Sabtu, 21 Juni 2014
Puisi Propaganda
Senin, 22 November 2010
Puisi di Suara Merdeka, 12 Desember 2010
MERAPI
:mbah marijan
selalu tak kuduga kedatanganmu
sunyi sepi oleh retaknya waktu
tak kurasakan sesayat apa atas perihmu
yang merintih di bawah pohon rumpang
kedalamanmu tak mungkin kuukur
hanya sedepa rindu yang memuntahkan dahagaku
ingin kupeluk namun kau selalu menghindar
dari rengkuhan malam dan tangan-tangan kelam
wahai, kau yang bersamadi dalam rahim waktu
berikan aku petunjuk untuk menghadapmu
untuk menghadangmu agar raga ini lebih sempurna
dari kematian yang panjang
bukan arang, batu, kerikil, debu dan api yang kuminta
namun sebuah bujuk rayu agar doa-doa kelelawar
menjadi pembawa berkah, nikmat dalam sekejab sebab
namun kau selalu murka dalam tatapan rindu
oleh sebab apa dan sebab siapa, jalan-jalan menjadi
neraka bagi surga dibumi, ingin kumuntahkan saja
rinduku padamu yang bertumpuk-tumpuk menjadi batu nisan
agar semua yang mendugamu dan memandangmu
menjadi sadar bahwa firmanmu
telah tertulis di kalam waktu
tertanda di batu-batu, pohon-pohon
dan rumah-rumah yang terbakar
seperti apimu yang membawa doa-doa surga
membawa kambing, ayam, sapi dan kuda-kudamu
ke arah magrib raib dan senja yang terbakar
dan di sana, nun, bahasa-bahasa telah dibangkitkan
Purworejo, 2010
ISYARAT
hanya jejak dan pertanda
yang terurai sepanjang jalan
serupa bayang-bayang
sebelum kejatuhan yang pertama
kau tahu matahari sebentar lagi
tenggelam ke dasar ufuk
kau tahu udara hampir busuk
di antara kita
dalam perjalanan panjang tak betepi
asin garam telah kutaklukan
di rawa-rawa
ombak lautan telah kujinakan
di keluasan samudera
cangkang mati telah kugunakan
dalam penyamaran ini
di mana kuharus mencarimu
di pintumu aku mengetuk
tak ada isyarat dan jejak
seolah lubang rasa tak bertepi
Ngawi, 2010
CACING
tak ingin diduga dan dicerca
ia lahir dari rahim malam masa lalu
segelap dan sehitam batu matahari
serupa benang yang menyusup
diam-diam disebalik baju
yang berjalan di dalam kelam
tak ingin melihat cahaya terang
hanya jejak dan tanda sebagai isyarat
yang membuatnya lebih tabah dari hujan
hujan yang benar-benar turun dari langit
langit yang membuatnya lebih miris
dari jurang rahim waktu yang berdetak
yang tak pernah lelah menghitung
langkah-langkahnya sendiri
sebelum musnah dalam apimu
Ngawi, 2010
TELAGA
dalam kebeningan telaga
kusaksikan pusat yang meluruh
ruang terbuka bagi burung-burung
yang menghuni hutan dan lembah
dalam keheningan hujan pagi
paras buga menawarkan kepahitan
disebujur tanggul sawah yang dingin
embun telah menyusupkan firmannya
pada batu-batu hitam yang bersamadi
senja yang terguling dalam gelap
duka daun mahoni pun telah tersaji
belum sempat terucap kata
belum sempat membilang nama
engkau telah sirna dalam doaku
Sarangan, 2010
LARON
sayap-sayap matahari
menerbangkanmu
dari gelap-gelap gua purbani
kebebasan apa yang dicari
jika setelah itu mati
Ngawi, 2010
Pusi Dimuat Kompas, 21 November dan 4 Juli 2010
obor-obor menyala berarak ke kampung
hutan, pantai, sawah, lembah dan gunung
ember, panci, sendok, piring seng
wajan, cutil, kompor, garpu, dandang
diseret berdencing dan dipukul bertalu-talu
bising dan memercikkan api masa lalu
blek blek ting tong, blek blek ting tong
berirama tak genah hingga memusingkan
membangunkan para penguasa malam
yang sembunyi di pohon-pohon waktu
bertahta di kursi megah kegelapan
yang telah mencuri malam-malamku
kelak kusumpah tujuh turunan
akan kupanggil raja kegelapan dari istana
untuk menghukummu dan membakarmu
dengan sembilan puluh sembilan cahaya
semua kegelapan telah kuterangi
dari sudut sempit, lebar, tinggi
rendah, pendek dan yang maha luas
dengan nyala obor dan doa-doa
namun tak kujumpai kau
yang menyita seluruh hidupku
Purworejo, 2010
Kompas, 21 November 2010
BARONGSAI
barongsai
cahaya keperakan, merah, kuning
hijau giok adalah pernak pernik kesunyian
terbang ke atas, ke puncak cahaya
meledakkan malam yang buta
malam lampion yang bercahaya
karnaval perayaan musim tanam
malam menjulang bertabur bintang
kembang api menyembur
di kegelapan malam yang memanjang
mercon meledak di udara
tambur dimainkan, gemerencing genta
dan keras genderang yang menggema
di persimpangan jalan kau ragu
arah mana yang dituju
menari-nari di malam gemerlap
warna-warni merah api
bergantungan di udara
di sisimu seekor naga raksasa
meliukkan ekor hitamnya
dengan sisik kuning emas
penuh kenangan
dan derita yang memanjang
dari sejarah gelap yang terlupa
berlengak-lengok dalam tarian liong
dengan tubuh telanjang
ekor masa lalumu yang melumut
melingkar-lingkar di dasar angan
meliuk dan menyemburkan api
membelit tubuhmu yang mulai bersisik
Ngawi, 2010
Kompas, 21 November 2010
NGIBING
hutan yang sunyi
seharum tubuh terlupa
hanya jejak-jejak yang tertinggal
di mana akar pertama ditanam
malam telah bertabur bintang dan kunang
kau mulai ngibing
sambil telanjang dada
kaki menghentak pada irama kendang
selendang kuning terkalung di leher
lelaki legam sebentar lagi tambah kelam
kau buka sarung yang melingkar di bahu
kau kembangkan ke udara memanas
kau sarungkan ke tubuh penari takjub
kau menari dalam balutan ciu kedelapan
kau menari dalam sarung yang sama
kau mencari dalam jiwa yang samar
tanganmu masuk ke rusuk sebelah kiri
menemukan tulang yang selama ini dicari
penari bergelinjang ke sebelah kanan
mencari yang lebih sepi dari api
Ngawi, 2009
Kompas, 4 Juli 2010
PALGUNADI
aku belajar dengan damar di belukar
hingga fajar pada sesosok tubuh samar
untuk mengejar semua pusat dan pusar amar
yang tak pernah kudengar
kudirikan sebuah patung buntung memegang jemparing
dengan punggung melengkung serupa dirimu yang agung
dari lempung gunung menghadap gerbang kampung
agar sabdamu selalu dapat kutangkap dan kukenang
kubentangkan panah cakrawala dari busurku
ingin kubidikan pada musuh-musuh malamku
namun kau meminta agar aku tak memanah rembulan
simpan semua kesabaran pada datangnya firman
Ngawi, 2009
Kompas, 4 Juli 2010
Puisi di Jurnal Nasional, 14 November 2010
di way kambas
mari bercermin pada alam dan dunia nyata
tempat burung-burung bersarang
di hutan-hutan dalam kepurbaan
yang selalu terjaga
tak mau tercermar dari dunia luar
tempat gajah-gajah menemukan jati diri
dan melebihi akal manusia
yang sering berniat jahat terhadap sesama
lihat gajah-gajah hidup rukun dan saling melindungi
lihat kulit gajah yang kasar dan kotor
namun dalam kalbu tersimpan cermin bening
sesuci danau ranau
mata yang sipit melindungi dari ketamakan dunia
