Selasa, 13 Mei 2008

Puisi di Suara Pembaharuan


MANTRA

bukan maksudku untuk membuka tabir
atau mempertanyakan takdir
kasihmu seberapa jauh harus kuukur

ketika duka dan kesedihan tak bisa dihitung

lenyaplah segala sesuatu yang tak berwujud
kembalilah kepada batu hitam yang tenggelam di dasar kali
berserakan bersama pasir dan hanyut dibawa gelombang

Situbondo, 2008
Suara Pembaharuan, Minggu, 4 Mei 2008

DI MEJA MAKAN

kita berdua duduk di meja makan
kau minta hidangan yang paling istimewa
sambil menatap mataku tajam-tajam
seolah ada sesuatu yang kurahasiakan

di meja makan kita selalu berharap pada usia
agar tertata sendok dan garpu di tempatnya
angin berhembus seperti ada suara yang hilang
kita diam terpaku sambil mencicipi hidangan terakhir

Ngawi, 2008
Suara Pembaharuan, Minggu, 4 Mei 2008

NEGERI KABUT

di negeri kabut
aku berjalan menyusuri lembah merah
rumput-rumput menyapaku dengan air mata
kupu-kupu berterbangan mengitari jalanku
pohon-pohon menjulang melambaikan tangan kelamnya

Situbondo, 2008
Suara Pembaharuan, Minggu, 4 Mei 2008

CAHAYA

hitam malam menjelmakan bayanganku
seolah karang tua di pantaimu
di atas pasir aku karam dalam gelombang lautmu
namun aku menjadi api di dalam diri
yang akan membakar semua cahaya

Situbondo, 2008
Suara Pembaharuan, Minggu, 4 Mei 2008

TAMU

di antara lonceng gereja dan dentang jam duabelas
tamu-tamu telah pulang dengan jaket tebal dan senapan
di antara jalan penuh api dan dentuman meriam
aku lebih lihai dari bidik dan tatapanmu, bisikmu

Situbondo, 2008
Suara Pembaharuan, Minggu, 4 Mei 2008

ISYARAT

bunyi genting diterpa hujan
bunyi air menetes dari ledeng
di tengah malam yang suwung
hanyalah isyarat waktu yang kau tunggu

Ngawi, 2008
Suara Pembaharuan, Minggu, 4 Mei 2008

TANGAN

ingin kusempurnakan saja dalam kekosongan waktu
hati telah pedih memikirkan semua ini
pikiran telah perih menerjemahkan kegelapan
jantung telah letih berdetak terus menerus

kini setiap hari
aku berjalan-jalan dengan tanganku
pikiran ada di dalam genggaman tangan
aku ingin tanganku menjadi pemimpin selamanya

Situbondo, 2008
Suara Pembaharuan, Minggu, 4 Mei 2008

DI HUTAN

di bawah sinar bulan purnama
nampak bayang-bayang menari-nari
di dalam hutan serigala melolong-lolong
kaki-kakinya gemeresik menginjak dahan kering

pohon-pohon menari-nari bersama sepoi angin
bunga-bunga bermekaran di antara embun
belalang mengerat rakus daun-daun
fajar hari suasana sepi hanya burung berkicau

Situbondo, 2008
Suara Pembaharuan, Minggu, 4 Mei 2008

RUMAH

di rumah ini mimpiku terbang bersama sayap-sayap langit
kuikuti lelawar terbang ke gua-gua gelap tak bertepi
dan menantimu di malam-malam yang sepi

aku menjadi pengelana dalam mencari rindu
ketika kau dendangkan lagu malam
dan tuangkan anggur merah kesenyapan

batu-batu tumbuh di dalam dada
luka-luka telah menua dan memfosil
kerinduan apa yang tak bisa menyatu

Ngawi, 2008
Suara Pembaharuan, Minggu, 4 Mei 2008

LAMUNAN MALAM

sebotol minuman tua dan lamunan malam
telah kutuangkan dalam pikiran
kenangan mulai terkuak timbul tenggelam

hujan telah reda teriakmu
kau terbahak pada mabuk yang pertama
pada sebentang jalan utara

utara yang tak pernah kau tahu
mana selatan dan arah ke rumah
rumah tua yang tak pernah kau singgahi

aku datang teriakmu
namun kembali lagi ke tempat asal
bunyi kentongan bertalu-talu kau merasa ada yang tercuri

atau mungkin ia pergi meninggalkan dirimu
aku ingin pulang, aku ingin pulang, teriaknya
namun kau tak pernah mendengar

Situbondo, 2008
Suara Pembaharuan, Minggu, 4 Mei 2008

Tidak ada komentar: