Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Juni 2014

Puisi Propaganda



PROKLAMASI JILID TERAKHIR
Oleh : S Yoga

Dengan ini kami bangsa Indonesia menyatakan
Anda diberhentikan secara tidak hormat
Dari nafsu syahwat kekuasaan yang berlebihan

Hal-hal yang menyangkut tingkah pongah
Dan perilaku kelam di masa lalu
Biarlah menjadi rahasia umum

Atas nama rakyat Indonesia
Boleh siapa saja

Juni 2014

SUARA RAKYAT SUARA TUHAN (1)
Oleh: S Yoga

Tuhan
Berikan suaraMu
Di bilik-bilik suara

Agar kebenaran dan moralitas tetap terjaga
Agar kemuliaan manusia tetap nyata

Sampai jumpa Tuhan
Di bilik-bilik suaraMu
Yang paling dalam

Juni 2014

SUARA RAKYAT SUARA TUHAN (2)
Oleh : S Yoga

Di Manado, tanah kelahiran Ibundanya
Calon pemimpin kita di atas panggung berteriak
Ayah dan Ibu saya berbeda agama
Kakak-kakak, adik dan keyakinan saya sekarang ini
Juga berbeda-beda, saya sangat menghormati
Dan menjunjung tinggi perbedaan keyakinan
Sekali lagi, salam dua jari, pilih nomor dua

Di Indramayu dari atas panggung yang ambruk
Calon pemimpin kita sekuat tenaga menepis
Kenapa keyakinan saya dan orang tua saya
Dipertetangkan dengan kampanye hitam
Padahal kami memiliki keimanan yang sama
Tentu semua orang sudah tahu apa jawabannya
Sekali lagi, salam satu jari, pilih nomor satu

Tuhan
Kini kami menunggu giliranMu untuk memilih
Di bilik-bilik suara yang paling rahasia

Juni 2014

SUARA RAKYAT SUARA TUHAN (3)
Oleh : S Yoga

Ini hanyalah masalah duniawi
Kenapa semua orang yang tiap hari
Rajin ibadah dan mengaji

Ketika di depan dunia maya dan televisi
Tiba-tiba menjadi pencemooh, fitnah dan pembenci
Rasa dengki itu hanya akan mengkikis keimanan

Bobot, bibit, bebet, begitu kata orang Jawa
Yang memiliki integritas spiritualitas yang tinggi
Dan moralitas yang terjaga ialah yang berhak

Juni 2014

SUARA RAKYAT SUARA TUHAN (4)
Oleh : S Yoga

Di negeri dongeng
Persengkongkolan antara binatang dan manusia
Sudah biasa terjadi yang bermuara pada kekuasaan

Lihatlah kini si politikus kutu loncat
Melompat kesana kemari, mencari daun-daun
Kekuasaan di pohon-pohon tohor tak berakar

Lihat pula si pemimpin bunglon telah menyalin rupa
Menjadi si bijak, penderma dan si amanah
Yang dikelilingi oleh para kadal, tokek dan tikus kantor

Kini perutku menjadi mual setelah melihat sihir manis
Para binatangisme yang hilir mudik di layar kaca
Memamerkan syahwat kekuasaan yang begitu telanjang

Juni 2014


SUARA RAKYAT SUARA TUHAN (5)
Oleh : S Yoga

Wiji Tukul menyatakan
Hanya satu kata
Lawan

Rakyat menyatakan
Orang baik harus didukung
Dan dipilih

Juni 2014


SUARA RAKYAT SUARA TUHAN (6)
Oleh : S Yoga

Tuhan, di negeri dongeng
Kenapa moral, ras, dan agama
menjadi alat permainan dan perdagangan
Bahkan oleh para binatang

Tuhan, di negeri dongeng
Kenapa para binatang
Kini memiliki akal sehat
Yang melebihi akal manusia

Tuhan, di negeri dongeng
Berikan kami kekuatan dan pengetahuan
Untuk bisa memilih dan membedakan
Dua mahkluk hidup itu

Juni 2014
  
SUARA RAKYAT SUARA TUHAN (7)
Oleh : S Yoga

Di bilik suara
Kalau ada yang lebih baik
Kenapa harus yang lain

Di bilik suara
Kalau ada yang amanah dan bermartabat
Kenapa harus yang lain

Kenapa harus yang lain
Kalau suaramu
Adalah suara Tuhan

Juni 2014

SUARA RAKYAT SUARA TUHAN (8)
Oleh : S Yoga

Tuhan
Beri aku waktu
Untuk memilihmu
Dengan sebaik-baiknya
Dan sebijak-bijaknya

Tuhan
Beri aku petunjuk
Untuk selalu berada di muaraMu
Diantara arus keduniawian
Pilihkan aku satu jalan menuju bilikMu

Juni 2014

SUARA RAKYAT SUARA TUHAN (9)
Oleh : S Yoga

Ada dua jalan yang harus kita pilih
Apakah jalan kebaikan
Atau jalan kebatilan

Salah satu jalan di antaranya
Dibuat oleh para pembohong
Yang selalu menyaru dan merayu setiap waktu

Juni 2014



Senin, 22 November 2010

Puisi di Suara Merdeka, 12 Desember 2010

SAJAK-SAJAK S YOGA


MERAPI
:mbah marijan

selalu tak kuduga kedatanganmu
sunyi sepi oleh retaknya waktu
tak kurasakan sesayat apa atas perihmu
yang merintih di bawah pohon rumpang

kedalamanmu tak mungkin kuukur
hanya sedepa rindu yang memuntahkan dahagaku
ingin kupeluk namun kau selalu menghindar
dari rengkuhan malam dan tangan-tangan kelam

wahai, kau yang bersamadi dalam rahim waktu
berikan aku petunjuk untuk menghadapmu
untuk menghadangmu agar raga ini lebih sempurna
dari kematian yang panjang

bukan arang, batu, kerikil, debu dan api yang kuminta
namun sebuah bujuk rayu agar doa-doa kelelawar
menjadi pembawa berkah, nikmat dalam sekejab sebab
namun kau selalu murka dalam tatapan rindu

oleh sebab apa dan sebab siapa, jalan-jalan menjadi
neraka bagi surga dibumi, ingin kumuntahkan saja
rinduku padamu yang bertumpuk-tumpuk menjadi batu nisan
agar semua yang mendugamu dan memandangmu

menjadi sadar bahwa firmanmu
telah tertulis di kalam waktu
tertanda di batu-batu, pohon-pohon
dan rumah-rumah yang terbakar

seperti apimu yang membawa doa-doa surga
membawa kambing, ayam, sapi dan kuda-kudamu
ke arah magrib raib dan senja yang terbakar
dan di sana, nun, bahasa-bahasa telah dibangkitkan

Purworejo, 2010


ISYARAT

hanya jejak dan pertanda
yang terurai sepanjang jalan
serupa bayang-bayang
sebelum kejatuhan yang pertama

kau tahu matahari sebentar lagi
tenggelam ke dasar ufuk
kau tahu udara hampir busuk
di antara kita
dalam perjalanan panjang tak betepi

asin garam telah kutaklukan
di rawa-rawa
ombak lautan telah kujinakan
di keluasan samudera
cangkang mati telah kugunakan
dalam penyamaran ini

di mana kuharus mencarimu
di pintumu aku mengetuk
tak ada isyarat dan jejak
seolah lubang rasa tak bertepi

Ngawi, 2010


CACING

tak ingin diduga dan dicerca
ia lahir dari rahim malam masa lalu
segelap dan sehitam batu matahari

serupa benang yang menyusup
diam-diam disebalik baju
yang berjalan di dalam kelam

tak ingin melihat cahaya terang
hanya jejak dan tanda sebagai isyarat
yang membuatnya lebih tabah dari hujan

hujan yang benar-benar turun dari langit
langit yang membuatnya lebih miris
dari jurang rahim waktu yang berdetak

yang tak pernah lelah menghitung
langkah-langkahnya sendiri
sebelum musnah dalam apimu

Ngawi, 2010


TELAGA

dalam kebeningan telaga
kusaksikan pusat yang meluruh
ruang terbuka bagi burung-burung
yang menghuni hutan dan lembah

dalam keheningan hujan pagi
paras buga menawarkan kepahitan
disebujur tanggul sawah yang dingin
embun telah menyusupkan firmannya
pada batu-batu hitam yang bersamadi

senja yang terguling dalam gelap
duka daun mahoni pun telah tersaji
belum sempat terucap kata
belum sempat membilang nama
engkau telah sirna dalam doaku

Sarangan, 2010


LARON

sayap-sayap matahari
menerbangkanmu

dari gelap-gelap gua purbani

kebebasan apa yang dicari
jika setelah itu mati

Ngawi, 2010

Pusi Dimuat Kompas, 21 November dan 4 Juli 2010

GENDERUWO

obor-obor menyala berarak ke kampung
hutan, pantai, sawah, lembah dan gunung
ember, panci, sendok, piring seng
wajan, cutil, kompor, garpu, dandang

diseret berdencing dan dipukul bertalu-talu
bising dan memercikkan api masa lalu
blek blek ting tong, blek blek ting tong
berirama tak genah hingga memusingkan

membangunkan para penguasa malam
yang sembunyi di pohon-pohon waktu
bertahta di kursi megah kegelapan
yang telah mencuri malam-malamku

kelak kusumpah tujuh turunan
akan kupanggil raja kegelapan dari istana
untuk menghukummu dan membakarmu
dengan sembilan puluh sembilan cahaya

semua kegelapan telah kuterangi
dari sudut sempit, lebar, tinggi
rendah, pendek dan yang maha luas
dengan nyala obor dan doa-doa

namun tak kujumpai kau
yang menyita seluruh hidupku

Purworejo, 2010
Kompas, 21 November 2010


BARONGSAI

barongsai
cahaya keperakan, merah, kuning
hijau giok adalah pernak pernik kesunyian
terbang ke atas, ke puncak cahaya
meledakkan malam yang buta
malam lampion yang bercahaya
karnaval perayaan musim tanam
malam menjulang bertabur bintang
kembang api menyembur
di kegelapan malam yang memanjang
mercon meledak di udara
tambur dimainkan, gemerencing genta
dan keras genderang yang menggema
di persimpangan jalan kau ragu
arah mana yang dituju
menari-nari di malam gemerlap
warna-warni merah api
bergantungan di udara
di sisimu seekor naga raksasa
meliukkan ekor hitamnya
dengan sisik kuning emas
penuh kenangan
dan derita yang memanjang
dari sejarah gelap yang terlupa
berlengak-lengok dalam tarian liong
dengan tubuh telanjang
ekor masa lalumu yang melumut
melingkar-lingkar di dasar angan
meliuk dan menyemburkan api
membelit tubuhmu yang mulai bersisik

Ngawi, 2010
Kompas, 21 November 2010


NGIBING

hutan yang sunyi
seharum tubuh terlupa
hanya jejak-jejak yang tertinggal
di mana akar pertama ditanam
malam telah bertabur bintang dan kunang

kau mulai ngibing
sambil telanjang dada
kaki menghentak pada irama kendang
selendang kuning terkalung di leher
lelaki legam sebentar lagi tambah kelam

kau buka sarung yang melingkar di bahu
kau kembangkan ke udara memanas
kau sarungkan ke tubuh penari takjub
kau menari dalam balutan ciu kedelapan
kau menari dalam sarung yang sama
kau mencari dalam jiwa yang samar

tanganmu masuk ke rusuk sebelah kiri
menemukan tulang yang selama ini dicari
penari bergelinjang ke sebelah kanan
mencari yang lebih sepi dari api

Ngawi, 2009
Kompas, 4 Juli 2010

PALGUNADI

aku belajar dengan damar di belukar
hingga fajar pada sesosok tubuh samar
untuk mengejar semua pusat dan pusar amar
yang tak pernah kudengar

kudirikan sebuah patung buntung memegang jemparing
dengan punggung melengkung serupa dirimu yang agung
dari lempung gunung menghadap gerbang kampung
agar sabdamu selalu dapat kutangkap dan kukenang

kubentangkan panah cakrawala dari busurku
ingin kubidikan pada musuh-musuh malamku
namun kau meminta agar aku tak memanah rembulan
simpan semua kesabaran pada datangnya firman

Ngawi, 2009
Kompas, 4 Juli 2010

Puisi di Jurnal Nasional, 14 November 2010

GAJAH

di way kambas
mari bercermin pada alam dan dunia nyata
tempat burung-burung bersarang
di hutan-hutan dalam kepurbaan
yang selalu terjaga
tak mau tercermar dari dunia luar
tempat gajah-gajah menemukan jati diri
dan melebihi akal manusia
yang sering berniat jahat terhadap sesama

lihat gajah-gajah hidup rukun dan saling melindungi
lihat kulit gajah yang kasar dan kotor
namun dalam kalbu tersimpan cermin bening
sesuci danau ranau
mata yang sipit melindungi dari ketamakan dunia
belalai yang panjang adalah malaikat penolong
dan bukan tukang petolan pencuri uang rakyat
atau seseorang yang tak bertanggungjawab melempar api
kekerumunan massa yang hidup damai dan tenang
karena gajah adalah kemanusiaan yang mestinya
hidup dalam diri kita

***

PANTAI

di pantaimu kusaksikan gerimis bisu
embun di dahan meluruhkan hening
pada pepohonan yang berjajar di pasir putih
ketika burung-burung laut mengajak pergi

di pagi hari sebelum para nelayan datang
rupanya ia telah menerima nasib lautan
dan mempersilakan gerombolan burung menjauh
dari tubuhnya yang telah tabah dalam waktu

menghadapi pergantian musim
telah menerima warna bumi di pesisir
pantai hanyalah muara yang selalu tertinggal
karena deburan ombak selalu menghapus jejak usia

***

JANTUNG

ingin kusulap detak menjadi ledakan besar
agar sempurna tugas yang tak pernah selesai
kupahami hidup hanyalah mesin waktu
darah pernah kuminta agar memasok warna gelap

agar kelam segera datang menjemput
dan cahaya tak pernah sempurna
sisik-sisik waktu pernah kuhentikan sejenak
namun denyut darah terus meminta arus

dan gelombang yang pernah kutakdirkan
terlepas di lautan dan berjanji kepada angin
agar badaimu mengombak dan menggulung daratan
karena sujud waktu telah terlupakan

agar kenangan dapat kuraih dan kusempurnakan
maka kujaring pengalaman hitam bernoda
yang selalu membawa ke jurang luka
akan kutawarkan pada muara hati yang bening

apakah akan kuampuni
atau kupanggang dalam api
agar cahaya yang kugali mau kembali
ke dalam bilik kalbu

***

BISIKAN ULAR

kau hampir terjebak dan tercekik
pada gemebyar sisik-sisik dan lengkingan hutan sunyi
kau hampir tergoda pada bisik-bisik dan lidah ular berduri
menghuni gendang telinga dan sembunyi dibalik kata-kata

ingin kau kalahkan musuh yang semayam dalam diri
ular merah bermata darah dan suara yang tak terdengar
ketika terdesak di tepi jurang dan ekormu hampir jatuh
kau ayunkan pedang bermata doa dan bersayap langit

hingga sinarnya menebas-nebas pohon rindumu
agar langkah kaki semakin cepat menuju senja yang murung
kau mengeluh tak ada tempat singgah dan sekejab istirah
sedang jalan kembali ke asal sudah berkabut

***


TELAH AKU SEMPURNAKAN KESUNYIAN

sebenarnya telah aku sempurnakaan kesunyian
batu-batu telah aku tanam di lubuk rumah
agar tak mengganggu tidurmu
di tengah malam

pohon-pohon telah aku simpan di alir sungai
semuanya bisu diam abadi
tubuhnya semakin jadi
dan tabah menghadapi mati

namun hijau perjalanan
menjadi arca di lereng lembah
kusempurnakan saja topeng malammu
sebelum senja menjemput

***

SELAMANYA PERNAH KUBAYANGKAN

selamanya pernah kubayangkan
akan kenangan
bau tanah di sawah
bau tanah di ladang
bau tanah di pekuburan
waktu itu kita selalu bermain bersama
seolah hari hari menjadi kebahagiaan
yang abadi
kita ambil permainan petak umpet
kita ambil permainan perang perangan
kita ambil permainan mayat mayatan
kau kuburkan aku di halaman rumah
selamanya pernah kubayangkan
akan kenangan
rupa wajahmu yang menghitam
rupa rumah kita yang kosong
rupa bayang bayang botol yang suram
waktu itu kita masih remaja
seolah hari hari menjadi kesunyian
yang abadi

***

BERDIRI MENGHADAPMU
: borobudur

malam purnama yang senyap
angin mencubiti dinding candi
bayanganku mengisut dibebatu andesit
memprawani kesunyian purbani

berdiri menghadapmu
relief-relief candika memanggil
amsal asal mula
cinta kasih sang budha

tergiring derit seruling derita
sang sidharta
tergerak hatinya
mencampakkan istana

mencampakkan
kemewahan dunia
mengembara dalam pertapaan
menuai kesempurnaan

malam makin larut memahat sepi
kutinggalkan dirimu membatu
kini derit derita kaum papa
menjerit lengking dalam hati purbaku

***

AKU BANYAK BERDIAM

akhir akhir ini
aku banyak berdiam
menyepi
kumatikan radio dan tv
kututup jendela
dan pintu rapat-rapat
kututup kuping pendengaranku

biar
tak ada suara
melambung lambung
kering
ditelinga

aku ingin berteman sunyi
berkarib dengan hening
bersamadi pikiran

***

LAUT

di atas gelombang lautmu
aku mulai berjalan
sejak dilahirkan
aku bersahabat dengan asin garam
dan kasim kuda laut hingga birahi dunia hilang
para kelasi yang berbaju kotor karena gemuk
dan bertubuh tegar karena matahari
adalah kawan yang pemberani
rumput dan karang laut pun berjamaah bersamaku
bersama angin dan badai yang tunduk pada gelombang laut
aku pun rindu pada ikan-ikan yang berenang begitu jauh
ke palung-palung tak terjaga dan jurang-jurang laut yang kemilau
dari atas permukaan laut
gelap ke arah dalam
aku ingin mereka pulang dan bermain kecipak air
dengan cahaya-cahaya langit yang selalu menyinari
menjaga perjalanan kami
ke dalam dasar laut terdalam
hingga kami sampai ke altar laut
tempat kami bersujud

***


SEBUAH RUMAH

sebuah rumah adalah keranda hidup
kelak tergusur dalam lubang kubur
sebuah rumah mestinya bersih
ketika fajar tiba dan senja menjemput

sebuah rumah yang ada di kaki bukit
dengan rumbia dan kayu lapuk
serta lantai tanah membasah
adalah sama wadak dengan rumah
gedung bertingkat tujuh
dengan marmar dan ac menyala

sebuah rumah adalah tanda kehidupan
memiliki dua pintu
di kanan dan di kiri
di muka atau belakang
untuk keluar masuk
para penghuni
atau tamu istimewa yang suatu saat
akan datang meski tak diundang
dan kau persilakan masuk
dan kau jamu sebaik hati

sebuah rumah akan nampak sehat
bila jendela-jendela terbuka
dengan ventilasi bervariasi
angin dan udara berhembus silih berganti
tetangga-tetangga datang dan pergi

saling memberi dan menerima
tanpa rasa curiga
dan cemas mencekam
karena sebuah rumah adalah
tempat ibadah
terbaik untuk mati

***

NEGERI TROPIS

negeri tropis yang rekah
sungai-sungai menjauh dan membentang
negeri mengapung bagai kapas-kapas air yang lepas
aku teringat jalan berat yang panjang
semacam sejarah masa silam
kutempuh dalam usia renta

negeri tropis yang gerah
waktu-waktu berlalu bagai api yang mengamuk
cahaya merah menghanguskan rumah-rumah
sebuah kisah di musim kerontang
orang-orang haus dan lapar segala
mengilas kehidupan kulit sawo matang

negeri tropis yang panas
cahaya-cahaya berjajar-jajar dengan tubuhku
semacam nafsu yang ganas dan sulit dikendalikan
berkelebat debu menjamah air mata
dan di tanah-tanah tandus gembala mengais
samudera di hatinya yang kosong

negeri tropis yang berair
aku berdiam bagai patung jerami
mendayung sampan musim hujan
dari dingin sampai dingin yang kekal
membangkitkan nafsu-nafsu perairan gila
menumpahkan hujan api kefanaan
dari api sampai api yang dendam
ingin membakar segala

***

LUMPUR I

kau merasa tubuhmu sudah rapuh
tidak seperti dulu lagi saat remaja
sudah saatnya menjadi tanah
menjadi lumpur yang menyuburkan

hidup telah kau habiskan dalam kesunyian
waktu terus membimbing ke jalan berat
kau tinggal di alir sungai penuh lumpur
kau nikmati lumpur pertama sebelum kejatuhan

orang-orang berlarian menghindar dari lumpur panas
kau diam dan berdoa agar menjadi air
mendinginkan panas hidup yang menerjang
jangan lawan api dengan api, bisikmu

setelelah sekian tahun hidup dalam lumpur
kau merasa ada yang berubah dalam diri
kau merasa hatimu telah berlumpur
padahal telah kau sucikan dalam seribu sujud

***

LUMPUR II

setiap saat kau kenang peristiwa itu
kau merasa berada di dalam kubangan lumpur
susah untuk bergerak, susah untuk bernafas
tinggal doa-doa yang bisa kau lantunkan

lumpur memang telah padam panasnya
tapi lukanya tak pernah bisa terobati dalam hati
kau merasa tercabik oleh masa lalu yang mengerikan
oleh kenangan yang selalu merisaukan

kini kau masih bersama lumpur kenangan
tinggal dalam kesunyian dan penantian
lupakan saja lumpur kita yang menggenang
yang tak mungkin dibersihkan lagi

tinggal hikmah menuju rumah berikutnya
lumpur hidup hanyalah sepenggal perjalanan kelam
namun kau masih terjebak dalam lumpur kenangan
yang terus menyembur dalam hidupmu

***

LUMPUR III

kau tahu dari dulu
kalau kesetiaan itu akan pudar
sudah berulang kali kau coba hentikan
semburan lumpur hidup kita

tapi hasilnya sia-sia
airnya terus meluber ke jalan-jalan
ke tempat-tempat sepi dan nyeri
ke rawa-rawa hati

hingga setiap hari kita minum
dari air yang keruh dan beracun
tapi hidup kita tetap bertahan
lambung kita hampir robek dan cacat

adakah waktu seperti telaga yang dulu
hening dan ditumbuhi bunga teratai
tanpa kasak-kusuk membersihkan rumah kita
yang sebentar lagi akan tenggelam

***

LUMPUR IV

percayalah kalau lumpur tetap lumpur
meski kau saring dan suling berulang kali
meski kau tasbihkan dengan kata-kata mutiara
lumpur hidup akan tetap menjadi lumpur selamanya

ketika kau teguk pertama kali lumpur kenangan
rasanya pahit, berbau dan melumpuhkan
seperti peristiwa saat terjebur ke dalam lumpur
sebelum kesucian terenggut

adakah lumpur halal atau haram
kau tafsirkan tiap malam dan doamu terlepas
tinggal arus penyesalan yang tak terbendung
hanya kuman-kuman yang menjadi saksi

atas kebenaran dan keadilan yang akan berlangsung
kau minta seluruh riwayat hidupmu dikembalikan
tanpa cacat dan ternoda apalagi digenangi lumpur
namun lumpur telah merasuk ke dalam darahmu

***
Jurnal Nasional, 14 November 2010

Jumat, 03 September 2010

Baca Puisi di Komunitas Salihara, 14 Juli 2010
























PELANCONG


mereka turun dari kapal di gelap malam

membawa senter, oncor dan peta masa lalu

dan gerimis senja mengantarnya pada hutan belukar

di sebuah tempat yang tak terduga

sebuah semenanjung di sebuah pulau

tempat budak-budak diternak


terdengar lolong serigala di perbukitan

tubuhnya bercahaya di antara bayangan bulan

dan hutan yang terbakar

rupanya bayang-bayang lebih gaib dari pikiran

karena ia selalu lepas dari genggaman


beri aku senapan, beri aku peluru teriakmu

ketika mendengar suara-suara binatang malam

kubisikkan kata-kata muram sebelum matanya lebih jalang

tunggu semua burung-burung pulang ke sarang

agar kau jumpai pikiran lepas dengan badai ingatan


ah kau inlander tahu apa tentang masa lalu

aku pun diam di bawah pohon besar

dekat sebuah makam purba bernisan batu

aku pun tahu sebentar akan sampai pada batas


di pantai ini hanya nasib yang mempertemukan

sebelum esok pagi kita pergi ke besuki

panarukan, panji dan asembagus

melihat pabrik-pabrik dan bising mesin

meminta kita untuk kembali ke masa-masa silam

ketika senjata menjadi panglima

dan pikiran-pikiran berputar-putar pada hasrat dunia

pejamkan matamu dan kau akan melayari semua impian

yang pernah terlupakan, sebelum tergadaikan


di pagi hari di pelabuhan jangkar sebelum gempa

kau memandang kapal-kapal yang berkabut

terdampar di pelupuk matamu yang biru

asap dan bayang-bayang masih menyelimuti

sebuah pulau, nun jauh di sana yang tak terjangkau

seolah diterjunkan dari bukit-bukit tandus

kebun-kebun tebu, sawah dan ladang hangus


dan di pabrik gula, mesin-mesin terus bekerja

memeras keringat dari madu kemurnian

dan sungai-sungai dipenuhi kegelapan

mengalir dari hulu menuju muaramu

sebelum kau layarkan ke pulau-pulau asing

tempat terjauh yang tak pernah kukenal


sebuah gudang tua milik tuan tanah

menyimpan sejarah gelap perbudakan

di ladang tebu, tembakau dan perkebunan

tubuh yang hitam berdiri memandang senja

di antara sihluet patung raksasa berambut gimbal

kau duduk di antara pohon-pohon tua

di pelabuhan kau berteriak, ini juga tanah airku

kau ambil peta dan kau bubuhi tanda

dulu aku juga dilahirkan di sini


aku tenggelam dalam kenangan

bunga harum yang kuharap telah jadi bangkai

ah kau hanya merayu untuk sesuatu yang sesat

ini bukan birahiku di antara sepi dan api

tapi hanyalah lelaki jalang yang mengembara

di antara pulau-pulau yang masih perawan

dan tanah-tanah yang minta diberkahi

aku beri tanda dan kau hanya bisa tengadah

nyalakan obor di kandang dan gubuk sebagai tawanan

hambamu hanyalah hamba yang tunduk pada takdir

kau hanya boleh memainkan kincir di batas mimpi


bau kemarau masih menyimpan tubuhmu dari seberang

di tanah ini telah kau tandai waktu dan sejarah

dengan pabrik, lori, tebu, tembakau dan kapal-kapal

agar masa lalu bisa terulang dan aku terkenang pada noni-noni

ah wajahnya putih susu dan betisnya seharum bunga leli

sedang bau keringatku seapek tembakau di gudang tua

kini kami mainkan tambur dan genderang di ladang-ladang

agar semangat kerja menjadi doa dan pahala


Situbondo, 2008

Kompas, Minggu, 23 Maret 2008


photo

LAYANG -LAYANG


layang-layang adalah masa kecil yang hilang

ia terbang ke atas dan turun menukik

dan sesekali menyambar-nyambar angin

ketika putus kau terperanggah dan menangis


lalu bangkit dan mengejar-ngejar bayangan

melintasi sawah, ladang, rumah dan menara

ke arah susuh angin yang tak kutahu di mana rimbanya

yang begitu sempurna mempermainkan sayap sihirnya


dalam pengejaran ini aku semakin tercekam

ketika memasuki senja dengan cahaya suram

yang kulihat hanya bayang-bayang gelap

yang mengejar-ngejar dan mempermaikan waktu


Ngawi, 2008

Kompas, Minggu, 23 Maret 2008

photo

LUDRUK


ia rias wajahnya agar lebih cantik

ia menjadi sang putri malam ini

bukan sebagai lelaki yang biasa ia lakoni

yang datang dari rasa birahi


di panggung penonton masih sepi

ia ingat bedak terakhir yang tersimpan di laci

agar wajahnya tambah putih bunga leli

menyempurnakan penyamaran hari ini


atas riwayat hidup yang ingin dilupakan

dulu ia pernah menjadi tokoh yang gagal

kini ingin berganti peran dan nasib

agar semua rahasia bisa tersingkap


agar kenangan masa lalu bisa terkubur

dan bayangan sunyi sehabis subuh bisa berganti

ia mondar-mandir di tengah panggung

seperti hendak menanti eksekusi


ia berkidung agar semangat tidak luntur

sementara penabuh gamelan masih tertidur

tukang parkir sudah seminggu libur

ia ke tengah tobong menghitung kursi kosong


ia memandang panggung dan menyaksikan

permainan yang sesungguhnya sedang dimulai

ia lihat bayang-bayang dirinya di jendela kamar

bergincu tebal sambil melambaikan tangan


tanjung perak mas

kapale kobong

monggo mampir mas

kamare kosong


Surabaya, 2008

Kompas, 14 September 2008



Minggu, 29 Agustus 2010

S Yoga Baca Puisi di Lampion Sastra 2 DKJ 2006















LAMPION SASTRA2 "BUKU BARU"

Bosan dengan peluncuran buku yang gitu-gitu aja? Proses Kreatif penulis, Diskusi, tanya jawab, padahal kita belum baca bukunya?
Yuk...nonton pembacaan karya para penulis-penulis kreatif yang baru saja meluncurkan buku barunya. Akan dibacakan karya dari buku Ucu Agustin, Dunia di Kepala Alice, S.Yoga dengan dua buku terbarunya: Patung Matahari (kumpulan sajak), dan Dalam Gelap Tanpa Cahaya Bulan dan Bintang (Novel). Masih ada Badri AQ.T yang akan mengusung kumpulan cerpen terbarunya, Buntelan.
Sementara Liza Mutiara dari Bandar Lampung akan tampil sebagai pembaca tamu. Liza adalah merupakan aktris berbakat dari Teater Satu Bandarlampung.
Tentu saja, pembacaan karya sastra tersebut akan dibawakan dengan gaya yang atraktif, dengan gaya masing-masing pembaca yang berbeda-beda.
So, tunggu apa lagi? Berbondong-bondonglah datang untuk menikmati eksplorasi alam madura dalam sajak dan Nevel S.Yoga, jangan pula lewatkan Ucu Agustin yang tak henti-hentinya menafsir ulang dongeng dan mitologi dari khazanah sastra dunia, sementara Badri akan menurunkan cerita-ceritanya dengan cara-caranya yang dingin dan tak pandang bulu.
Ajak kerabat, sahabat ke Ruang Kreatifitas terbuka, Taman Ismail Marzuki, Jumat 6 Oktober 2006, pk. 16.00 - 18.00 WIB
Acara ini akan ditutup dengan berbuka puasa bersama, dan setelah itu kita akan makan malam bersama sambil menunggu acara Tadarus Puisi 1427 H di Teater Kecil.
Informasi dan Konfirmasi:
Dewan Kesenian Jakarta, (O21) 3162780


(Puisi Sape Sono*. puisi yang dibacakan dalam acara Lampion Sastra)

SAPE SONO’*


cermin di bumi

cermin di langit

datanglah padaku


irigan irigan sesajen

arak arakan payung purba, musik saronen

terompet, siter, tetabuhan

gamelan dan gong bertalu talu

membuka rahasia hidup


langkah sepasang sapi jantan dan betina

menari nari dengan pakaian kemanten

dihiasi pernik pernik, gelang, kalung, perak

tembaga dan alis mata tegak

mata berbinar menuju pelaminan

menuju duka dan nestapa

menuju kebahagiaan dan keabadian


satu langit dan satu bumi

didandani bersepakat satu rumah

kandang sapi, bau apek, tai terbakar

pesing air kencing dan lumpur basah

adalah lantai lantai kehidupan

yang harus dijalani

di depan ada cermin

maha luas

cermin siapakah itu

tak ada yang tahu

hanya ekor sapi yang kebat kebit

mengusir lalat hijau sebesar jempol

menghisap pantat coklat bahenol


sepasang kemanten terus menari nari

seiring musik rancak bersahut

dalam rimba kata kata

terdengar cempreng di pengeras suara

yang hampir pecah

kaki kiri dan kaki kanan bersijingkat seirama saronen

kepala berlengak lengok

gemerincing genta

terpasang di leher

seperti orang berzikir

dengan pakaian warna warni

hijau pupus, merah lembayung dan kuning langsat

bagai keberanian sedang dipertaruhkan

dengan doa sekerabat dekat

dan puja puji dari nyanyian ilahi


orang orang bertepuk tangan

sambil melambai lambaikan masa lalu

dengan kaki gemetar terkena busung lapar

melepas upacara yang sedang dihelat

apakah akan lulus memasuki kehidupan


dua cermin yang terpasang

di kanan kiri gapura

memantulkan bayang bayang hitam

diselingi cahaya cahaya yang kemilau

dua sapi saling berebut simpati

dalam tarian purba yang wingit

di depan cahaya

mereka berdua berlutut

memberi sembah

dengan dua kaki tertekuk

sujud kehidupan dan sujud maut

kepada ilahi

musik mengalun kembali

dalam seruling yang meninggi

seolah suara terompet dari

yang maha jauh


di balik kelambu

sepasang kemanten sedang bercengkrama

menghitung keuntungan

dengan baju baju baru

perhiasan baru

hadiah baru

sambil ekornya

mengibas ngibas

kiri kanan

mengusir

kesunyian

lalu

saling

berbelit

dalam

diri


*Sapi Sonok, sapi Madura yang dilombakan keindahan dan kepandaiannya menari diiringgi musik.

Gapura-Sumenep 2005

(Kompas 6 November 2005)