belalai yang panjang adalah malaikat penolong
dan bukan tukang petolan pencuri uang rakyat
atau seseorang yang tak bertanggungjawab melempar api
kekerumunan massa yang hidup damai dan tenang
karena gajah adalah kemanusiaan yang mestinya
hidup dalam diri kita
***
PANTAI
di pantaimu kusaksikan gerimis bisu
embun di dahan meluruhkan hening
pada pepohonan yang berjajar di pasir putih
ketika burung-burung laut mengajak pergi
di pagi hari sebelum para nelayan datang
rupanya ia telah menerima nasib lautan
dan mempersilakan gerombolan burung menjauh
dari tubuhnya yang telah tabah dalam waktu
menghadapi pergantian musim
telah menerima warna bumi di pesisir
pantai hanyalah muara yang selalu tertinggal
karena deburan ombak selalu menghapus jejak usia
***
JANTUNG
ingin kusulap detak menjadi ledakan besar
agar sempurna tugas yang tak pernah selesai
kupahami hidup hanyalah mesin waktu
darah pernah kuminta agar memasok warna gelap
agar kelam segera datang menjemput
dan cahaya tak pernah sempurna
sisik-sisik waktu pernah kuhentikan sejenak
namun denyut darah terus meminta arus
dan gelombang yang pernah kutakdirkan
terlepas di lautan dan berjanji kepada angin
agar badaimu mengombak dan menggulung daratan
karena sujud waktu telah terlupakan
agar kenangan dapat kuraih dan kusempurnakan
maka kujaring pengalaman hitam bernoda
yang selalu membawa ke jurang luka
akan kutawarkan pada muara hati yang bening
apakah akan kuampuni
atau kupanggang dalam api
agar cahaya yang kugali mau kembali
ke dalam bilik kalbu
***
BISIKAN ULAR
kau hampir terjebak dan tercekik
pada gemebyar sisik-sisik dan lengkingan hutan sunyi
kau hampir tergoda pada bisik-bisik dan lidah ular berduri
menghuni gendang telinga dan sembunyi dibalik kata-kata
ingin kau kalahkan musuh yang semayam dalam diri
ular merah bermata darah dan suara yang tak terdengar
ketika terdesak di tepi jurang dan ekormu hampir jatuh
kau ayunkan pedang bermata doa dan bersayap langit
hingga sinarnya menebas-nebas pohon rindumu
agar langkah kaki semakin cepat menuju senja yang murung
kau mengeluh tak ada tempat singgah dan sekejab istirah
sedang jalan kembali ke asal sudah berkabut
***
TELAH AKU SEMPURNAKAN KESUNYIAN
sebenarnya telah aku sempurnakaan kesunyian
batu-batu telah aku tanam di lubuk rumah
agar tak mengganggu tidurmu
di tengah malam
pohon-pohon telah aku simpan di alir sungai
semuanya bisu diam abadi
tubuhnya semakin jadi
dan tabah menghadapi mati
namun hijau perjalanan
menjadi arca di lereng lembah
kusempurnakan saja topeng malammu
sebelum senja menjemput
***
SELAMANYA PERNAH KUBAYANGKAN
selamanya pernah kubayangkan
akan kenangan
bau tanah di sawah
bau tanah di ladang
bau tanah di pekuburan
waktu itu kita selalu bermain bersama
seolah hari hari menjadi kebahagiaan
yang abadi
kita ambil permainan petak umpet
kita ambil permainan perang perangan
kita ambil permainan mayat mayatan
kau kuburkan aku di halaman rumah
selamanya pernah kubayangkan
akan kenangan
rupa wajahmu yang menghitam
rupa rumah kita yang kosong
rupa bayang bayang botol yang suram
waktu itu kita masih remaja
seolah hari hari menjadi kesunyian
yang abadi
***
BERDIRI MENGHADAPMU
: borobudur
malam purnama yang senyap
angin mencubiti dinding candi
bayanganku mengisut dibebatu andesit
memprawani kesunyian purbani
berdiri menghadapmu
relief-relief candika memanggil
amsal asal mula
cinta kasih sang budha
tergiring derit seruling derita
sang sidharta
tergerak hatinya
mencampakkan istana
mencampakkan
kemewahan dunia
mengembara dalam pertapaan
menuai kesempurnaan
malam makin larut memahat sepi
kutinggalkan dirimu membatu
kini derit derita kaum papa
menjerit lengking dalam hati purbaku
***
AKU BANYAK BERDIAM
akhir akhir ini
aku banyak berdiam
menyepi
kumatikan radio dan tv
kututup jendela
dan pintu rapat-rapat
kututup kuping pendengaranku
biar
tak ada suara
melambung lambung
kering
ditelinga
aku ingin berteman sunyi
berkarib dengan hening
bersamadi pikiran
***
LAUT
di atas gelombang lautmu
aku mulai berjalan
sejak dilahirkan
aku bersahabat dengan asin garam
dan kasim kuda laut hingga birahi dunia hilang
para kelasi yang berbaju kotor karena gemuk
dan bertubuh tegar karena matahari
adalah kawan yang pemberani
rumput dan karang laut pun berjamaah bersamaku
bersama angin dan badai yang tunduk pada gelombang laut
aku pun rindu pada ikan-ikan yang berenang begitu jauh
ke palung-palung tak terjaga dan jurang-jurang laut yang kemilau
dari atas permukaan laut
gelap ke arah dalam
aku ingin mereka pulang dan bermain kecipak air
dengan cahaya-cahaya langit yang selalu menyinari
menjaga perjalanan kami
ke dalam dasar laut terdalam
hingga kami sampai ke altar laut
tempat kami bersujud
***
SEBUAH RUMAH
sebuah rumah adalah keranda hidup
kelak tergusur dalam lubang kubur
sebuah rumah mestinya bersih
ketika fajar tiba dan senja menjemput
sebuah rumah yang ada di kaki bukit
dengan rumbia dan kayu lapuk
serta lantai tanah membasah
adalah sama wadak dengan rumah
gedung bertingkat tujuh
dengan marmar dan ac menyala
sebuah rumah adalah tanda kehidupan
memiliki dua pintu
di kanan dan di kiri
di muka atau belakang
untuk keluar masuk
para penghuni
atau tamu istimewa yang suatu saat
akan datang meski tak diundang
dan kau persilakan masuk
dan kau jamu sebaik hati
sebuah rumah akan nampak sehat
bila jendela-jendela terbuka
dengan ventilasi bervariasi
angin dan udara berhembus silih berganti
tetangga-tetangga datang dan pergi
saling memberi dan menerima
tanpa rasa curiga
dan cemas mencekam
karena sebuah rumah adalah
tempat ibadah
terbaik untuk mati
***
NEGERI TROPIS
negeri tropis yang rekah
sungai-sungai menjauh dan membentang
negeri mengapung bagai kapas-kapas air yang lepas
aku teringat jalan berat yang panjang
semacam sejarah masa silam
kutempuh dalam usia renta
negeri tropis yang gerah
waktu-waktu berlalu bagai api yang mengamuk
cahaya merah menghanguskan rumah-rumah
sebuah kisah di musim kerontang
orang-orang haus dan lapar segala
mengilas kehidupan kulit sawo matang
negeri tropis yang panas
cahaya-cahaya berjajar-jajar dengan tubuhku
semacam nafsu yang ganas dan sulit dikendalikan
berkelebat debu menjamah air mata
dan di tanah-tanah tandus gembala mengais
samudera di hatinya yang kosong
negeri tropis yang berair
aku berdiam bagai patung jerami
mendayung sampan musim hujan
dari dingin sampai dingin yang kekal
membangkitkan nafsu-nafsu perairan gila
menumpahkan hujan api kefanaan
dari api sampai api yang dendam
ingin membakar segala
***
LUMPUR I
kau merasa tubuhmu sudah rapuh
tidak seperti dulu lagi saat remaja
sudah saatnya menjadi tanah
menjadi lumpur yang menyuburkan
hidup telah kau habiskan dalam kesunyian
waktu terus membimbing ke jalan berat
kau tinggal di alir sungai penuh lumpur
kau nikmati lumpur pertama sebelum kejatuhan
orang-orang berlarian menghindar dari lumpur panas
kau diam dan berdoa agar menjadi air
mendinginkan panas hidup yang menerjang
jangan lawan api dengan api, bisikmu
setelelah sekian tahun hidup dalam lumpur
kau merasa ada yang berubah dalam diri
kau merasa hatimu telah berlumpur
padahal telah kau sucikan dalam seribu sujud
***
LUMPUR II
setiap saat kau kenang peristiwa itu
kau merasa berada di dalam kubangan lumpur
susah untuk bergerak, susah untuk bernafas
tinggal doa-doa yang bisa kau lantunkan
lumpur memang telah padam panasnya
tapi lukanya tak pernah bisa terobati dalam hati
kau merasa tercabik oleh masa lalu yang mengerikan
oleh kenangan yang selalu merisaukan
kini kau masih bersama lumpur kenangan
tinggal dalam kesunyian dan penantian
lupakan saja lumpur kita yang menggenang
yang tak mungkin dibersihkan lagi
tinggal hikmah menuju rumah berikutnya
lumpur hidup hanyalah sepenggal perjalanan kelam
namun kau masih terjebak dalam lumpur kenangan
yang terus menyembur dalam hidupmu
***
LUMPUR III
kau tahu dari dulu
kalau kesetiaan itu akan pudar
sudah berulang kali kau coba hentikan
semburan lumpur hidup kita
tapi hasilnya sia-sia
airnya terus meluber ke jalan-jalan
ke tempat-tempat sepi dan nyeri
ke rawa-rawa hati
hingga setiap hari kita minum
dari air yang keruh dan beracun
tapi hidup kita tetap bertahan
lambung kita hampir robek dan cacat
adakah waktu seperti telaga yang dulu
hening dan ditumbuhi bunga teratai
tanpa kasak-kusuk membersihkan rumah kita
yang sebentar lagi akan tenggelam
***
LUMPUR IV
percayalah kalau lumpur tetap lumpur
meski kau saring dan suling berulang kali
meski kau tasbihkan dengan kata-kata mutiara
lumpur hidup akan tetap menjadi lumpur selamanya
ketika kau teguk pertama kali lumpur kenangan
rasanya pahit, berbau dan melumpuhkan
seperti peristiwa saat terjebur ke dalam lumpur
sebelum kesucian terenggut
adakah lumpur halal atau haram
kau tafsirkan tiap malam dan doamu terlepas
tinggal arus penyesalan yang tak terbendung
hanya kuman-kuman yang menjadi saksi
atas kebenaran dan keadilan yang akan berlangsung
kau minta seluruh riwayat hidupmu dikembalikan
tanpa cacat dan ternoda apalagi digenangi lumpur
namun lumpur telah merasuk ke dalam darahmu
***
Jurnal Nasional, 14 November 2010
Jumat, 03 September 2010
Baca Puisi di Komunitas Salihara, 14 Juli 2010

PELANCONG
mereka turun dari kapal di gelap malam
membawa senter, oncor dan peta masa lalu
dan gerimis senja mengantarnya pada hutan belukar
di sebuah tempat yang tak terduga
sebuah semenanjung di sebuah pulau
tempat budak-budak diternak
terdengar lolong serigala di perbukitan
tubuhnya bercahaya di antara bayangan bulan
dan hutan yang terbakar
rupanya bayang-bayang lebih gaib dari pikiran
karena ia selalu lepas dari genggaman
beri aku senapan, beri aku peluru teriakmu
ketika mendengar suara-suara binatang malam
kubisikkan kata-kata muram sebelum matanya lebih jalang
tunggu semua burung-burung pulang ke sarang
agar kau jumpai pikiran lepas dengan badai ingatan
ah kau inlander tahu apa tentang masa lalu
aku pun diam di bawah pohon besar
dekat sebuah makam purba bernisan batu
aku pun tahu sebentar akan sampai pada batas
di pantai ini hanya nasib yang mempertemukan
sebelum esok pagi kita pergi ke besuki
panarukan, panji dan asembagus
melihat pabrik-pabrik dan bising mesin
meminta kita untuk kembali ke masa-masa silam
ketika senjata menjadi panglima
dan pikiran-pikiran berputar-putar pada hasrat dunia
pejamkan matamu dan kau akan melayari semua impian
yang pernah terlupakan, sebelum tergadaikan
di pagi hari di pelabuhan jangkar sebelum gempa
kau memandang kapal-kapal yang berkabut
terdampar di pelupuk matamu yang biru
asap dan bayang-bayang masih menyelimuti
sebuah pulau, nun jauh di sana yang tak terjangkau
seolah diterjunkan dari bukit-bukit tandus
kebun-kebun tebu, sawah dan ladang hangus
dan di pabrik gula, mesin-mesin terus bekerja
memeras keringat dari madu kemurnian
dan sungai-sungai dipenuhi kegelapan
mengalir dari hulu menuju muaramu
sebelum kau layarkan ke pulau-pulau asing
tempat terjauh yang tak pernah kukenal
sebuah gudang tua milik tuan tanah
menyimpan sejarah gelap perbudakan
di ladang tebu, tembakau dan perkebunan
tubuh yang hitam berdiri memandang senja
di antara sihluet patung raksasa berambut gimbal
kau duduk di antara pohon-pohon tua
di pelabuhan kau berteriak, ini juga tanah airku
kau ambil peta dan kau bubuhi tanda
dulu aku juga dilahirkan di sini
aku tenggelam dalam kenangan
bunga harum yang kuharap telah jadi bangkai
ah kau hanya merayu untuk sesuatu yang sesat
ini bukan birahiku di antara sepi dan api
tapi hanyalah lelaki jalang yang mengembara
di antara pulau-pulau yang masih perawan
dan tanah-tanah yang minta diberkahi
aku beri tanda dan kau hanya bisa tengadah
nyalakan obor di kandang dan gubuk sebagai tawanan
hambamu hanyalah hamba yang tunduk pada takdir
kau hanya boleh memainkan kincir di batas mimpi
bau kemarau masih menyimpan tubuhmu dari seberang
di tanah ini telah kau tandai waktu dan sejarah
dengan pabrik, lori, tebu, tembakau dan kapal-kapal
agar masa lalu bisa terulang dan aku terkenang pada noni-noni
ah wajahnya putih susu dan betisnya seharum bunga leli
sedang bau keringatku seapek tembakau di gudang tua
kini kami mainkan tambur dan genderang di ladang-ladang
agar semangat kerja menjadi doa dan pahala
Situbondo, 2008
Kompas, Minggu, 23 Maret 2008
LAYANG -LAYANG
layang-layang adalah masa kecil yang hilang
ia terbang ke atas dan turun menukik
dan sesekali menyambar-nyambar angin
ketika putus kau terperanggah dan menangis
lalu bangkit dan mengejar-ngejar bayangan
melintasi sawah, ladang, rumah dan menara
ke arah susuh angin yang tak kutahu di mana rimbanya
yang begitu sempurna mempermainkan sayap sihirnya
dalam pengejaran ini aku semakin tercekam
ketika memasuki senja dengan cahaya suram
yang kulihat hanya bayang-bayang gelap
yang mengejar-ngejar dan mempermaikan waktu
Ngawi, 2008
LUDRUK
ia rias wajahnya agar lebih cantik
ia menjadi sang putri malam ini
bukan sebagai lelaki yang biasa ia lakoni
yang datang dari rasa birahi
di panggung penonton masih sepi
ia ingat bedak terakhir yang tersimpan di laci
agar wajahnya tambah putih bunga leli
menyempurnakan penyamaran hari ini
atas riwayat hidup yang ingin dilupakan
dulu ia pernah menjadi tokoh yang gagal
kini ingin berganti peran dan nasib
agar semua rahasia bisa tersingkap
agar kenangan masa lalu bisa terkubur
dan bayangan sunyi sehabis subuh bisa berganti
ia mondar-mandir di tengah panggung
seperti hendak menanti eksekusi
ia berkidung agar semangat tidak luntur
sementara penabuh gamelan masih tertidur
tukang parkir sudah seminggu libur
ia ke tengah tobong menghitung kursi kosong
ia memandang panggung dan menyaksikan
permainan yang sesungguhnya sedang dimulai
ia lihat bayang-bayang dirinya di jendela kamar
bergincu tebal sambil melambaikan tangan
tanjung perak mas
kapale kobong
monggo mampir mas
kamare kosong
Surabaya, 2008
Kompas, 14 September 2008
Minggu, 29 Agustus 2010
S Yoga Baca Puisi di Lampion Sastra 2 DKJ 2006
LAMPION SASTRA2 "BUKU BARU"
Bosan dengan peluncuran buku yang gitu-gitu aja? Proses Kreatif penulis, Diskusi, tanya jawab, padahal kita belum baca bukunya?
(Puisi Sape Sono*. puisi yang dibacakan dalam acara Lampion Sastra)
SAPE SONO’*
cermin di bumi
cermin di langit
datanglah padaku
irigan irigan sesajen
arak arakan payung purba, musik saronen
terompet, siter, tetabuhan
gamelan dan gong bertalu talu
membuka rahasia hidup
langkah sepasang sapi jantan dan betina
menari nari dengan pakaian kemanten
dihiasi pernik pernik, gelang, kalung, perak
tembaga dan alis mata tegak
mata berbinar menuju pelaminan
menuju duka dan nestapa
menuju kebahagiaan dan keabadian
satu langit dan satu bumi
didandani bersepakat satu rumah
kandang sapi, bau apek, tai terbakar
pesing air kencing dan lumpur basah
adalah lantai lantai kehidupan
yang harus dijalani
di depan ada cermin
maha luas
cermin siapakah itu
tak ada yang tahu
hanya ekor sapi yang kebat kebit
mengusir lalat hijau sebesar jempol
menghisap pantat coklat bahenol
sepasang kemanten terus menari nari
seiring musik rancak bersahut
dalam rimba kata kata
terdengar cempreng di pengeras suara
yang hampir pecah
kaki kiri dan kaki kanan bersijingkat seirama saronen
kepala berlengak lengok
gemerincing genta
terpasang di leher
seperti orang berzikir
dengan pakaian warna warni
hijau pupus, merah lembayung dan kuning langsat
bagai keberanian sedang dipertaruhkan
dengan doa sekerabat dekat
dan puja puji dari nyanyian ilahi
orang orang bertepuk tangan
sambil melambai lambaikan masa lalu
dengan kaki gemetar terkena busung lapar
melepas upacara yang sedang dihelat
apakah akan lulus memasuki kehidupan
dua cermin yang terpasang
di kanan kiri gapura
memantulkan bayang bayang hitam
diselingi cahaya cahaya yang kemilau
dua sapi saling berebut simpati
dalam tarian purba yang wingit
di depan cahaya
mereka berdua berlutut
memberi sembah
dengan dua kaki tertekuk
sujud kehidupan dan sujud maut
kepada ilahi
musik mengalun kembali
dalam seruling yang meninggi
seolah suara terompet dari
yang maha jauh
di balik kelambu
sepasang kemanten sedang bercengkrama
menghitung keuntungan
dengan baju baju baru
perhiasan baru
hadiah baru
sambil ekornya
mengibas ngibas
kiri kanan
mengusir
kesunyian
lalu
saling
berbelit
dalam
diri
*Sapi Sonok, sapi Madura yang dilombakan keindahan dan kepandaiannya menari diiringgi musik.
Gapura-Sumenep 2005
(Kompas 6 November 2005)