ini karena kebijakan pemerintah yang selalu memandang kebudayaan sebagai objek dan dagangan semata. Bukan sebagai ekspresi dan spirit rakyat yang tertekan, di mana roh kearifan lokal bisa memberikan siraman terhadap beban hidup yang mereka alami. Mungkin kalau Cak Durasim saat ini masih hidup, ia akan berkidung: “Bekupon Omahe Doro, Nasib Ludruk Soyo Sengsoro”.
***
Yoga Penyair dan Anggota Komite Sastra DK-Jatim

Selasa, 11 November 2008

Puisi di Kompas 23 Maret 2008


PELANCONG

mereka turun dari kapal di gelap malam
membawa senter, oncor dan peta masa lalu
dan gerimis senja mengantarnya pada hutan belukar
di sebuah tempat yang tak terduga
sebuah semenanjung di sebuah pulau
tempat budak-budak diternak

terdengar lolong serigala di perbukitan
tubuhnya bercahaya di antara bayangan bulan
dan hutan yang terbakar
rupanya bayang-bayang lebih gaib dari pikiran
karena ia selalu lepas dari genggaman

beri aku senapan, beri aku peluru teriakmu
ketika mendengar suara-suara binatang malam
kubisikkan kata-kata muram sebelum matanya lebih jalang
tunggu semua burung-burung pulang ke sarang
agar kau jumpai pikiran lepas dengan badai ingatan

ah kau inlander tahu apa tentang masa lalu
aku pun diam di bawah pohon besar
dekat sebuah makam purba bernisan batu
aku pun tahu sebentar akan sampai pada batas

di pantai ini hanya nasib yang mempertemukan
sebelum esok pagi kita pergi ke besuki
panarukan, panji dan asembagus
melihat pabrik-pabrik dan bising mesin
meminta kita untuk kembali ke masa-masa silam
ketika senjata menjadi panglima
dan pikiran-pikiran berputar-putar pada hasrat dunia
pejamkan matamu dan kau akan melayari semua impian
yang pernah terlupakan, sebelum tergadaikan

di pagi hari di pelabuhan jangkar sebelum gempa
kau memandang kapal-kapal yang berkabut
terdampar di pelupuk matamu yang biru
asap dan bayang-bayang masih menyelimuti
sebuah pulau, nun jauh di sana yang tak terjangkau
seolah diterjunkan dari bukit-bukit tandus
kebun-kebun tebu, sawah dan ladang hangus

dan di pabrik gula, mesin-mesin terus bekerja
memeras keringat dari madu kemurnian
dan sungai-sungai dipenuhi kegelapan
mengalir dari hulu menuju muaramu
sebelum kau layarkan ke pulau-pulau asing
tempat terjauh yang tak pernah kukenal

sebuah gudang tua milik tuan tanah
menyimpan sejarah gelap perbudakan
di ladang tebu, tembakau dan perkebunan
tubuh yang hitam berdiri memandang senja
di antara sihluet patung raksasa berambut gimbal
kau duduk di antara pohon-pohon tua
di pelabuhan kau berteriak, ini juga tanah airku
kau ambil peta dan kau bubuhi tanda
dulu aku juga dilahirkan di sini

aku tenggelam dalam kenangan
bunga harum yang kuharap telah jadi bangkai
ah kau hanya merayu untuk sesuatu yang sesat
ini bukan birahiku di antara sepi dan api
tapi hanyalah lelaki jalang yang mengembara
di antara pulau-pulau yang masih perawan
dan tanah-tanah yang minta diberkahi
aku beri tanda dan kau hanya bisa tengadah
nyalakan obor di kandang dan gubuk sebagai tawanan
hambamu hanyalah hamba yang tunduk pada takdir
kau hanya boleh memainkan kincir di batas mimpi

bau kemarau masih menyimpan tubuhmu dari seberang
di tanah ini telah kau tandai waktu dan sejarah
dengan pabrik, lori, tebu, tembakau dan kapal-kapal
agar masa lalu bisa terulang dan aku terkenang pada noni-noni
ah wajahnya putih susu dan betisnya seharum bunga leli
sedang bau keringatku seapek tembakau di gudang tua
kini kami mainkan tambur dan genderang di ladang-ladang
agar semangat kerja menjadi doa dan pahala

Situbondo, 2008
Kompas, 23 Maret 2008

LAYANG -LAYANG

layang-layang adalah masa kecil yang hilang
ia terbang ke atas dan turun menukik
dan sesekali menyambar-nyambar angin
ketika putus kau terperanggah dan menangis

lalu bangkit dan mengejar-ngejar bayangan
melintasi sawah, ladang, rumah dan menara
ke arah susuh angin yang tak kutahu di mana rimbanya
yang begitu sempurna mempermainkan sayap sihirnya

dalam pengejaran ini aku semakin tercekam
ketika memasuki senja dengan cahaya suram
yang kulihat hanya bayang-bayang gelap
yang mengejar-ngejar dan mempermaikan waktu

Ngawi, 2008
Kompas, 23 Maret 2008

ASMARALAYA

di antara pohon-pohon kamboja
dan rerontokan bunga kenanga
ilalang panjang dan nyanyian rembang

kusaksikan sebuah isyarat senja
di epitat reruntuhan makam
kekasih adalah batu yang dipahat waktu

Ngawi, 2008
Kompas, 23 Maret 2008

Puisi Kompas 14 September 08

PENYAIR LAPAR

ia lupa bila seharian belum makan
ia hanya mengunyah ribuan kata
yang tak bisa membuatnya kenyang
ia singkap makna agar memperoleh terang

agar akar rahasia kata terkuak menjadi tanda
namun makna sembunyi dalam kesunyian
ia selesaikan sebuah puisi
namun hanya deretan bangkai kata

dengan dekoratif imitasi yang menghiasi
ia tahan semua laparnya hingga larut malam
seharian tak mandi dan tak makan
sedang secangkir kopi dan rokok inspirasi

hanya bualan belaka
dan laparnya semakin menjadi
ia lihat komputer menjadi kabur
seolah berada di dalam kabut

kini ia merasa kata-kata mulai berloncatan
berakrobat ria membentuk sebuah puisi
memakai topeng kata untuk merengkuh isi
ketika tersadar dari halusinasi

laparnya semakin menggila
ia lapar rahasia perut
ia lapar rahasia kata
ia lapar rahasia hidup

hingga ia bicara tentang maut
yang hampir menjemput
pada layar komputer
yang kosong

Surabaya, 2008
Kompas, 14 September 2008

GERIMIS

mungkin aku tak pernah
menulis puisi cinta untukmu
seperti sekuncup bunga mekar
di musim hujan
tak mengenal pagi yang cerah
namun tiba-tiba wajahmu
tertunduk memandang senja
yang hampir tenggelam
wajahmu bagai mimpi dalam kesepian
dan bukan kebahagiaan yang pernah kukenal
kusemayamkan kenangan di ruang dalam
tempat keris dan tombak tertidur
kutulis gerimis di alis matamu
yang melengkung bagai bianglala
bukan hujan kemarin yang menggugurkan bunga
namun hanya gerimis lewat
yang menanam jejak dan biji-biji mawar
yang kau cari sepanjang malam
karena ia menyimpan birahi
sepanjang hari
ini bukan puisi cinta tentunya
ketika matamu berkilat-kilat bagai clurit
ingin menebas jantungku yang berdetak
bagai tunas cahaya milikmu
yang kucari dan kupetik dari sinar bulan
seperti wajah ibu yang dulu kukenal
sebelum lenyap ditelan malam
mungkin ia jadi ular
atau perigi tempatku mandi
pagi ini kupetik rasa takut
agar kecemasan umur
tak membuatmu surut
dan membuat kita hanyut
ini hanya jalan kecil
sebelum menuju rumah

Ngawi, 2008
Kompas, 14 September 2008

RINDU

ia putih seperti butiran salju
tapi bukan kapas yang mudah diterbangkan angin
ia tahu dirinya tipis bagaikan kertas
tapi bukan tempat mencatat jejak, kisah dan sejarah

ia hanya menampung luka yang tak pernah sembuh
ia lebih lapar dari ular yang sedang puasa
ia ingin menjadi sepiring daging
agar semua bisa merasakan nyeri

ia lebih mirip darah yang memiliki urat nadi
yang melintasi lorong kegelapan di dalam tubuh
ia pun selalu merindukan sebuah danau
di tengah hutan yang setiap saat bisa ia temui

di mana semua rupa menjadi semu di dalam air
ia ingin menjadi cermin bagi semesta burung-burung
karena ia tahu hanya bayangan yang menipu kenyataan
ia ikhlas akan rasa sakit yang selalu datang setiap saat

ia bukan sosok yang bisa dikenali
ia hanya ingin menjadi api selamanya
agar tabah ia menahan dingin dan sepi
agar tak terasa sakit bila terbakar nanti

Ngawi, 2008
Kompas, 14 September 2008

LUDRUK

ia rias wajahnya agar lebih cantik
ia menjadi sang putri malam ini
bukan sebagai lelaki yang biasa ia lakoni
yang datang dari rasa birahi

di panggung penonton masih sepi
ia ingat bedak terakhir yang tersimpan di laci
agar wajahnya tambah putih bunga leli
menyempurnakan penyamaran hari ini

atas riwayat hidup yang ingin dilupakan
dulu ia pernah menjadi tokoh yang gagal
kini ingin berganti peran dan nasib
agar semua rahasia bisa tersingkap

agar kenangan masa lalu bisa terkubur
dan bayangan sunyi sehabis subuh bisa berganti
ia mondar-mandir di tengah panggung
seperti hendak menanti eksekusi

ia berkidung agar semangat tidak luntur
sementara penabuh gamelan masih tertidur
tukang parkir sudah seminggu libur
ia ke tengah tobong menghitung kursi kosong

ia memandang panggung dan menyaksikan
permainan yang sesungguhnya sedang dimulai
ia lihat bayang-bayang dirinya di jendela kamar
bergincu tebal sambil melambaikan tangan

tanjung perak mas
kapale kobong
monggo mampir mas
kamare kosong

Surabaya, 2008
Kompas, 14 September 2008

KOLAM

di kolam ini
tak kutemukan apa-apa
kecuali suara angin berbisik
airnya dingin seperti tubuhmu

dedaunan rontok di atas air
berayun-ayun ingin kembali ke pinggir

kau nampak hilir mudik
dengan wajah pucat
disaksikan remang bulan di malam hari

kadang-kadang kau terpekur di tepi kolam
sambil memandang kedalaman wajahmu

yang samar terbayang
dihanyutkan gelombang

Ngawi, 2008
Kompas, 14 September 2008

Selasa, 27 Mei 2008

Baca Puisi di TUK



JARAN GOYANG*

mantraku terbang bersama malam bernafsu
adakah yang tak akan goyah karena goda dan rayu
telah kusiapkan uba rampe guna menjebakmu

bunga mawar, kenanga dan kantil
agar engkau selalu terpikat dan kintil
wahai kekasih berelok rupa di singgasana kekal

apakah artinya cahaya wajahmu
bila tak bisa kupandang dan kusayang selalu
hanya bayangan melayang di batas angan dan tabu

bila tak kutemukan sukmamu dalam diri
hanyalah topeng hidup yang kupakai dan kubingkai
tak terwujud kesejatian hidup yang abadi

telah lama kugiring agar semua arwah merayumu
yang tak sudi kupinang karena membenciku
kini kupastikan engkau semakin dekat dengan apiku

yang selalu kunyalakan dengan birahi berbulu
agar harum tubuh menakjubkan rohmu
hingga hati luluh melihat doa malamku

bunga bunga yang mekar dalam hati
pernah kukhidmati di bening telaga mati
wajahmu menjadi murka tanpa cahaya berseri

ingin kugoyang rindang pohon malam para penyamun
yang memayungi semua kegelapan
agar runtuh dan menciptakan cahaya bulan

kau pulang dengan perasaan cemas dan gamang
karena rindu di rumah ada yang hilang
burung hantu telah menyingkir ke kali kuning

anjing malam tak menyalak tunduk ke semak
melihatku dalam ujud buruk merangkak rangkak
menebar benih rajah kesumat di hati yang berjarak

demi cintaku yang purba dan berkabut
apalah artinya kesesatan sesaat yang pucat
bila kebahagiaan yang akan kujumpa lebih nikmat

apalah artinya kegelapan yang menyekap aurat
bila titik terang yang kuduga mudah kudapat
agar jasadmu dapat kuharap dan kujerat

dengan lidi lanang dari surga
yang besarnya tak seberapa
buat kenangan dan kesenangan selamanya

yang abadi di dalam hati dan tak mungkin luput
telah kupilih buah pinang yang kuning langsat
mengingatkanku pada buah kuldi keramat

dengan mayang muda yang mekar dan merak ati
agar tempatmu bertahta menjadi marak keindahan abadi
karena telah kukirim bunga aneka warna nan suci

namun rajah menyerpih kembali bersama kabut
berduyun duyun mengetok pintu hati yang kusut
agar aku tunduk padamu wahai kabut yang kalut

padahal asap dapur telah kumatikan agar tak lewat
tinggal nyala damar di sentong yang mulai larut
doa doa dan ajimat pun kembali tanpa kalimat

dibawa kabar goyah dan kemaruk
dibawa hasrat bergejolak yang remuk
membuat hati luka dan duka berkecamuk

adakah kebahagiaan datang bila selalu dipaksa
ataukah kebahagiaan datang tanpa diminta
bersabarlah demi rasa kalbu nan murni berlaksa

duhai dzat yang agung yang bertahta di altar
datanglah tanpa diundang pergi tanpa diantar
karena kasihmu lebih tinggi dari kasihku yang samar

Sumenep-Ngawi, 2007
*Mantra untuk memikat kekasih.
Kompas, Minggu, 20 Mei 2007

KEONG

perjalanan hanyalah mencari jejak lambang
lambat sebelum ke arah cahaya terang
sungut pun hanya mampu meraba permukaan
tubuhku selalu berdesir ketika berjumpa air bening
bertahun tahun sudah kubersihkan cangkang berlendir
namun selalu kembali ke dalam lumpur
biarlah perjalanan kupahatkan pada gelap malam
agar jiwaku tak karam lagi dan mengungsi ke semak
agar matahari tak menolak ketika kupinang
rencana rencana telah kupetakan di sawah sawah
burung burung hanya menunjukkan jalan
jalan yang lurus tidak berliku dan berjurang
namun burung burung hanya dapat terbang di terang
sedang jauh perjalanan hanya bisa ditempuh
lewat lorong lorong gelap berlumut
akhirnya hanya kelelawar yang menemani
ia pun hanya memberi baju malam yang kelam
ilalang hanya menyibakkan bulu gaibnya
yang akan terbakar esok hari
kalau api itu kawan akan aku ajak menyelam
ke dasar lumpur yang terdalam
agar ia tak panas lagi dan tahu apa harga diri
kutuntaskan saja lendir lendir perjalanan
kuminum sebanyak mungkin air keruh
kumuntahkan dalam setiap doa
kuhancurkan cangkang yang bebal dan tebal
agar aku nampak telanjang di hadapanmu

Sumenep, 2006
Kompas, Minggu, 17 September 2006

ASMARAGAMA

kau adalah rumah
tak terjamah sebelum dosa
seolah gua purba tengah hutan
di antara semak dan ular menjalar
dan gunung kembar yang memancar
hawa panas yang samar

kau berbisik
pada malam berisik
pada hujan gemericik
aku bukan hiasan cawan permata
guna wibawa, kata dan kuasa

di bawah bulan purnama
di pagedongan yang dingin
kau tancapkan keris yang pertama
pada sebatang pisang di hatimu
yang sunyi tak tersentuh
merangsek
airnya mengalir
pada kalbu yang kering
agar benih dapat ditanam

pergilah api panas kesesatan
datanglah air hujan ketabahan
kuterima sebagai berkah di bumi
malam ini hanya ada kera dalam diri
keluarlah dari istana ruh yang suci
bukan tempatmu bertahta

keluarlah air hidup dari penderitaan
hiduplah dalam air perjalanan lambang
telah kusiapkan kolam dalam bagai jiwa yang tenang
ditumbuhi lumut dan gangang masa lalu
akarnya menjerat dan memeluk kesunyian
tempat terbaik untuk samadi
agar nurani tetap pada tujuan

janganlah menang sendiri
pada rasa di kalbu sebelum mati
kecuali raja diraja bertahta cahaya
di singasana kebenaran dan keabadian
kuusap kau merintih dan doa terlepas
kutindih kau meronta dan jiwa lepas tak terkendali
minta darah segar sepanjang hayat
agar rasa hidup tak tawar lagi

malam ini kau welas asih padaku
merayu dan berjanji akan merawat rasa sakit itu
serupa dan sewarna, lahir dan batin
agar benih yang kau pilih sebelum penyesalan
tidak salah asal dan tujuan
agar semua jasad ini sampai padamu

telah kusiapkan dalam bokor, akar kakas
mrica sunti, cabe wungkul, garam lanang
yang telah kutumbuk di dalam hati
demi sang kamajaya dan dewi ratih
yang semayam di lingga dan yoni

besar dan panjang dalam doa
keras dan hangat dalam ihktiar
hangat yang menyaran setiap waktu
empuk yang menyerah pada cahaya
kau pilihkan tempat istirah untukku
agar mencapai kebenaran yang agung
sebelum sampai batas yang membekas
batas yang tak pernah kau tahu
kapan kereta kencana menjemput

Sumenep, 2006
Kompas, Minggu, 25 Juni 2006

CEMARA UDANG
buat d zawawi imron

kau telah renta
dengan suara parau
lukisan lukisan di dinding
semua berbentuk abstrak
yang kulihat hanya sebaris
huruf alif

saban hari kau hanya mengikat diri sendiri
tak jauh dan tak dekat
tak tinggi dan tak pendek
duniamu kini hanya ada di sekitar
bonsai kata kata
kata kata yang kau ambil
dari alam dan semesta
kau bayangkan kata kata
adalah rumahmu sendiri
yang penuh dengan cemara udang
yang kau tanam dalam pot porselin
kau sirami, kau rawat dan kau potong
daun daun kata kata tumbuh ke segala arah
namun kau luruskan lagi ke arah kiblatmu
yang indah dan bersahaja
seindah suara gadis remaja
mengaji di surau senja hari
ayat ayatmu mengalun dari
lembah ke lembah
hati ke hati

di pagi hari cemara udang yang kau bonsai
tumbuh dengan dahan dahan yang lebat dan liar
seperti berkelebatannya kata kata dalam pikiranmu
yang tak tertuang dalam alifmu
kini saban pagi kau tunggui daun kata katamu
yang berguguran ke bumi

Gapura-Sumenep 2005
*Cemara yang berbentuk seperti udang terbalik, banyak tumbuh di Pantai Lobang, Sumenep.
Kompas, Minggu, 6 November 2005

Puisi di Suara Merdeka



JERAMI

kenapa tubuh selalu layu dalam tatapanmu
teronggok di tengah langit kesunyian
meski matahari selalu menyinari
hingga kesempurnaan tak pernah kudapat

hanya embun yang selalu menyelimuti
dan jubah malam yang menemani
pernah kupercaya rindumu akan datang tepat waktu
namun bertahun kutunggu kau tak pernah datang

hanya asap yang kau kirim sebagai isyarat sebab
tubuh menggigil dalam penderitaan tak berkesudahaan
pernah kupinjam tubuh baru dengan warna cerah
jiwa menolak dan ingin kembali padamu jua

warna warna telah kutuangkan ke dalam tubuh
kucat seluruh permukaan, dalam dan ketinggiannya
namun ruangku tak pernah puas dan terjamah
hingga dahaga selalu datang terlambat

dahan dahan muda pernah kusihir menjadi diri
namu wajah tetap sayu tak bisa ditipu dan ditiru
meski tetap tegak berjalan ke arah senja
ketika aku bertanya dengan apa aku dibuat

hanya seekor cacing yang terus menggemburkan tanah
ketika aku bertanya ke mana semua akan berakhir
tak seorang pun mau menjawab dan semua menjauh
hanya cerlang embun yang mengirimkan isyarat langit

ketika aku merenungi semua jawaban
tak kusadari perlahan api dalam diri telah membakar
hingga asap hidup yang bisa kuhirup
sebelum tubuhku membusuk

***
Suara Merdeka, Minggu, 23 Maret 2008

LUMUT

untuk apa aku melawan cahaya
bila semua yang kuperlukan tersedia
kesunyian bukan duka yang harus ditangisi
dingin batu maut yang tumbuh di tubuhku

adalah teman abadi yang mengajak samadi
air telah mendinginkan hati yang mulai mendidih
untuk apa kusuntukkan doa hingga pagi
bila hanya kesementaraan yang kutemui

bila keremangan terus menghayuti bagai malam
itulah hakikat hidup yang kelak kau maknai
sebagai tanda bahwa kau bukan yang abadi
kesempurnaan hanya ada dalam angan

dan hatimu akan luka bila kau terus meminta
agar cahaya membuatmu lebih dari pualam
karena kesepian akan lebih abadi dari kelahiran
angin telah mengabarkan ada yang lebih sesat

daripada memaknai dan menandai jejak perjalanan
bila kau sudi tubuhmu kuminta kembali
agar asin garam, kerikil dan pasir tak melukai lagi
karena cahaya bukan tempatku bertahta

***
Suara Merdeka, Minggu, 23 Maret 2008

LINTAH

permainan permainan cahaya yang kau perankan
dalam air yang bening hanyalah kemilau permukaan
sedang lautan akan selalu meminta hening yang dalam
sedalam lubuk hati yang tak pernah mendesah

telah kucegah darah yang keluar dari kulit ari
agar kau bisa mengembalikan tafsirmu
seperti yang selalu diminta lautan
hanya akan menerima kesetian yang tak cacat

hidupmu penuh perlambang tak terjamah
namun cermin yang selalu kau bawa dalam kegelapan
hanyalah samar menunju satu jalan
hingga kau selalu terjatuh dan tersesat

setiap akan memasuki lobang cahaya
demikian juga aku yang gagal menerjemahkan malam
darah telah kau kumpulkan dalam perjalanan panjang
agar sampai jasadmu ke haribaan

namun darah mudamu diminta untuk disucikan
sedang gelap datang dan menyerbu lubukmu
mataku telah kupinjamkan
agar tajam awasmu dapat menerka

waktu yang terus berputar
seolah warna senja akan segera tiba
sudah kuduga kau tak akan bisa
menjinakkan jentera malam

kupinjami lagi tubuh ini agar bisa menghias diri
agar tubuhmu tidak berledir lagi
hanya satu permintaanku sudikah kau kiranya
memimjamkan nafsumu itu

***
Suara Merdeka, Minggu, 23 Maret 2008

Di Tangkuban Perahu


Sabtu, 24 Mei 2008

Puisi di Jurnal Nasional

LILIN

telah kumusnahkan tubuh yang dulu
hingga dapat kuciptakan bayangan baru
dengan api yang selalu menghabiskan
kepercayaan kepercayaanku telah jatuh

ke dalam jurang jurang malam
pada langit yang tak pernah kujangkau
kuharap kau merunduk dan menciumku
karena hanya ruang yang dapat kupahami

dengan waktu pun aku telah menjauh
karena hanya akan mengekalkan kesunyian
yang selalu kumusuhi dalam mencari terang
aku hanya bertamsil pada angin yang membisu

di atas meja berplitur yang menggoda
debu debu telah bersetubuh dengan waktu
mengincarku dengan bidikan lumpur
agar aku runtuh dalam lobang yang sama

lobang yang pernah kugali saat kejatuhan dulu
saat aku membenci warna yang menyilaukan
ketika aku menyihir bayang bayang
dari kenikmatan kenikmatan dunia

di atas penderitaanmu
memang kebahagiaan yang selalu kucari
dengan api yang menerangi kegelapan
sebelum tubuh habis dilalapnya

***
Jurnal Nasional, 25 Mei 2008

IKAN

bukan aku yang ingin mendustai
sisik sisik ini bukti keremajaanku
meski telah kutempuh berpuluh lautan
jurang, palung dan kapal karam

yang selalu menggoda adalah waktu
yang tak pernah mau menunjukkan arah
hingga cahaya lautan tak dapat kutaklukkan
maka terimalah aku sebagai kepunyaanmu

bila belum dengan apa aku harus datang padamu
akan kuberikan jika kau minta seluruh harta di laut
namun kau hanya mengirimkan isyarat ombak
yang kuterjemahkan dalam ibadah

bahwa keikhlasanku belum sampai batas
kugali lagi darah air agar dapat menjadi bukti
bahwa aku pernah sampai di palung terdalam
untaian untaian mutiara ini buktinya

yang telah kuraih dari mulut tiram yang karam
istana dan kerajaan lautan pun pernah kusinggahi
namun tak kutemukan kau di singgasana
hanya ada jerangkong kosong bermahkota lumut

telah kusihir beribu kuda laut agar takluk
namun desirmu telah menggagalkan semua rencana
padahal pasir pasir telah berjamaah bersamaku
agar selalu setia menemani dalam kesepian

agar selalu setia menemani dalam kegelapan
akan kutunggu dan kujebak kedatanganmu
kusiapkan perangkat doa agar kau menerimaku
sebelum matahari mengeringkan lautan

***
Jurnal Nasional, 25 Mei 2008

TULANG

telah kuterima nasihatmu wahai sang malam
agar aku tabah menerima semua ini
menerima kepurbaan yang terus melapuk
menerima lumpur yang terus menyembur

darah atau lumpur tak pernah kuingat benar
ke dalam pori pori yang tak pernah berkuasa
bukan aku menolak tapi isyarat malam terus menatap
karena matahati telah terkubur di jantung nafsu

dan sumsum hidup telah terhisap ke dalam lambung
aku tak ingin melukai hatimu yang rapuh
dan tak ingin menyempurnakan kefanaanmu
setiap hari aku hanya bercermin pada labirin waktu

yang kuterjemahkan sebagai tugu kesunyian
sebelum kebangkitan cahaya yang pertama
arwahmu telah memintaku untuk kembali
namun aku masih sabar menghadapi kegelapan

***
Jurnal Nasional, 25 Mei 2008

AKIK

telah kuserap semua cahaya yang kukenal
ke dalam diri yang gelap gulita
agar raga dapat kau lihat dengan kemilau
agar kesempurnaan bukan lagi kemustahilan

apa gunanya bertapa di dalam gua
bila batu batu tetap menyertai
tubuh begitu berat sebelum terbasuh dalam air
rasa yang tak pernah kujumpa sebelum kejatuhan

langkah besarku menjadi begitu bebal dan gagal
bila kusidik dari jemari tangan yang hening
gerinda telah membuatku mahir memainkan peran
menggosok tubuh hingga mengilap

jasad yang sebentar tampak indah
lumpur lumpur telah kutaklukkan dalam air bening
telah kusuling menjadi kristal kristal cahaya
sebelum musuh musuhku membuatku lebih berharga

batu mulia kau sebut ragaku yang baru
namun aku undur dalam kata kata mutiara
sebelum para aulia
mempercayai

***
Jurnal Nasional, 25 Mei 2008

MATA

kubenamkan matahati di air hening
ketika subuh mengutusku ke dalam sepi
kubuka jendela dan matahari menghampiri
sisiknya bergelantungan di janggut pepohonan

berkilauan diiringi cericit burung pipit
dengan api pagi kuambil jaketku yang lusuh
siap berangkat bertarung dengan waktu
mataku kini memang sunyi di bawah tatapanmu

tapi percayalah dendam telah kusimpan rapi
di almari hati yang luka oleh kenangan
sebenarnya enggan aku menatap sebening telaga
karena cahaya hanya memantul di permukaan air

ingin aku tenggelam selamanya di dasar kolam
agar raga berlumut dan menebal dalam warna kelam
agar diri terhindar dari gelombang cahaya
telah kusidik luas dan panjang palungmu

dengan mata yang hampir buta karena luasmu
tak mampu kujangkau dan kuukur kekufuran ini
sedang jejak jejak yang pernah tertinggal
hanya samar dan hampir terhapus kitab waktu

batu dan ilalang telah kujinakkan
dalam rumah doa dan savana
agar ia tabah dalam mencari mata sejati
yang berwajah kesunyian

***
Jurnal Nasional, 25 Mei 2008

Mati Suri Teater Jawa Timur


MATI SURI TEATER JAWA TIMUR
Oleh S Yoga

Pada dekade terakhir ini dunia teater Jawa Timur, bahkan Indonesia, benar-benar mengalami kemerosotan. Tidak tampak kelompok teater yang kuat muncul. Kalaupun ada, hanyalah teater-teater dan aktor-aktor lama yang bangkit dan berpentas, misal Teater Koma.

Noorca M.Massardi bahkan meminta Festival Teater Jakarta dibubarkan saja (Kompas,7/1) karena kualitas pesertanya makin merosot jauh. Demikian juga Festival Teater Remaja Jatim yang tak kedengaran gaungnya, meski setiap tahun diadakan.
Ada apa sebenarnya dengan dunia teater kita hingga kini tak memunculkan kekuatan yang dapat dibicarakan di tingkat provinsi atau nasional. Jangan-jangan para pekerja teater belum dapat menyadari bahwa kerja teater sebenarnya bagaikan ilmuwan yang sedang melakukan riset.
Sering saya melihat pementasan teater, baik di daerah maupun di Surabaya, menampilkan naskah yang cenderung tidak memiliki karakter antartokohnya sehingga pementasan seolah suara dari satu karakter. Artinya, kelemahan yang pertama adalah naskah yang sering dibuat sendiri.
Coba kita hitung di antara pementasan yang pernah ada, sangat minim kelompok teater yang berani menampilkan naskah standar. Pada tahun lalu saya mencatat naskah standar ditampilkan ditampilkan dengan cukup bagus oleh kelompok Teater Unisma Malang di Festival Seni Surabaya dengan naskah Aduh (Putu Wijaya), yang berani mengimajinasikan seting dalam sebuah lingkungan pabrik dengan mesin-mesinnya. Sebuah penemuan dan kerja kreatif yang patut diacungi jempol.
Kemudian kelompok Tombo Ati dari Jombang yang menampilkan Kapai-Kapai (Arifin C.Noor) di Cak Durasim. Akan tetapi, kelompok ini agak lemah dalam penyutradaraan karena waktu yang terlalu lama, sedangkan greget pementasan mulai kedodoran. Pilihan naskah standar inilah yang patut ditiru oleh kelompok-kelompok lain kalau benar-benar ingin bermain seni peran, keaktoran.
Pementasan-pementasan yang ada di beberapa kota umumnya menampilkan sebuah pementasan yang mirip-mirip gaya bermainnya Teater Sae, dengan naskah yang serupa ditulis oleh Afrizal Malna. Jangan lupa, sebelum Teater Sae berkecimpung dalam naskah-naskah semacam itu, mereka pernah merajai Festival Teater Jakarta dengan naskah-naskah standar . Ibarat seorang pelukis, mereka ini sudah menguasai lukisan realis terlebih dahulu sebelum melukis surealis atau yang lain.
Namun, yang saya temui dalam pementasan di beberapa kota menampakkan bahwa kelompok teater ini tidak menguasai lukisan realis, tetapi langsung melukis surealis atau absurditas. Ketika diminta untuk melukis realis yang muncul lukisan-lukisan yang lucu dan tak berwatak. Inilah wajah teater kita hari ini, menempuh jalan pintas yang metodologinya sulit untuk dipertanggungjawabkan.
Sebuah kelompok msetinya memiliki jati diri dan bukan jati diri orang lain, kecuali mereka mampu melakukan terobosan kreativitas yang radikal dari pendahulunya. WS Rendra pun pernah melakukan pementasan mini kata, namun ia kembali lagi kepada hakikat teater, yakni seni peran. Bahkan ia mengatakan pementasan semacam itu hanya merupakan eksplorasi dalam metode pelatihan.
Ada beberapa catatan menarik dari pementasan teater di jatim selama ini.
Pertama, merupakan manifestasi dari budaya massa. Banyak pementasan yang menyiratkan adegan sinetron, misteri, detektif, serta banyolan ala Srimulat dan film aksi yang mengharu-biru penonton dengan realitas diangan-angan. Bisa jadi tanpa sadar para pelaku pementasan yang bernapas budaya massa, bersifat menyenangkan, wishful thingking, adalah produk yang gilang-gemilang rekayasa budaya saat ini. Akhirnya yang muncul dipentas tak lain konflik kata-kata, karakter tunggal: flat character. Bentuk seninya masih dicari-cari sehingga kesadaran sosial dan kemasyarakatan menjadi terabaikan.
Kedua, meski pertunjukan dikemas rapi dan baik, berlubang besar kejiwaan tokoh-tokohnya. Kelompok seperti ini sebenarnya cukup menguasai teknik teater, tetapi begitu tergoda dengan hasrat pemberontakannya, tidak sabar dan tidak jeli dalam teknik penyampaian. Rupanya kredo dari kelompok-kelompok ini memang sudah mengkhususkan diri pada teater kesadaran yang didaktis. Jika kelompok-kelompok ini bisa keluar dari rasa “amarah” yang berlebihan, tentu hasilnya akan merupakan bentuk seni yang menarik, berupa suatu gerakan kesadaran. Seni bukan suatu entitas mati. Ia dinamis sejalan dengan kesadaran manusia.
Ketiga, memilih naskah yang sublim, namun ekspresi seninya kurang mendapat porsi yang optimal. Sebenarnya dengan menggarapa dengan lebih jeli lagi mengerahkan segala daya kreativitas untuk mewujudkan kompleksitas karakter: round character. Pementasan mereka akan lebih memberi siraman rohani, batin kita yang merupakan roh dari gerak budaya. Mereka akan mampu menyebarkan gagasan, tematik yang penting guna pencerahan masyarakat yang telah dikepung oleh segala silang-sengkarut kenyataan yang bertambah kompleks dan membingungkan.
Mereka akan mampu merefleksikan daya cipta yang secara sublim dari ruang batin masyarakat yang tengah dibungkam. Bila kelompok-kelompok semacam ini dapat mengoptimalkan bentuk seninya, ia adalah potensi besar.
Keempat, pertunjukan yang penuh dengan konflik kata-kata, konflik fisik, konflik adegan, terampil beratraksi, kayak sirkus, pandai beretorika, mecomot sana-sini istilah yang lagi keren di periklanan, digabungkan dengan teknologi, politik, dan dihampirkan pada agama, jadilah pementasan teater. Ditambah penguasaan medium lewat trik-trik adegan, fragmentasi, jadilah pertunjukan yang menakjubkan inderawi, bagai film futuris atau sirkus. Urusan peran dan jiwa untuk sementara dilupakan.
Dari berbagai kelemahan-kelemahan yang ada, baik kurang optimalnya daya ekspresi,bentuk dan isi, maupun wawasan sastranya, diharapkan pada kesempatan mendatang para pekerja teater dapat membenahinya. Bukan hanya katarsis inderawi semata. Keseimbangan antarkeduanya akan memunculkan kebenaran dalam berkesenian yang bisa menerobos melampaui batas-batas moral, yakni gambaran-gambaran keadaan yang humanis.
Memang karya sastra yang baik juga haruslah menyuarakan semangat zaman, zetgeist. Atau lebih dalam lagi, ia tak akan lekang oleh waktu. Namun, semangat zaman yang temporer dan membabi buta, tak lebih sebagai sebuah propaganda, yang nilainya sesaat. Tak ada kedalaman renungan hidup dan hanyalah merupakan usaha penumpulan kecerdasan dan kehalusan budi kita, tidak memberi keaktifan, pertanyaan, dan kegelisan hidup. Padahal, kerja kebudayaan adalah sebaliknya.
Disinilah letak dilematis ekspresi seni. Di sini pula letak pentingnya kedudukan seni di dalam kehidupan. Ia bukan lokomotif demokrasi, tetapi ia adalah gerak roh budaya demokrasi itu sendiri.

(S Yoga, Penyair dan Pemerhati Teater. Tinggal di Sumenep, Madura).
Pernah dimuat di harian Kompas Edisi Jawa Timur, Sabtu, 3 Februari 2007.

Kamis, 22 Mei 2008

FSS dan 100 Tahun Kebangkitan Nasional

Kompas Jatim, 21 Mei 2008
FSS DAN 100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL
Oleh : S Yoga

Dari tanggal 1-15 Juni nanti, kita akan disuguhi hajatan kebudayaan yang bernama Festival Seni Surabaya (FSS) 2008, dengan mengambil tema “Seratus Tahun Kebangkitan Nasional: Tribute to Surabaya” sebuah tema besar sebenarnya. Namun memang demikian sebuah hajatan sudah umum mengambil tema yang gagah dan mentereng. Dan bila kita cermati kelakuan ini sudah berlangsung sejak zaman kolinial Belanda, yang oleh Clifford Gertz disebut sebagai Negara Panggung. Sebuah negara yang lebih suka mementingkan gebyar atau penampilannya saja.

Tentu saja kita berharap FFS kali ini bisa memaknai kebudayaan secara subtansial. Sehingga relevansi antara kebangkitan nasional dan kontribusi kebudayaan akan kita dapatkan. Khusunya dengan perkembangan dan dinamika kesenian di Surabaya dan Jawa Timur pada umumnya. Yang mana semangat nasionalisme, berupa pencarian jati diri dan identitas lokal yang merupakan spirit penciptaan karya dapat mewarnai dan ditampilkan sebagai kebanggaan Jawa Timur. Baik oleh pementasan teater, tari, seni rupa, musik atau sastra. Yang akhirnya akan memberikan simpati dan semangat para generasi muda untuk berkarya lebih baik lagi.
Bila kita tengok kembali kelahiran Kebangkitan Nasional, yang dipelopori oleh Dr. Boedhi Oetomo, Dr. Cipto Mangunkusumo dan Dr Wahidin Sudiro Husodo, yang ketika itu merupakan mahasiswa kedokteran STOVIA, Jakarta. Sehingga kelahiran organisasi Boedhi Oetomo (BO) pada tanggal 20 Mei 1908, dijadikan tonggak kebangkitan nasional. Yang tahun ini merupakan peringatan yang ke-100 tahun (seabad), sebuah angka yang keramat dan spesial bagi bangsa Indonesia.
Namun demikian seringkali masih terjadi perdebatan, siapa sebenarnya yang layak disebut sebagai tonggak kebangkitan nasional. Karena ada yang berpendapat Syarikat Islamlah (SI) yang merupakan cikal bakalnya karena terlebih dahulu dilahirkan sebelum BO. Yakni pada tanggal 16 Oktober 1905, di Solo dengan tokoh pendirinya Haji Samanhudi dan HOS. Tjokroaminoto berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, Agus Salim dan Abdoel Moeis dari Sumatera Barat, dan AM. Sangaji dari Maluku. Yang justru menentang kolonial Belanda, keanggotannya bersifat kerakyatan dan terbuka. Dalam novel Jejak Langkah-nya Pramoedya Ananta Toer hal itu digambarkan dengan baik.
Sedangkan BO lebih bersifat elitis, banyak dipimpin oleh para ambtennar, pegawai negeri, dan digaji oleh Belanda. Misal BO pertama kali diketuai oleh Raden T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar kepercayaan Belanda, yang memimpin hingga tahun 1911. Kemudian diganti oleh Pangeran Aryo Notodirodjo dari Keraton Paku Alam VIII Yogyakarta. Anggota BO juga merupakan anggota Freemasonry Belanda (Vritmejselareen). Dan pada akhirnya Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, pun keluar dari BO, mungkin karena arah perjuangannya sudah tidak sesuai lagi dengan cita-citanya.
Tentu kita tidak perlu memperdebatkan hal itu lagi, yang lebih penting kita mengetahui sejarahnya dan mengambil hikmah dari cita-cita yang hendak mereka perjuangkan, yakni kebangkitan nasional. Namun apakah kebangkitan nasional atau nasionalisme itu memiliki arti yang subtansial bagi kita semua. Sementara korupsi, kolusi dan nepotisme merajalela di sekitar kita, bahkan yang banyak melakukan adalah para pejabat atau birokrat. Bagaimana hal ini bisa dijelaskan bila dikaitkan dengan cita-cita BO, yang ingin mengangkat nilai-nilai luhur, semangat kebangsaan dan kesadaran terhadap pembangunan. Rupanya cita-cita itu banyak dikhiananti oleh para pejabat sendiri. Dan hal inilah pula yang perlu direspon oleh para penyaji kebudayaan dalam FSS kali ini, sehingga bisa merefleksikan apa sebenarnya yang sedang terjadi dalam masyarakat. Bila tidak yang terjadi hanya nasionalsimse semu yang romantis dan formal, tidak kritis dan konstruktif.

Penyeimbang Kebudayaan
Karena menilik sejarah yang ada sejak zaman kolonial Belanda sebenarnya kebangsaan kita telah dicerai berai dengan politik devide et impera, memecah belah. Dan ada pepatah juga yang menyatakan, Wong Jawa mati dipangku walanda. Hal ini bisa dipahami karena selama penjajahan telah terjadi involusi dibidang ide, cita-cita dan pandangan dunia. Konsep magis religius dan elite birokrasi dari negara panggung pada masa kerajaan macet. Ia harus menyesuaikan diri pada konsep negara birokrasi (beambtenstaat) Belanda. Maka munculah neo priyayi-neo priyayi baru yang lebih patuh kepada Belanda daripada negara. Dalam novel Para Priyayi, Umar Kayam pengarang kelahiran Ngawi, hal itu dijelaskan dengan segala akibat dan resikonya hingga pada masa Orde Baru.
Rupanya masalah kebangkitan nasional juga merupakan tema utama dalam karya sastra, antara lain Umar Kayam, Pramoedya Ananta Toer, Muhammad Yamin, Sutan Takdir Alisjahbana, Y.B. Mangunwijaya, Idrus dengan cerpen Surabayanya (yang mengkritisi arti perjuangan). Dan generasi muda sekarang diharapkan dalam FSS kali ini juga dapat memberikan kontribsui yang berarti tentang makna kebangsaan atau nasionalisme sehingga dapat memberikan kontribusi atau penyeimbangan kebudayaan yang ada. Karena selain rasa kebangsaan yang digerogoti oleh dekadensi moral pribadi masing-masing individu, juga dalam era globalisasi ini, kita telah digempur habis-habisan oleh budaya massa yang bersifat profan dan kapitalis. Di mana di depan ruang tamu kita, sudah siap menyerang budaya barat lewat layar kaca. Sehingga pola hidup kita tiba-tiba telah berubah dari nilai-nilai ketimuran dan kearifan lokal yang ada.
Lalu bagaimana selama ini, semenjak Orde Lama dan Orde Baru kebangkitan nasional dimaknai. Bila kita cermati ada hal yang keliru sehingga masyarakat kita mendapatkan dampaknya, kerapuhan mental, sosial dan ekonomi. Karena semenjak Orde Lama apa yang dikamsud dengan nasionalisme adalah memperkuat negara, terlebih pada masa Orde Baru, sehingga negara merupakan idealisme dari rasa kebangsaan. Yang akhirnya terus-menerus memperkuat birokrasi yang ada. Negara mengontrol konsep jati diri bangsa lewat struktur kekuasaannya. Yang ada adalah nasionalisme negara buka nasionalisme kerakyatan, padahal nasionalisme mestinya milik masyarakat. Sementara semangat kerakyataan; semangat solidaritas sosial dan demokrasi dihindari, dan yang muncul demokrasi seolah-olah. Memperkuat negara dan melemahkan rakyat. Akibatnya ketika terjadi krisis, rakyat tidak dapat mengatasi dirinya sendiri. Terjadilah amuk masa karena krisis ekonomi. Maka jatuhlah Soekarno dan Soeharto lewat cara yang sama.
Untuk itu pentinglah konsep kebudayaan dan nasionalisme yang kritis, kita tengok kembali. Dan lewat FSS kali ini meski dengan tema megah, semua persoalan bangsa dapat dicerna, direfleksikan, dan diambil hikmah untuk mencari jalan keluarnya. Karena pada saat ini, kita juga sedang dihadapkan pada krisis, baik itu krisis pangan, krisis moral dan krisis kepemimpinan yang benar-benar memahami isi hati rakyatnya. Karena yang ada seringkali justru ketika menjabat mereka lupa akan kebutuhan rakyat dan hanya mempertahkan status quo saja.
Tentu kita berharap FSS kali ini bisa berjalan dengan baik, dan para penyajinya pun bisa memberikan susuatu yang dapat menambah wawasan kebangsaan kita dalam arti yang lebih luas. Sehingga terjadi transformasi budaya. Dan di sini pula letak pentingnya kedudukan seni di dalam kehidupan. Ia bukan lokomotif demokrasi tapi ia gerak roh budaya demokrasi itu sendiri. Yang akan membimbing manusia di dalam menempuh perjalanan hidupnya secara lebih manusiawi.
***
Penyair tinggal di Situbondo,
Anggota Komite Sastra DK-Jatim.

Selasa, 13 Mei 2008

Puisi di Suara Pembaharuan

MANTRA

bukan maksudku untuk membuka tabir
atau mempertanyakan takdir
kasihmu seberapa jauh harus kuukur

ketika duka dan kesedihan tak bisa dihitung

lenyaplah segala sesuatu yang tak berwujud
kembalilah kepada batu hitam yang tenggelam di dasar kali
berserakan bersama pasir dan hanyut dibawa gelombang

Situbondo, 2008
Suara Pembaharuan, Minggu, 4 Mei 2008

DI MEJA MAKAN

kita berdua duduk di meja makan
kau minta hidangan yang paling istimewa
sambil menatap mataku tajam-tajam
seolah ada sesuatu yang kurahasiakan

di meja makan kita selalu berharap pada usia
agar tertata sendok dan garpu di tempatnya
angin berhembus seperti ada suara yang hilang
kita diam terpaku sambil mencicipi hidangan terakhir

Ngawi, 2008
Suara Pembaharuan, Minggu, 4 Mei 2008

NEGERI KABUT

di negeri kabut
aku berjalan menyusuri lembah merah
rumput-rumput menyapaku dengan air mata
kupu-kupu berterbangan mengitari jalanku
pohon-pohon menjulang melambaikan tangan kelamnya

Situbondo, 2008
Suara Pembaharuan, Minggu, 4 Mei 2008

CAHAYA

hitam malam menjelmakan bayanganku
seolah karang tua di pantaimu
di atas pasir aku karam dalam gelombang lautmu
namun aku menjadi api di dalam diri
yang akan membakar semua cahaya

Situbondo, 2008
Suara Pembaharuan, Minggu, 4 Mei 2008

TAMU

di antara lonceng gereja dan dentang jam duabelas
tamu-tamu telah pulang dengan jaket tebal dan senapan
di antara jalan penuh api dan dentuman meriam
aku lebih lihai dari bidik dan tatapanmu, bisikmu

Situbondo, 2008
Suara Pembaharuan, Minggu, 4 Mei 2008

ISYARAT

bunyi genting diterpa hujan
bunyi air menetes dari ledeng
di tengah malam yang suwung
hanyalah isyarat waktu yang kau tunggu

Ngawi, 2008
Suara Pembaharuan, Minggu, 4 Mei 2008

TANGAN

ingin kusempurnakan saja dalam kekosongan waktu
hati telah pedih memikirkan semua ini
pikiran telah perih menerjemahkan kegelapan
jantung telah letih berdetak terus menerus

kini setiap hari
aku berjalan-jalan dengan tanganku
pikiran ada di dalam genggaman tangan
aku ingin tanganku menjadi pemimpin selamanya

Situbondo, 2008
Suara Pembaharuan, Minggu, 4 Mei 2008

DI HUTAN

di bawah sinar bulan purnama
nampak bayang-bayang menari-nari
di dalam hutan serigala melolong-lolong
kaki-kakinya gemeresik menginjak dahan kering

pohon-pohon menari-nari bersama sepoi angin
bunga-bunga bermekaran di antara embun
belalang mengerat rakus daun-daun
fajar hari suasana sepi hanya burung berkicau

Situbondo, 2008
Suara Pembaharuan, Minggu, 4 Mei 2008

RUMAH

di rumah ini mimpiku terbang bersama sayap-sayap langit
kuikuti lelawar terbang ke gua-gua gelap tak bertepi
dan menantimu di malam-malam yang sepi

aku menjadi pengelana dalam mencari rindu
ketika kau dendangkan lagu malam
dan tuangkan anggur merah kesenyapan

batu-batu tumbuh di dalam dada
luka-luka telah menua dan memfosil
kerinduan apa yang tak bisa menyatu

Ngawi, 2008
Suara Pembaharuan, Minggu, 4 Mei 2008

LAMUNAN MALAM

sebotol minuman tua dan lamunan malam
telah kutuangkan dalam pikiran
kenangan mulai terkuak timbul tenggelam

hujan telah reda teriakmu
kau terbahak pada mabuk yang pertama
pada sebentang jalan utara

utara yang tak pernah kau tahu
mana selatan dan arah ke rumah
rumah tua yang tak pernah kau singgahi

aku datang teriakmu
namun kembali lagi ke tempat asal
bunyi kentongan bertalu-talu kau merasa ada yang tercuri

atau mungkin ia pergi meninggalkan dirimu
aku ingin pulang, aku ingin pulang, teriaknya
namun kau tak pernah mendengar

Situbondo, 2008
Suara Pembaharuan, Minggu, 4 Mei 2008

Sastra Jawa Timur dan Krisis Kritik Sastra

Sumber, Kompas Jatim, Jumat, 28 Maret 2008
SASTRA JAWA TIMUR DAN KRISIS KRITIK SASTRA
Oleh : S YOGA

Memperhatikan kehidupan sastra di Jawa Timur akhir-akhir ini, nampaknya cukup memprihatinkan. Satu sisi banyak karya-karya sastra yang lahir baik novel, cerpen maupun puisi. Baik itu ditulis oleh pengarang-pengarang senior maupun yang muda-muda. Sementara itu kritik sastra atau kritikus yang muncul di Jawa Timur sangat sedikit. Apalagi kritikus yang muda. Sehingga perbandingan dari jumlah karya sastra dan kritik sastra begitu tidak berimbang. Sehingga karya sastra lahir, tanpa kehadiran kritik sastra. Padahal kehidupan sastra akan dibilang sehat dan baik bila kedua belah pihak, pengarang dan kritikus bisa saling menghasilkan karya. Tentu saja kita berharap kepada para akademis khususnya yang telah banyak mempelajari teori sastra agar bisa menjembatani pengarang dan pembaca lewat kritik sastra maupun sekedar menulis apresiasi sastra.
Di Jawa Timur sendiri banyak bermunculan karya sastra yang bagus. Sebut saja D Zawawi Imron dengan syair-sayir bernuansa agama dan subkultur Madura. Mardi Luhung penyair dari Gresik yang puisi-puisinya di luar kanon sastra yang ada, dengan subkultur pesisir dan gaya Barok, puisi-puisinya pun diakui di tingkat nasional. Belum lagi penyair-penyair semacam Suripan Sadi Hutomo (Alm) yang karyanya bersubkultur Jawa, M Faizi dan M Fauzi dari Sumenep, Mashuri dan Indra Tjahyadi yang surealisme, Tjahjono Widianto, Tjahjono Widarmanto, dan banyak yang lebih muda lagi. Bahkan majalah sastra Horison pada tahun kemarin mengeluarkan edisi khusus Madura.
Dalam bidang cerpen dan novel ada Budi Darma yang karya-karyanya tidak disangsikan lagi kualitas dan karakternya, seperti Olenka yang bergaya stream of consciousness yang pernah menang dalam Lomba Novel DKJ, Muhammad Ali (alm) yang terkenal dengan sastra laparnya, M Fudoli Zaini (alm) yang terkenal dengan cerpen sufi-religiusnya, Suparto Brata, Beni Setia yang juga dikenal sebagai penyair, Zoya Herawati dengan novel etnis Cina Prosesi yang termasuk pemenang Lomba Novel DKJ, Ratna Indraswari Ibrahim dengan sastra human interest dan feminisnya, M Shoim Anwar dengan karya realisme sosialnya, Bonari Nabonenar, Sirikit Syah dengan kumpulan cerpen feminis Harga Perempuan, dan Tan Tjing Siong dengan novel Konser Pasar.
Sedang dari generasi yang lebih muda muncul Lan Fang dengan novel multikultur Jawa-Jepang, Perempuan Kembang Jepun, Sony Karsono yang cerpen-cerpennya memiliki karakter budaya massa, Wina Bojonegoro, Imam Mutarom dengan kumpulan cerpen Rumah yang Tampak Biru oleh Cahaya Bulan yang realisme magis, St Fatimah yang beberapa kali menang dalam berbagi lomba, termasuk cipta cerpen Krakatau Award 2005, Stefany Irawan dengan kumpulan cerpen Tidak Ada Kelinci di Bulan. Dan yang terbaru adalah novel Hubbu, karya Mashuri dari Lamongan, juga seorang penyair, yang mampu memenangkan hadiah utama dalam Lomba Novel DKJ 2006. Novel Hubbu sendiri dapat digolongkan sebagai sastra subkultur pesantren-kejawen, Islam-Jawa, hal ini menunjukkan bahwa di Jawa Timur tidak kekurangan stok sastrawan yang berkualitas dan berkarakter.
Dari karya-karya sastra yang ada di Jawa Timur, ternyata tidak diimbangi oleh telaah atau kritik sastra, baik yang akademik maupun kritik sastra non akademik, yang seimbang dan mumpuni. Seolah para kritikus sastra Jawa Timur hilang bagai ditelan bumi. Para akademik di universitas terlihat hanya mengejar karier dengan penelitian yang akan mendatangkan kredit poin. Intelektualitas mereka kurang terasah untuk berkreativitas. Sehingga seringkali tanpa membaca atau memantau keadaan sastra di Jawa Timur yang sebenarnya, lalu memberikan penilaian yang kurang bertanggungjawab.
Memang sudah sejak lama disinyalir kita mengalami krisis kritik sastra. Kita lihat di Jawa Timur hanya orang itu-itu saja yang melakukan kritik dengan benar, jumlahnya pun hanya sedikit. Di antaranya Budi Darma di Surabaya dan Djoko Sarjono di Malang yang barusan mengelurakan buku kritik sastra tentang kemungkinan eksplorasi teori sastra dan wacana. Sementara kritikus yang lebih muda di antaranya Ribut Wijoto dan Imam Mutarom. Namun jumlah ini masih minim dibanding para penulis karya sastra. Karena itu perlulah diingatkan kembali kepada para akademik, khususnya yang muda-muda, bahwa salah satu tugasnya adalah menumbuh kembangkan intelektualitas dan kreativitas ke tengah masyarakat. Sehingga fungsinya sebagai seorang ahli sastra bisa berguna bagi perkembangan sastra. Karena tak bisa dipungkiri karya dan kritik sastra bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan.
Sebenarnya untuk memunculkan atau merangsang kritikus-kritikus muda agar bersedia menulis, tentunya perlunya pembinaan yang serius, baik itu bagi mahasiswa-mahasiswa maupun dosen-dosen yang berkompeten dibidangnya. Pelajaran terori maupun kritik sastra bukan hanya diarahkan agar mahasiswa mendapatkan nilai baik namun lebih dari itu agar mereka dapat menjadi kritikus sastra yang baik. Teori-teori sastra pun tidak perlu untuk diugemi atau dipathui secara kaku. Karena perlu direnungkan lagi bawa teori sastra tak lebih dan tak kurang dari asumsi-asumsi atau akal sehat untuk mendekati sebuah objek. Justru kalau kita terkukung oleh teori sastra an sich maka tulisan atau temuan kita akan kering dan hasilnya ya itu, itu saja. Karena sastra tak lain dan tak bukan adalah daya ungkap terhadap masalah kehidupan, filsafat dan jiwa. Sehingga ilmu bedah sastra tak jauh dari tujuan karya sastra itu, meski telaah sastra harus mengungkap estetika dibalik karya sastra, baik itu kelebihan maupun kekurangan menurut sudut pandang pisau analisisnya.
Kegalauan para akademik untuk terjun dalam dunia kritik sastra entah karena daya intelektual dan komitmennya sebagai bidang profesi tidak menjanjikan atau karena kegagapan para adademik melihat jurang anatara teori dan karya sastra, yang tidak mampu mereka telaah. Ada baiknya para akademik berani memaksakan diri setiap tahun membuat satu buah buku telaah sastra. Bila hal ini bisa terjadi maka dunia kritik sastra di Jawa Timur akan semarak. Di mana dalam setiap universitas kita jumpai ada beberapa kritikus (akademik) sastra yang berbobot. Dan hal ini akan sangat membantu para pengarang muda untuk meningkatkan kualitas karya-karyanya. Di sisi lain akan menjembatani para pembaca karya sastra dengan pemikiran penulisnya. Dalam kurun lima tahun, bila bisa berlangsung kontinyu maka Jawa Timur akan sangat diperhitungkan dalam dunia sastra Tanah Air.
Tentu saja diperlukan kritik sastra yang konseptual, kritis dan analitis, tidak hanya denyut atau implus saja. Bukan hanya gagah-gagahan dengan teori sastra, tapi selami karya sastra dan urai kelebihan dan kelemahannya secara estetika sastra. Karena seringkali teori sastra tidak mampu memayungi semua karya yang ada. Kritik sastra yang baik adalah kritik yang kreatif dan bernas, mampu menunjukan kelebihan dan kelemahan secara obyektif. Bukan hanya menceritakan kembali isi dan tema karya sastra saja. Karena itu kritik sastra yang baik bisa jadi tidak identik dengan kritik sastra akademik, namun lebih ke kritik sastra kreatif. Dan kritik sastra jenis ini masih jarang kita temui yang ditulis oleh para akademik. Kalau begitu apa boleh buat, ketika kritikus sudah dieksekusi oleh rutinitas, penelitian dan kemalasan intelektual. Terpaksa karya sastra harus berjalan sendirian. Bahkan ironinya seringkali dipuja-puja sendiri oleh komunitasnya atau kenalannya.
***

Bau Busuk di Kamar Mandi


Sumber: Suara Merdeka, 25 Maret 2007
BAU BUSUK DI KAMAR MANDI
Cerpen: S Yoga

Jam berapa sekarang?. Aku berjalan mondar-mandir di dalam kamar mandi. Apakah aku harus berangkat? Rasanya tubuh ini masih bau, aku cium sendiri tubuhku. Apakah aku harus mandi lagi? Rasanya tidak enak kalau tidak mandi lagi. Kenapa tubuh ini akhir-akhir ini baunya tidak enak? Jelas aku takut dan malu sekali bila tercium oleh teman-teman sekantor. Ah kenapa mulutku baunya tidak enak sekali, pantas istriku seringkali tidur di kamar sebelah. Aku harus mandi lagi. Aku tak peduli pertemuan di kantor terlambat. Aku tidak peduli.
Aku terkejut dengan reaksi perutku yang tiba-tiba sakit luar biasa seolah ada yang mencabik-cabik dari dalam. Berarti obat dari dokter itu tak ada artinya. Dokter hanya bilang ini semua ada kaitannya dengan pencernaan. Dan alat pencernaan ada kaitannya dengan menu makanan dan minuman yang saban hari aku santap. Dokter mengingatkan bahwa semua yang dimakan manusia ada sebab akibatnya. Kalau yang dimakan halal keluarnya ya halal. Kalau yang dimakan haram keluarnya ya haram. Kalau kita dapat uang dengan cara yang tidak jujur, dibelikan apa pun juga tidak berguna bahkan bisa mencelakakan kita. Ah ini dokter atau seorang pendakwah.
Aku termenung di atas kloset. Aku merasa sejarah manusia memang selalu kelam. Sejarah manusia memang selalu terluka. Terluka oleh orang lain. Oleh perasaan kita sendiri. Oleh nasib kita yang selalu tidak mujur. Oleh orang-orang yang dekat dengan diri kita. Oleh orang-orang yang kita cintai. Terluka oleh anak-anak kita. Terluka oleh istri tercinta kita. Oleh orang tua kita. Oleh mertua kita. Semua ini bermula dari ayah mertua. Aku diminta segera membuat surat lamaran, temannya sanggup meloloskan, aku tak bisa menolak karena istri mengancam akan pergi kalau aku tidak bisa membahagiakan dirinya pada hari kemudian, katanya dia perlu hidup yang layak dan terpandang. Aku tak bisa berbuat apa-apa.
Aku berdiri menikmati guyuran air dari shower. Semua ini karena istriku. Ya istriku. Aku tahu siapa yang berlaku tidak baik di rumah ini. Sudah tidak beres keluarga ini. Aku sudah merasa sejak dulu ketika aku menikah dengannya. Dulu kelihatan baik. Tapi akhirnya semuanya terbongkar sudah. Betapa malunya aku sebagai kepala keluarga. Memang watak hatinya keras. Tapi apakah ia tidak ingat sebentar lagi akan mati. Apa yang kita cari di dunia? Apakah semua kekayaan akan kita bawa ke alam baka. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan dia. Aku sebagai kepala keluarga rupanya tidak pernah dihormati. Dia pinginnya menang sendiri. Hancur keluarga. Apalagi mulut racunnya, selalu mendidik anak-anaknya agar tidak menghormati ayahnya. Mana ada sekarang anak-anakku yang hormat padaku. Tidak ada. Semua karena perempuan itu. Anak-anak dimanja dengan uang dan materi sehingga selalu menuntut uang padaku. Istriku inginnya mengendalikan keluarga. Ia yang mengatur kehidupan anak-anak. Semua keinginannya harus terwujud meski anak-anak tidak setuju. Jadi obsesi keinginannya ditimpakan pada anak-anaknya yang suruh menjalani. Keberadaanku sebagai suami rasanya tidak diakui lagi. Diremehkan. Tapi biarlah semua itu suatu saat nanti ia pasti akan sadar. Bagaimana harus menegakkan keharmonisan keluarga. Semua itu akhirnya berimbas pada cara kerjaku. Pekerjaanku di kantor secara tidak langsung diatur sama istriku. Sedikit-sedikit aku diminta memark up pengeluaran keuangan untuk keperluan keluarga. Aku harus belikan gelang. Aku harus belikan cincin. Aku harus belikan mobil. Akhirnya aku harus pandai-pandai menyiasati pembukuan. Selama ini berjalan baik-baik saja, karena ada pengertian juga dari atasan. Tapi hari ini aku harus berhadapan dengan petugas komisi pemeriksa keuangan. Betapa mentalku jatuh. Aku takut ketahuan. Aku takut.
Aku duduk di pinggir bak mandi sambil bermain air. Kalau aku pikir-pikir. Kapal ini sudah karam. Untuk apa dipertahankan. Tidak jelas siapa nakhodanya di rumah ini. Mestinya aku. Tapi tiba-tiba istriku yang mengambil alih hanya karena wataknya yang tak mau mengalah dan kehendaknya harus dipatuhi, ia yang mengatur keuangan keluarga. Rasanya aku hanya boneka. Akhirnya keadaan di rumah menjadi kacau, padahal sudah bertahun-tahun kami menikah dan akhir-akhir ini sering bertengkar hanya karena masalah-masalah sepele, berapa kali saja hal ini terjadi, sudah tidak bisa dihitung. Seminggu ia tidak mau bicara denganku.
Dua minggu kemudian aku tidak mau bicara dengannya. Dan tiba-tiba seminggu kemudian tanpa ada yang tahu kami sudah baikan kembali. Sebulan kemudian hal seperti itu berulang kembali. Terus menerus karena hal-hal yang sepele, yang semua itu sebenarnya bersumber pada keinginan-keinginan istriku untuk beli ini itu yang dirasa kurang, ya apalagi kalau bukan keberadaan uang kami yang sudah menipis. Bahkan beberapa kali ia ngungsi ke rumah ayahnya. Hal itu apa contoh yang baik bagi anak-anak.
Sekarang saatnya aku harus mempertanggungjawabkan semuanya. Aku harus menghadapi pemeriksaan dari pengawas keuangan. Apalagi para pegawai pengawas keuangan aku dengar sama sekali tidak mau disogok, tidak mau diajak kerja sama. Aku benar-benar bingung. Selama ini tidak ada yang pernah lolos dari pengawasan pegawai tersebut. Di sisi lain aku sangat hormat kepada petugas penyidik keuangan yang sama sekali masih memegang komitmen moral dalam tugas-tugasnya, sama sekali tidak mau menyalahgunakan jabatan. Andai mereka mau bekerja sama tentu saja mereka akan kaya raya. Karena hampir semua instansi bisa lolos dari jerat hukum tindak pidana korupsi dengan membayar sejumlah uang. Memang dibutuhkan orang-orang seperti mereka untuk membangun bangsa ini. Kalau semua korupsi dapat diberantas, maka orang-orang sepertiku akan berpikir tujuh kali untuk melakukan tindakan tercela ini. Tidak berani korupsi lagi. Para atasan tidak berani lagi seenaknya sendiri mengunakan uang negara untuk memperkaya diri sendiri. Karena semua uang negara pada intinya adalah uang rakyat. Dan para pegawai digaji oleh rakyat. Lewat pajak dan lain sebagainya.
"Ya, sebentar lagi aku harus menemui mereka. Komisi pemeriksa keuangan. Namun rasanya nyaliku kecil. Aku harus bicara apa. Skenario atasan agar aku berbohong dengan mengeluarkan proyek-proyek fiktif, apakah ini berhasil, aku sendiri sangsi, petugas itu sangat jeli. Apa aku terus terang saja bahwa kami telah melakukan penyelewengan keuangan.
"Kalau hal ini aku lakukan hari itu pula rasanya merupakan hari kemenangan bagiku karena aku telah lulus dari ujian hidupi. Aku kembali menjalani hidup yang bersih kembali. Aku masih bingung. Pikiranku kacau. Apa aku melarikan diri saja keluar negeri biar mereka tidak bisa melacak. Aku menghilang dan tak pernah ditemukan. Di sana aku bisa hidup bahagia."
Berjalan hilir mudik bingung bukan main. Apakah aku hadir dalam pertemuan nanti? Apakah aku tetap di sini hingga pertemuan usai? Kalau aku tidak hadir pastilah mereka akan memarahiku bukan main. Kalau aku hadir, semua akan terbongkar. Rasanya yang paling tepat aku harus hadir. Aku harus hadir. Berani berbuat harus berani mempertanggungjawabkan. Inilah hidup. Rasanya lebih baik aku mengikuti semua petunjuk atasan saja. Biarlah kalau ketahuan atasan juga akan kena. Atasan pastilah sudah menyusun pertemuan ini dengan rapi. Atasan tentu sudah punya jalur-jalur yang harus ditutup. Atasan pasti punya backing yang lebih kuat lagi. Jadi kenapa aku harus takut dengan petugas pemeriksa keuangan? Ya aku putuskan untuk berangkat sekarang juga waktu masih cukup. Seperempat jam dari rumah sudah sampai kantor. Aku harus berangkat. Aku harus berani.
Segera memakai baju dan celana, jas, dasi dan sepatu, bercermin, mematut matut diri, siap berangkat. "Tapi bau apa ini yang keluar? Bau apa ini? Busuk sekali. Busuk sekali. Pasti kloset itu. Kubuka kloset. Bukan ternyata. Lalu bau apa. Pastilah bak mandi itu. Tapi nggak ada apa-apa. Tidak ada bangkai. Ini pasti bangkai tikus. Pastilah tikus itu mati di saluran pipa. Kuperiksa saluran pipa. Bukan dari saluran pipa. Kalau dari pipa pastilah baunya busuk sekali di sekitarnya. Lalu bau apa? Apa kaos kaki ini? Tapi barusan dicuci."
Bercermin lalu mencium baju dan tubuh. "Ya, Tuhan bau busuk itu datang dari tubuhku. Ya tubuhku yang berbau busuk. Tubuhku yang kotor. Jiwaku yang kotor. Hatiku yang tercela. Tentu saja dengan bau yang sebusuk ini aku tidak berani menghadap pegawai pemeriksa keuangan. Aku tahu mereka pasti akan mencium bau busukku. Bau yang sangat busuk. Aku tak akan pergi ke kantor. Aku tak berani menghadap. Bau busuk ini harus aku tutupi dengan apa? Dengan apa?" Aku ingat ini mungkin cobaan dari Allah karena dulu Nabi Ayub pernah merasakan sakit yang luar biasa dengan bau busuk menyebar dari koreng yang memenuhi tubuhnya, sehingga istrinya saja enggan untuk melayani bahkan berniat untuk meninggalkan, niatan istrinya ketahuan oleh Nabi Ayub dan beliau bernazar kalau ia sembuh nanti istrinya akan dihukum cambuk seratus kali. Namun karena kesabaran dan ketabahan hati akan cobaan itu beliau akhirnya sehat kembali. Istrinya kemudian dihukum cambuk, tidak seratus kali namun sekali cambuk dengan sapu yang lidi-lidinya kalau dihitung jumlahnya seratus biji.
Aku ambil bedak di tempat rias dekat cermin. Dengan bedak ini baunya akan hilang. Aku taburkan bedak ke wajah dan seluruh tubuh yang sudah berpakaian rapi. Baunya hilang. Aku teriak-teriak sambil berlari-lari. Aku gembira. Aku bahagia. "Bau busuk hilang. Hilang. Oh masih bau! Masih bau busuk! Seolah bau busuk datang dari neraka. Kotoran terbusuk di dunia. Aku harus bersih menghadap petugas peyidik keuangan. Aku harus bersih. Tidak sebusuk ini. Memang baunya luar biasa. Siapa pun pasti akan mencium. Pasti tercium. Sepandai-pandai tupai meloncat suatu saat akan jatuh juga. Sepandai-pandai menyimpan bangkai suatu saat akan tercium juga. Ya hidupku penuh dengan kebusukan. Penuh dengan orang-orang busuk yang berada di sekitarku. Ya semuanya karena uang. Uang dan godaan materilah yang membuat semua bau busuk ini. Rasanya aku sudah menjadi gila sekarang. Aku harus bagaimana?" Aku berlari-lari sendiri di dalam kamar mandi Kalau aku menghadap..."Ah tidak mungkin." Aku berdiri di pinggir bak mandi. "Ah, kacau semua hidup ini. Lebih baik aku mandi lagi biar bersih." Aku masuk bak mandi dengan pakaian lengkap. "Ya, Allah ampunilah aku. Aku kapok. Aku tak akan mengulangi lagi." Kepala aku celup-celupkan ke dalam air, timbul-tenggelam. Aku merasa hati nuraniku yang sering timbul-tenggelam dalam bau busuk kehidupan terus meronta-ronta. "Bau busuk. Busuk sekali. Awas bau busuk.... Awas bau busuk..... Busuk... Busuk..."
Di rumah megah itu tak seorang pun tahu kalau di dalamnya ada seorang yang terus meronta-ronta dalam hidupnya. Hingga waktu berjalan terus tak pernah menggenal ampun menggerus usia kita. ***

Rabu, 07 Mei 2008

Puisi di Kompas



ARCA

adalah sebuah perjalanan menuju batas
sebelum senja dan hujan membasahi
mengungkir dengan tangan-tangan gaibnya
hingga ketelanjangan ini bisa kumengerti

Ngawi, 2008
Kompas, Minggu, 23 Maret 2008

ASMARALAYA

di antara pohon-pohon kamboja
dan rerontokan bunga kenanga
ilalang panjang dan nyanyian rembang

kusaksikan sebuah isyarat senja
di epitat reruntuhan makam
kekasih adalah batu yang dipahat waktu

Ngawi, 2008
Kompas, Minggu, 23 Maret 2008

ULAR

di dalam hujan ia mengembara
di udara dingin dan kabut yang luruh
sesenyap api yang datang

di malam hari ia mengendap dalam dengus tak henti
mengintip bilik ranjang stupa candi
tempat bertapa

kubukakan pintu utara
agar engkau tak malu pada
ketelanjangan ini

di antara payung-payung purba
kau hanya berdiam diri
dengan mata buta

Ngawi, 2008
Kompas, Minggu, 23 Maret 2008

LAYANG -LAYANG

layang-layang adalah masa kecil yang hilang
ia terbang ke atas dan turun menukik
dan sesekali menyambar-nyambar angin
ketika putus kau terperanggah dan menangis

lalu bangkit dan mengejar-ngejar bayangan
melintasi sawah, ladang, rumah dan menara
ke arah susuh angin yang tak kutahu di mana rimbanya
yang begitu sempurna mempermainkan sayap sihirnya

dalam pengejaran ini aku semakin tercekam
ketika memasuki senja dengan cahaya suram
yang kulihat hanya bayang-bayang gelap
yang mengejar-ngejar dan mempermaikan waktu

Ngawi, 2008
Kompas, Minggu, 23 Maret 2008

PELANCONG

mereka turun dari kapal di gelap malam
membawa senter, oncor dan peta masa lalu
dan gerimis senja mengantarnya pada hutan belukar
di sebuah tempat yang tak terduga
sebuah semenanjung di sebuah pulau
tempat budak-budak diternak

terdengar lolong serigala di perbukitan
tubuhnya bercahaya di antara bayangan bulan
dan hutan yang terbakar
rupanya bayang-bayang lebih gaib dari pikiran
karena ia selalu lepas dari genggaman

beri aku senapan, beri aku peluru teriakmu
ketika mendengar suara-suara binatang malam
kubisikkan kata-kata muram sebelum matanya lebih jalang
tunggu semua burung-burung pulang ke sarang
agar kau jumpai pikiran lepas dengan badai ingatan

ah kau inlander tahu apa tentang masa lalu
aku pun diam di bawah pohon besar
dekat sebuah makam purba bernisan batu
aku pun tahu sebentar akan sampai pada batas

di pantai ini hanya nasib yang mempertemukan
sebelum esok pagi kita pergi ke besuki
panarukan, panji dan asembagus
melihat pabrik-pabrik dan bising mesin
meminta kita untuk kembali ke masa-masa silam
ketika senjata menjadi panglima
dan pikiran-pikiran berputar-putar pada hasrat dunia
pejamkan matamu dan kau akan melayari semua impian
yang pernah terlupakan, sebelum tergadaikan

di pagi hari di pelabuhan jangkar sebelum gempa
kau memandang kapal-kapal yang berkabut
terdampar di pelupuk matamu yang biru
asap dan bayang-bayang masih menyelimuti
sebuah pulau, nun jauh di sana yang tak terjangkau
seolah diterjunkan dari bukit-bukit tandus
kebun-kebun tebu, sawah dan ladang hangus

dan di pabrik gula, mesin-mesin terus bekerja
memeras keringat dari madu kemurnian
dan sungai-sungai dipenuhi kegelapan
mengalir dari hulu menuju muaramu
sebelum kau layarkan ke pulau-pulau asing
tempat terjauh yang tak pernah kukenal

sebuah gudang tua milik tuan tanah
menyimpan sejarah gelap perbudakan
di ladang tebu, tembakau dan perkebunan
tubuh yang hitam berdiri memandang senja
di antara sihluet patung raksasa berambut gimbal
kau duduk di antara pohon-pohon tua
di pelabuhan kau berteriak, ini juga tanah airku
kau ambil peta dan kau bubuhi tanda
dulu aku juga dilahirkan di sini

aku tenggelam dalam kenangan
bunga harum yang kuharap telah jadi bangkai
ah kau hanya merayu untuk sesuatu yang sesat
ini bukan birahiku di antara sepi dan api
tapi hanyalah lelaki jalang yang mengembara
di antara pulau-pulau yang masih perawan
dan tanah-tanah yang minta diberkahi
aku beri tanda dan kau hanya bisa tengadah
nyalakan obor di kandang dan gubuk sebagai tawanan
hambamu hanyalah hamba yang tunduk pada takdir
kau hanya boleh memainkan kincir di batas mimpi

bau kemarau masih menyimpan tubuhmu dari seberang
di tanah ini telah kau tandai waktu dan sejarah
dengan pabrik, lori, tebu, tembakau dan kapal-kapal
agar masa lalu bisa terulang dan aku terkenang pada noni-noni
ah wajahnya putih susu dan betisnya seharum bunga leli
sedang bau keringatku seapek tembakau di gudang tua
kini kami mainkan tambur dan genderang di ladang-ladang
agar semangat kerja menjadi doa dan pahala

Situbondo, 2008
Kompas, Minggu, 23 Maret 2008