Selasa, 13 Mei 2008

Bau Busuk di Kamar Mandi


Sumber: Suara Merdeka, 25 Maret 2007
BAU BUSUK DI KAMAR MANDI
Cerpen: S Yoga

Jam berapa sekarang?. Aku berjalan mondar-mandir di dalam kamar mandi. Apakah aku harus berangkat? Rasanya tubuh ini masih bau, aku cium sendiri tubuhku. Apakah aku harus mandi lagi? Rasanya tidak enak kalau tidak mandi lagi. Kenapa tubuh ini akhir-akhir ini baunya tidak enak? Jelas aku takut dan malu sekali bila tercium oleh teman-teman sekantor. Ah kenapa mulutku baunya tidak enak sekali, pantas istriku seringkali tidur di kamar sebelah. Aku harus mandi lagi. Aku tak peduli pertemuan di kantor terlambat. Aku tidak peduli.
Aku terkejut dengan reaksi perutku yang tiba-tiba sakit luar biasa seolah ada yang mencabik-cabik dari dalam. Berarti obat dari dokter itu tak ada artinya. Dokter hanya bilang ini semua ada kaitannya dengan pencernaan. Dan alat pencernaan ada kaitannya dengan menu makanan dan minuman yang saban hari aku santap. Dokter mengingatkan bahwa semua yang dimakan manusia ada sebab akibatnya. Kalau yang dimakan halal keluarnya ya halal. Kalau yang dimakan haram keluarnya ya haram. Kalau kita dapat uang dengan cara yang tidak jujur, dibelikan apa pun juga tidak berguna bahkan bisa mencelakakan kita. Ah ini dokter atau seorang pendakwah.
Aku termenung di atas kloset. Aku merasa sejarah manusia memang selalu kelam. Sejarah manusia memang selalu terluka. Terluka oleh orang lain. Oleh perasaan kita sendiri. Oleh nasib kita yang selalu tidak mujur. Oleh orang-orang yang dekat dengan diri kita. Oleh orang-orang yang kita cintai. Terluka oleh anak-anak kita. Terluka oleh istri tercinta kita. Oleh orang tua kita. Oleh mertua kita. Semua ini bermula dari ayah mertua. Aku diminta segera membuat surat lamaran, temannya sanggup meloloskan, aku tak bisa menolak karena istri mengancam akan pergi kalau aku tidak bisa membahagiakan dirinya pada hari kemudian, katanya dia perlu hidup yang layak dan terpandang. Aku tak bisa berbuat apa-apa.
Aku berdiri menikmati guyuran air dari shower. Semua ini karena istriku. Ya istriku. Aku tahu siapa yang berlaku tidak baik di rumah ini. Sudah tidak beres keluarga ini. Aku sudah merasa sejak dulu ketika aku menikah dengannya. Dulu kelihatan baik. Tapi akhirnya semuanya terbongkar sudah. Betapa malunya aku sebagai kepala keluarga. Memang watak hatinya keras. Tapi apakah ia tidak ingat sebentar lagi akan mati. Apa yang kita cari di dunia? Apakah semua kekayaan akan kita bawa ke alam baka. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan dia. Aku sebagai kepala keluarga rupanya tidak pernah dihormati. Dia pinginnya menang sendiri. Hancur keluarga. Apalagi mulut racunnya, selalu mendidik anak-anaknya agar tidak menghormati ayahnya. Mana ada sekarang anak-anakku yang hormat padaku. Tidak ada. Semua karena perempuan itu. Anak-anak dimanja dengan uang dan materi sehingga selalu menuntut uang padaku. Istriku inginnya mengendalikan keluarga. Ia yang mengatur kehidupan anak-anak. Semua keinginannya harus terwujud meski anak-anak tidak setuju. Jadi obsesi keinginannya ditimpakan pada anak-anaknya yang suruh menjalani. Keberadaanku sebagai suami rasanya tidak diakui lagi. Diremehkan. Tapi biarlah semua itu suatu saat nanti ia pasti akan sadar. Bagaimana harus menegakkan keharmonisan keluarga. Semua itu akhirnya berimbas pada cara kerjaku. Pekerjaanku di kantor secara tidak langsung diatur sama istriku. Sedikit-sedikit aku diminta memark up pengeluaran keuangan untuk keperluan keluarga. Aku harus belikan gelang. Aku harus belikan cincin. Aku harus belikan mobil. Akhirnya aku harus pandai-pandai menyiasati pembukuan. Selama ini berjalan baik-baik saja, karena ada pengertian juga dari atasan. Tapi hari ini aku harus berhadapan dengan petugas komisi pemeriksa keuangan. Betapa mentalku jatuh. Aku takut ketahuan. Aku takut.
Aku duduk di pinggir bak mandi sambil bermain air. Kalau aku pikir-pikir. Kapal ini sudah karam. Untuk apa dipertahankan. Tidak jelas siapa nakhodanya di rumah ini. Mestinya aku. Tapi tiba-tiba istriku yang mengambil alih hanya karena wataknya yang tak mau mengalah dan kehendaknya harus dipatuhi, ia yang mengatur keuangan keluarga. Rasanya aku hanya boneka. Akhirnya keadaan di rumah menjadi kacau, padahal sudah bertahun-tahun kami menikah dan akhir-akhir ini sering bertengkar hanya karena masalah-masalah sepele, berapa kali saja hal ini terjadi, sudah tidak bisa dihitung. Seminggu ia tidak mau bicara denganku.
Dua minggu kemudian aku tidak mau bicara dengannya. Dan tiba-tiba seminggu kemudian tanpa ada yang tahu kami sudah baikan kembali. Sebulan kemudian hal seperti itu berulang kembali. Terus menerus karena hal-hal yang sepele, yang semua itu sebenarnya bersumber pada keinginan-keinginan istriku untuk beli ini itu yang dirasa kurang, ya apalagi kalau bukan keberadaan uang kami yang sudah menipis. Bahkan beberapa kali ia ngungsi ke rumah ayahnya. Hal itu apa contoh yang baik bagi anak-anak.
Sekarang saatnya aku harus mempertanggungjawabkan semuanya. Aku harus menghadapi pemeriksaan dari pengawas keuangan. Apalagi para pegawai pengawas keuangan aku dengar sama sekali tidak mau disogok, tidak mau diajak kerja sama. Aku benar-benar bingung. Selama ini tidak ada yang pernah lolos dari pengawasan pegawai tersebut. Di sisi lain aku sangat hormat kepada petugas penyidik keuangan yang sama sekali masih memegang komitmen moral dalam tugas-tugasnya, sama sekali tidak mau menyalahgunakan jabatan. Andai mereka mau bekerja sama tentu saja mereka akan kaya raya. Karena hampir semua instansi bisa lolos dari jerat hukum tindak pidana korupsi dengan membayar sejumlah uang. Memang dibutuhkan orang-orang seperti mereka untuk membangun bangsa ini. Kalau semua korupsi dapat diberantas, maka orang-orang sepertiku akan berpikir tujuh kali untuk melakukan tindakan tercela ini. Tidak berani korupsi lagi. Para atasan tidak berani lagi seenaknya sendiri mengunakan uang negara untuk memperkaya diri sendiri. Karena semua uang negara pada intinya adalah uang rakyat. Dan para pegawai digaji oleh rakyat. Lewat pajak dan lain sebagainya.
"Ya, sebentar lagi aku harus menemui mereka. Komisi pemeriksa keuangan. Namun rasanya nyaliku kecil. Aku harus bicara apa. Skenario atasan agar aku berbohong dengan mengeluarkan proyek-proyek fiktif, apakah ini berhasil, aku sendiri sangsi, petugas itu sangat jeli. Apa aku terus terang saja bahwa kami telah melakukan penyelewengan keuangan.
"Kalau hal ini aku lakukan hari itu pula rasanya merupakan hari kemenangan bagiku karena aku telah lulus dari ujian hidupi. Aku kembali menjalani hidup yang bersih kembali. Aku masih bingung. Pikiranku kacau. Apa aku melarikan diri saja keluar negeri biar mereka tidak bisa melacak. Aku menghilang dan tak pernah ditemukan. Di sana aku bisa hidup bahagia."
Berjalan hilir mudik bingung bukan main. Apakah aku hadir dalam pertemuan nanti? Apakah aku tetap di sini hingga pertemuan usai? Kalau aku tidak hadir pastilah mereka akan memarahiku bukan main. Kalau aku hadir, semua akan terbongkar. Rasanya yang paling tepat aku harus hadir. Aku harus hadir. Berani berbuat harus berani mempertanggungjawabkan. Inilah hidup. Rasanya lebih baik aku mengikuti semua petunjuk atasan saja. Biarlah kalau ketahuan atasan juga akan kena. Atasan pastilah sudah menyusun pertemuan ini dengan rapi. Atasan tentu sudah punya jalur-jalur yang harus ditutup. Atasan pasti punya backing yang lebih kuat lagi. Jadi kenapa aku harus takut dengan petugas pemeriksa keuangan? Ya aku putuskan untuk berangkat sekarang juga waktu masih cukup. Seperempat jam dari rumah sudah sampai kantor. Aku harus berangkat. Aku harus berani.
Segera memakai baju dan celana, jas, dasi dan sepatu, bercermin, mematut matut diri, siap berangkat. "Tapi bau apa ini yang keluar? Bau apa ini? Busuk sekali. Busuk sekali. Pasti kloset itu. Kubuka kloset. Bukan ternyata. Lalu bau apa. Pastilah bak mandi itu. Tapi nggak ada apa-apa. Tidak ada bangkai. Ini pasti bangkai tikus. Pastilah tikus itu mati di saluran pipa. Kuperiksa saluran pipa. Bukan dari saluran pipa. Kalau dari pipa pastilah baunya busuk sekali di sekitarnya. Lalu bau apa? Apa kaos kaki ini? Tapi barusan dicuci."
Bercermin lalu mencium baju dan tubuh. "Ya, Tuhan bau busuk itu datang dari tubuhku. Ya tubuhku yang berbau busuk. Tubuhku yang kotor. Jiwaku yang kotor. Hatiku yang tercela. Tentu saja dengan bau yang sebusuk ini aku tidak berani menghadap pegawai pemeriksa keuangan. Aku tahu mereka pasti akan mencium bau busukku. Bau yang sangat busuk. Aku tak akan pergi ke kantor. Aku tak berani menghadap. Bau busuk ini harus aku tutupi dengan apa? Dengan apa?" Aku ingat ini mungkin cobaan dari Allah karena dulu Nabi Ayub pernah merasakan sakit yang luar biasa dengan bau busuk menyebar dari koreng yang memenuhi tubuhnya, sehingga istrinya saja enggan untuk melayani bahkan berniat untuk meninggalkan, niatan istrinya ketahuan oleh Nabi Ayub dan beliau bernazar kalau ia sembuh nanti istrinya akan dihukum cambuk seratus kali. Namun karena kesabaran dan ketabahan hati akan cobaan itu beliau akhirnya sehat kembali. Istrinya kemudian dihukum cambuk, tidak seratus kali namun sekali cambuk dengan sapu yang lidi-lidinya kalau dihitung jumlahnya seratus biji.
Aku ambil bedak di tempat rias dekat cermin. Dengan bedak ini baunya akan hilang. Aku taburkan bedak ke wajah dan seluruh tubuh yang sudah berpakaian rapi. Baunya hilang. Aku teriak-teriak sambil berlari-lari. Aku gembira. Aku bahagia. "Bau busuk hilang. Hilang. Oh masih bau! Masih bau busuk! Seolah bau busuk datang dari neraka. Kotoran terbusuk di dunia. Aku harus bersih menghadap petugas peyidik keuangan. Aku harus bersih. Tidak sebusuk ini. Memang baunya luar biasa. Siapa pun pasti akan mencium. Pasti tercium. Sepandai-pandai tupai meloncat suatu saat akan jatuh juga. Sepandai-pandai menyimpan bangkai suatu saat akan tercium juga. Ya hidupku penuh dengan kebusukan. Penuh dengan orang-orang busuk yang berada di sekitarku. Ya semuanya karena uang. Uang dan godaan materilah yang membuat semua bau busuk ini. Rasanya aku sudah menjadi gila sekarang. Aku harus bagaimana?" Aku berlari-lari sendiri di dalam kamar mandi Kalau aku menghadap..."Ah tidak mungkin." Aku berdiri di pinggir bak mandi. "Ah, kacau semua hidup ini. Lebih baik aku mandi lagi biar bersih." Aku masuk bak mandi dengan pakaian lengkap. "Ya, Allah ampunilah aku. Aku kapok. Aku tak akan mengulangi lagi." Kepala aku celup-celupkan ke dalam air, timbul-tenggelam. Aku merasa hati nuraniku yang sering timbul-tenggelam dalam bau busuk kehidupan terus meronta-ronta. "Bau busuk. Busuk sekali. Awas bau busuk.... Awas bau busuk..... Busuk... Busuk..."
Di rumah megah itu tak seorang pun tahu kalau di dalamnya ada seorang yang terus meronta-ronta dalam hidupnya. Hingga waktu berjalan terus tak pernah menggenal ampun menggerus usia kita. ***

Tidak ada komentar: