Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Oktober 2011

SABDA DARI NERAKA

SABDA DARI NERAKA

Oleh : S Yoga

Dari beberapa manuskrip puisi dalam rangka lomba FSS 2011, brtema anomali, rata-rata puisi yang ada masih dalam eksplorasi bahasa yang standar, dengan capaian puitik yang juga sama, dengan yang sering kita jumpai di koran-koran, kecuali dua manuskrip dan salah satunya Syair Pemanggul Mayat karya Indra Tjahyadi. Puisi-puisi Indra merupakan apokaliptik, surealisme, dengan bahasa teror, menderam, liar dan tak terduga, ada keterputusan gramatikal dan kekacuan pikiran. Membuat kita tersesat dalam strukturalisme puisi-puisinya. Indra berdiri dari realitas yang asing, sebuah menara kegelapan sambil memfirmankan, sabda dari neraka dunia. Dan kegelapan ini telah membawaku sampai pada sebuah/sungai, tempat mereka membakar mayat-mayat tak/dikenal......hujan merah yang memancar dari wajah/iblis yang mengangkut seribu kisah bayang-bayang/dan kegelapan, sajak Inferno. Membaca puisi-puisi Indra, saya teringat lukisan Salvador Dali, ada jam dan perempuan meleleh, serta lukisan-lukisan surealisme yang menakjubkan, ganjil, unik dan anomali.

Bagi Indra surealisme adalah jawaban dan gambaran yang tepat dari realitas sosial yang mencekam, represif dan informasi yang tak bisa dipercaya. Hingga tema puisi-puisinya didominasi kecemasan, seolah dunia merupakan neraka dan harus dihancurkan guna memulai tatanan dunia baru. Surealisme, super realis, “yang melampaui kenyataan”, begitu menurut pencipta istilah tersebut; Guillaume Apollinaire, mulai diperkenalkan oleh Andre Brenton-penyair Perancis, pada tahun 1924, ia mencetuskan Manifesto Surealisme. Andre Breton menyerukan pembebasan potensi-potensi terpendam dalam diri manusia, di alam bawah sadar, yang telah terkekang oleh rasio dan kebiasaan, membiarkan imajinasi liar bekerja secara bebas.

Dalam puisi-puisi surealisme, apokaliptik, penyair berharap menemukan paduan antar kata dalam sebuah metafor yang mengejutkan dan baru, tidak terpancang pada logika struktural dan konvensi umum sebuah puisi. Mereka mencoba menerapkan temuan psikoanalisis Sigmun Freud dari Austria antara tegangan id dan ego. Yakni antara naluri-naluri dan hasrat-hasrat utama kita (id) dan corak perilaku kita yang lebih beradab dan rasional (ego). Freud percaya bahwa, mengesampingkan desakan tuntutan untuk menekan hasrat-hasrat, yang ada di pikiran bawah sadar tetap menampilkan dirinya, terutama ketika pikiran yang sadar melonggarkan cengkeramannya; dalam mimpi, mitos, corak kelakuan ganjil, terpelesetnya lidah, ketidaksengajaan dan seni. Dalam pencarian untuk mendapatkan akses ke alam pikiran bawah sadar, para surealis menciptakan bentuk dan teknik baru seni yang radikal.

Puisi gelap, apokaliptik dan surealisme, tidak rasional, sebenarnya sudah marak pada tahun 1950-1960, di mana pada waktu itu banyak puisi yang susah dimengerti dan dinikmati. Kemudian muncul juga pada tahun 70 dan 80-an, misal lewat puisi-puisi penyair Kriapur, Solo. Seolah gelombang yang secara siklus terus mengempur kesadaran rasional kita di zaman modern. Puisi-puisi dalam Syair Pemanggul Mayat, seolah-olah melakukan pelarian kedalam keterasingan terhadap pikiran-pikiran pembaca, mengambil jarak, menjauhi akal sehat dan imajinasi pembacanya. Puisi-puisinya sangat subjektif, alienasi dirinya terhadap dunia sekitarnya. Sarat imajinasi, pembebasan imaji, dan metafor, kata-kata adalah imajinasi. Yang seringkali meloncat-loncat, tidak sinkron, retak-retak dari bangunan imaji sebelumnya. Puisi dipahami sebagai sebuah teks (writerlytext) yang cerai berai, retakan-retakan peristiwa. Dalam gelap rimba imajinasi, kita berharap bisa mendapatkan sejumput kearifan dan keindahan yang dilanturkan. Diperlukan studi intertektualitas-Julia Kristeva, untuk menguak modus operandi puisi yang tidak bisa sekedar didekati dengan strukturalisme. Macam puisi Indra Tjahyadi dan Afrizal Malna. Bila dalam puisi-puisi Afrizal Malna melakukan teror lewat diksi-diksi urban-budaya masa, Indra melakukan teror lewat maut, kecemasan, kehampaan, anomali dan hal-hal yang seram-seram. Seolah sabda dari neraka.

Karena itu dalam menelaah puisi semacam ini, perlulah juga melihat struktural semiotik dan latar seting sosial budaya. Di mana kondisi sosial dan politik yang sedang berkembang, di mana kepastian politik, sosial, dan hukum (ketidakadilan) sangat berperan. Namun kegelisahan Indra dalam manifestasinya tidak muncul dalam karya sastra kritik sosial atau puisi protes. Indra lebih memilih dalam gambaran dari bentuk pemerintahan yang reprensif itu sendiri. Dalam wadah sebuah ekspresi simbolik yang subyektif. Yang mencerminkan sebuah zaman kegelapan, di mana struktur kekuasaan yang otoriter dalam tataran sosial, ekonomi dan hukum begitu dominan, keterasingan masyarakat begitu mengedepan. Maka puisi-puisi Indra benar-benar kelam, cemas, seram, gelap, erotis, liar, sebagai bentuk perlawanan realitas sosial yang ada, yang ingar-bingar dengan kekerasan, penembakan, pembunuhan, pengusuran dan ketidakadilan yang merajalela, di mana hukum menjadi barang dagangan dan kebijakan menjadi persengkongkolan (partai) politik.

Sehingga wajar bila judul-judul puisi Indra yang serba seram, menakutkan dan liar; Kembali ke Neraka, Syair Penyair Pemanggul Mayat, Jisim Requim Muram Hantu-Hantu, Hantu Pasir, Siulan Hitam Raut Kematian, Kulukis Mayatku, Terkurung di Dasar Maut, Mata Mayat Penyembelih Kupu. Kata-kata neraka, maut, labirin, mayat, hantu, kematian, kegelapan dan bayang-bayang seolah-olah menjadi kata-kata kunci dalam puisi-puisi Indra.

Rupanya Indra lebih memilih sebuah paradigma atau ideologi dalam perjuangan literernya yakni surealisme yang cenderung kedalam kegelapan, di mana bentuk-bentuk strukturalisme kaku ia tentang. Hingga bila memahami puisi Indra dengan cara strukturalisme baku maka akan sia-sia, yang akan ditemui hanyalah kegelapan semata. Karena puisi Indra adalah retakan-retakan realitas yang tidak bisa atau terpahami lagi, karena kegelapan peristiwa yang ada, realitas yang ada bagai jaring-jaring labirin yang tak bisa diurai dan ditemukan siapa pelaku, bagaimana bisa terjadi, apa yang terjadi sebenarnya, dan bagaimana bisa keluar dari kenyataan yang ada. Indra tak bisa memahami realita itu semua, karena yang ada hanya kabar burung tanpa ada sebuah kebenaran yang bisa dipengang.

Bila hingga kini Indra masih tekun menulis dengan cara demikian, puisi apokalitik, gelap, surealisme, berarti ia masih meyakini bahwa pada zaman sekarang ini, yang katanya menjunjung demokratisasi dan keterbukaan ternyata masih menyimpan labirin-labirin kegelapan yang susah untuk dibongkar, semisal mafia peradilan dan korupsi rente dalam sebuah birokrasi. Maka Indra memilih menjelajahi dan merayakan alam mimpi dan pikiran bawah sadar, yang menekankan pada irasionalitas kemanusiaan.

***

S Yoga

Penyair, prosais dan esais.

Anggota Komite Sastra DK-Jatim.








SEPOTONG CINTA YANG TERBELAH

SEPOTONG CINTA YANG TERBELAH

Oleh : S Yoga

Sudah menjadi rahasia umum, bahwasanya cerpen-cerpen yang biasanya kita kenal di media masa, atau lebih dikenal dengan cerpen koran, cenderung bersifat informatif, dari berita ke cerita. Mereka mencoba mengekalkan laporan jurnalistik ke dalam sebentuk cerita. Kadang-kadang tanpa memperhatikan seluk beluk hakikat cerpen itu sendiri, seolah-olah cerpen hanyalah tulisan informatif, bahasa menjadi alat penyampaian pesan, tanpa memperhatikan bagaimana cerpen itu sesungguhnya dipertaruhkan. Apa sekedar dengan tema besar, pesan menohok, alur-plot dramatik, penuh suspens yang dipaksakan. Atau sebenarnya cerpen hanyalah hakikat sastra itu sendiri yakni tulisan, di mana tulisan atau lebih tepatnya racikan cerita mampu memberikan kehidupan tersendiri bagi cerita yang hendak dikisahkan.

Memang seringkali kita jumpai kisah dalam cerpen-cerpen koran pada umumnya telah tersingkir, dan hal ini telah disinyalir oleh Kutowijoyo dekade 90an. Dan yang lebih mengedepan adalah pesan, yang mengendarai bahasa, bahkan lebih tragisnya, pesan itu pada prinsipnya bukan suara tokoh-tokoh dalam kisah tersebut, mereka hanya dipinjam namanya untuk menyuarakan opini pengarangnya. Maka tak heran kalau kita jumpai banyak cerpen seolah artikel opini, yang kebetulan dibuatkan kisah, seting, alur dan tokoh. Cerpen berubah fungsi menjadi juru kampanye kemiskinan, kebenaran, politik-sosial-hukum, ketidakadilan, dan tentu saja cinta yang melankolis. Cara ungkap mereka seperti sastra didaktis, moral yang tersurat. Mereka mengabaikan kesadaran berbahasa, pernak-pernik dan detail, rincian cerita, serta kesabaran berkisah.

Ibarat sebuah lukisan, semua detail-detail, pernik-pernik obyek lukisan mampu dituangkan ke dalam kanvas dengan baik sehingga ujud yang hendak dikisahkan benar-benar sempurna. Kalau mau melukis wajah maka semua elemen wajah, bahkan hingga pori-porinya dapat terdeteksi, begitulah dunia cerpen sebenarnya terwujud, tentu saja dengan suntingan agar cerita tetap wajar dan memikat, di mana daya simpati dan empati tetap terjaga. Kadang kita membaca tanpa sadar terombaang-ambing ke dalam cerita itu karena tidak dapat menebak racikan cerita berikutnya. Pembaca menjadi subyek aktif dalam kisah yang dibacanya. Bukan menjadi obyek sang pengarang dalam menyampaikan pesan, seolah-olah mendudukkan si pembaca sebagai seseorang yang bodoh dan perlu dikhotbahi, diceramai tentang kebajikan dan lain-lain. Dengan bahasa yang gagah bak politisi, kyai, pendeta, pejabat, memberikan wejangan pada pembaca, seolah kebenaran hanya mereka yang tahu.

Demikianlah gambaran umum lomba manuskrip cerpen FSS 2011 yang mengambil tema Anomali, bahasa cerpen didudukkan pada bahasa sebagai alat penyampian pesan, bahkan berusaha sebagai agen perubahan, tak beda dengan watak jurnalistik. Padahal kita tahu sastra adalah kisah itu sendiri, yang memberikan keaktifan kepada pembaca untuk menafsir ulang, bahkan berulang-ulang, akan menemukan hal yang baru, tidak sekedar kesan dan pesan yang tersurat. Ada pernik-pernik yang menarik di dalamnya, bisa cerita itu sendiri, bahasa, racikan bercerita. Pernik-pernik inilah yang bisa membuat sebuah cerpen menjadi menarik dan memikat. Tidak terburu-buru menjalin kronologis demi mengejar dramatik, sehingga bahasa menjadi propaganda si penulis dalam menyampaikan pesan, bahasa menjadi tidak wajar. Mestinya bahasa tumbuh dari darah dan daging kisah dan tokoh yang ada dalam cerita itu.

Bahkan sebagian besar peserta lomba tidak siap dengan apa yang dinamakan manuskrip lomba cerpen, sehingga antar lini cerpen tidak memiliki kekuatan yang merata. Misal dari 10/15 cerpen yang ada, hanya 3-5 cerpen saja yang memiliki kekuatan atau unggulan, lainnya hanya untuk memenuhi ketebalan halaman. Kumpulan cerpen itu menjadi njomplang, tidak seimbang. Namun untunglah kita menemukan manuskrip cerpen La Rangku, yang antar lini cerpennya memiliki keseimbangan kualitas, sehingga layak untuk diterbitkan ke dalam sebuah kumpulan cerpen.

La Rangku, sendiri merupakan tokoh dalam mitos, cerita rakyat suku, masyarakat Muna di Sulawesi Tenggara, yang dikorbankan orang tuanya guna menggapai sesuatu yang diinginkan. Dalam tradisi masyarakat Muna kemudian dikenal dengan festival layang-layang setelah panen tiba, sebagai penghormatan. Dalam manuskrip La Rangku karya Erlang Niduparas, bahasa sebagai piranti cerita cukup disadari, kesadaran berbahasanya cukup tinggi dalam kaitan cerpen sebagai karya sastra, sehingga ceritanya nampak hidup, bukan dihidupkan dengan bahasa pesan pengarangnya, namun bahasa mensublim dalam bentuk cerita. Dari peristiwa ke peristiwa mampu ia racik dengan kesadaran bahasa yang baik. Tidak seperti umumnya cerpen koran yang ada, meski cerpen-cerpen ini sebagian juga dimuat di koran. Namun mampu menunjukkan jati dirinya sebagai cerpen yang benar-benar berwatak sastra. Tema atau motif utama kadang hanya dikesankan dan disiratkan saja.

Semua cerpen dalam La Rangku, diikat dalam tema utama, yakni tentang cinta (pengorbanan, perceraian, perselingkuhan, cinta terlarang, ketersaingan dan kehilangan). Tema ini memang sangat umum dan biasa-biasa saja, namun demikian di tangan Erlang Niduparas, kisah tersebut menjadi unik dan menarik, misal dalam Gaco, yang merupakan sebuah alat dan permainan anak-anak, yang bisa berubah menjadi simbol perselingkuhan dan seksualitas. Demikian juga dengan judul-judul lainya semisal Sula, Tarawengkal dan La Rangku, yang memanfaatkan tradisi dan kisah rakyat menjadi cerita yang menarik tentang terkoyak dan terbelahnya cinta manusia. Entah kebetulan atau tidak dari masing-masing cerpen ada yang interteks, saling terkait-mengisi-berkelindan dalam keterbelahan cinta. Ada kegetiran dan ironi dalam beberapa karya-karyanya yang dibalut kemiskinan. Bagaimana memaknai rasa cinta kasih dalam deraan kemiskinan, di mana tokoh-tokohnya melarikan diri dalam sikap yang irasional, fatalis dan traumatik. Sebagian cerpen dalam La Rangku, menguak disharmonis keluarga yang diakibatkan oleh kemiskinan, dalam karya-karya Sam Shepard, Sumpah Serapah Kaum Lapar dan Anak yang Dikuburkan, hal tersebut juga mengedepan dan menjadi titik tolak drama-dramanya, di mana cinta menjadi barang langka karena telah tergadaikan dan terkoyak-koyak oleh situasi sosial dan ekonomi, antara ayah, ibu dan anak saling mengkhianati, orientasi cinta telah terbelah.

Gaya bercerita Niduparas memanfaatkan ambang, arus kesadaran, stream of consciousness ala James Joyce, kilas balik, lamunan, masa kecil, mimpi, harapan dan angan-angan, saling berkelindan dalam cerpen-cerpen Niduparas. Bahkan dalam cerpen, Aku Harus Tidur, Purna, Niduparas mengutip sebuah judul novel James Joyce, A Potrait of the as a Young Man, hal ini menunjukkan pengarang mengagumi-terpengaruh oleh gaya bercerita James Joyce, stream of consciousness, yang kemudian ia praktekkan dalam cerpen-cerpennya, tentu saja dengan gayanya sendiri. Kadang pembaca tidak sadar bila cerita telah berpindah ruang dan waktu. Gramatikal bahasanya sering puitik, menjaga rima dan irama, serta perbadingan dan simbolisasi yang tak terduga, dengan tetap menjaga realitas cerpen itu sendiri. Apakah cerpen-cerpen Niduparas juga semacam otobiorafi dirinya, seperti novel James Joyce, karena didominasi akan rasa kehilangan kasih sayang dari orang tua, baik itu karena diterlantarkan, perceraian, maupun kematian, hanya Niduparas yang tahu, kelak bisa ditanyakan sendiri.

Cerpen-cerpen dalam La Rangku, memiliki landasan atau pijakan pada cerita rakyat atau tradisi yang menjadi subyek utama Niduparas. Menjadi ambang antara tradisi dan modernisme, ambang antara agama dan kepercayaan, ambang antara rasionalitas dan irasionalitas-magis, lokal dan global. Meski berkisah tentang realitas yang biasa kita jumpai, namun penyampian, bentuk cerita tidak realis murni. Kadang kita dikejutkan setelah usai membaca ceritanya. Dan inilah salah satu kumpulan cerpen yang mungkin bisa menyelamatkan kita dari amuk cerpen-cerpen topikal pada umumnya yang sering menghiasi surat kabar.

S Yoga

Penyair, prosais dan esais.

Anggota Komite Sastra DK-Jatim

.

Minggu, 05 Desember 2010

SASTRA INDONESIA DI PERSIMPANGAN JALAN

Sumber, Jawa Pos, Minggu 5 Desember 2010
Sastra Indonesia di Persimpangan Jalan
Oleh : S Yoga*

Sebagian pengamat sastra menyatakan bahwa sastra Indonesia saat ini berada dalam status quo, jalan ditempat. Bahkan ada yang mengganggap mengalami kemunduran jika dibanding dengan sepuluh tahun yang lalu. Padahal, secara kuantitatif, banyak karya sastra yang diterbitkan, banyak pula sastra asing yang sudah diterjemahkan, banyak even sastra, lomba dan diskusi. Begitu pula sudah sangat terbuka penerbitan buku maupun media masa yang mengakomodasi karya sastra. Lalu bagaimana kondisi yang sebenarnya?
Bila kita cermati, perkembangan sastra sepuluh tahun terakhir, memang ada dinamika yang menarik. Pertumbuhan komunitas-komunitas cukup pesat, entah atas nama apa pun komunitas itu terbentuk. Juga, media masa memiliki peran yang cukup signifikan dengan pertumbuhan sastra di Indonesia. Penerbitan-penerbitan pun ada dimana-mana, baik yang berskala besar maupun kecil. Demokratisasi karya sastra menunjukkan perkembangan yang cukup pesat. Festival, even-even dan lomba karya sastra pun marak. Lalu, mengapa perkembangannya sastra Indonesia masih dianggap jalan ditempat? Tentu karena ukurannya masih kuantitas. Belum kualitas. Itu bisa kita telusuri dari beberapa penyebab sehingga sastra Indonesia berada di persimpangan jalan.

Hegemoni Komunitas
Pertama, banyak padangan yang menyatakan bahwa sastra Indonesia dihegemoni oleh estetika (komunitas) tertentu yang dominan dan memiliki jaringan atau kekuatan kapital yang cukup besar. Dengan demikian, banyak sastrawan yang mengikuti mazhabnya dan banyak pula yang melakukan resistensi. Entah apa pun alasannya. Upaya hegemonik dilakukan oleh banyak komunitas dengan saling mencari dan memperbanyak pengikut. Antara yang dilawan dan yang melawan memiliki ideologi yang saling menyerang dan tidak mau dikalahkan, (padahal demokrasi sedang didengung-dengungkan), yang bisa jadi bersangkut paut dengan estetika sastra atau justru diluar estetika sastra. Artinya, ini sebuah pertarungan ideologi yang bersumber pada perebutan kedudukan atau kekuasaan sastra Indonesia. Setiap mereka ingin dianggap sebagai pelaku utama sastra Indonesia.
Yang sering terjadi adalah perdebatan yang bukan bersumber dari karya sastra, tapi hal-hal diluar karya sastra. Kalaupun perihal karya sastra, perbedaan yang mencolok antara karya mereka -baik yang ditentang maupun yang menentang- pada umumnya memiliki kekaburan untuk bisa dibedakan dengan jelas. Artinya, karya-karya mereka masih memiliki cara pandang yang sama dalam memaknai kesusastraan Indonesia. Bahkan, kalau kita melihat secara seksama para pelaku ternyata menyandarkan diri pada estetika tertentu yang mereka anggap sebagai kanon. Para pelaku maupun pengikutnya memandang karya sastranya harus atau kurang lebih sama dengan karya-karya kanon tersebut. Jadi, tidak terjadi sebuah pemberontakan dari konvensi yang sudah ada.
Bukan sekadar masalah penyeragaman karya. Namun, hal ini menyangkut mentalitas sastrawannya yang cenderung mengalami ketergantungan estetika. Mereka merasa aman dalam jalur-jalur estetika yang dominan, terus menerus mengamankan status quo, sehingga karya-karya yang diasilkan pun jalan di tempat. Sastrawan yang demikian telah memiliki “helm” estetika komunitas tertentu sehingga mereka ogah keluar dari estetika yang mereka anut.

Sastra Koran
Kedua, kritik sastra Indonesia hari ini telah direbut oleh redaksi-redaksi media massa. Kita tidak menjumpai lagi apa yang dikenal dengan “Paus Sastra Indonesia” yang bisa menasbihkan atau melegitimasi seseorang untuk menjadi sastrawan. Yang ada, kritik sastra yang telah mengalami demokratisasi yang berwujud pada muncul redaksi-redaksi (halaman sastra dan budaya) media massa, pembaca-pembaca yang trampil (bisa jadi antarteman sastrawan) dan editor-editor penerbitan. Penentuan baik buruk karya sastra telah dilakukan oleh orang-orang yang memiliki otoritas tertentu yang berkaitan dengan pekerjaan atau tugas, dan akhirnya melakukan pembesaran dalam sastra Indonesia. Bukan di tangan kritikus an sich. Sebab, kritik sastra juga telah bergeser ke dalam bidang seni kritik, memperkaya makna karya sastra dan tidak lagi menentukan baik buruk karya sastra. Bahkan, kritik sastra yang kerap muncul berbicara di luar teks sastra itu sendiri.
Dalam kondisi yang seperti itu, estetika karya sastra mengalami pemampatan, keterbatasan pada kemampuan redaksi-redaksi media massa dan editor buku. Pola ini menunjukkan bahwa karya sastra tidak memiliki independesi mutlak atas kebebasan berkreativitas. Para redaksi dan editor telah membentuk sebuah pola esetika sastra yang harus dituruti oleh para sastrawan, baik yang menulis prosa maupun puisi. Akibatnya, banyak sastrawan yang mempelajari pola-pola yang ada untuk memasukkan karya sastranya ke dalam wilayah estetika sastra yang tidak steril tersebut. Menghamba dalam estetika tertentu demi bisa menyalurkan karya-karyanya. Sekali lagi, itu menunjukkan bahwa sikap ketergantungan pada konvensi estetika sastra yang dominan masih menggejala.
Jiwa-jiwa pemberontakan dalam hakikat sastra menjadi lenyap, berubah menjadi penurut dan tunduk pada estetika tertentu. Maka, dikenal pula apa yang kita sebut dengan estetika sastra koran yang kurang lebih memiliki kriteria-kriteria yang hampir sama di antara beraneka ragamnya media massa.
Bila kita bandingan karya sastra hari ini, kumpulan cerpen, misalnya, dengan yang dihasilkan sepuluh tahun yang lalu, terasa sekali adanya penurunan kualitas. Kalau ada yang kualitasnya tetap bertahan, itu pun masih dalam posisi jalan ditempat. Itu pun umumnya dilakukan oleh pengarang-pengarang lama yang tidak juga menunjukkan grafik peningkatan kualitas karyanya. Kalau dia menulis sepuluh tahun yang lalu, kita nilai 8, dia menulis sekarang pun nilainya masih sama, bahkan bisa turun. Buku-buku kumpulan cerpen di Indonesia umumnya merupakan cerpen-cerpen yang pernah dimuat di media massa. Dewasa ini kita tidak menemui kumpulan cerpen yang memang diniatkan untuk dibukukan dalam bentuk buku. Kalaupun ada yang menerbitkan buku cerpen yang semua karyanya belum dimuat di media massa, format dan estetika sastranya pun tidak jauh-jauh dari sastra koran.
Dalam perlombaan-perlombaan pun, sering kita jumpai karya sastra yang menstandarkan dirinya pada estetika sastra koran. Padahal, lomba tersebut sudah memberikan kebebasan jumlah halaman, bahkan kadang termasuk jadi temanya. Karena itu, estetika sastra koran yang digawangi redaksi media massa menjadi virus tersendiri dalam jagat sastra Indonesia. Para sastrawan akhirnya memiliki ketergantungan estetika koran dan tidak mau keluar dari konvensi yang bisa jadi telah membesarkan namanya.

Selera Pasar
Ketiga, dengan maraknya penerbitan-penerbitan di tanah air, sikap kritis terhadap hakikat karya sastra itu sendiri menjadi luntur. Bagi penerbit, kapital menjadi hal yang utama karena hal tersebut berkaitan dengan bisnis. Mereka tidak mau merugi karena menerbitan karya sastra sehingga mereka harus memilih atau memiliki estetika sastra yang berpedoman pada selera pasar. Bila pasar itu mampu menghimpun kapital yang paling besar, karya sastra yang sesuai dengan estetika tersebutlah yang akan diikuti. Seperti sudah kita ketahui bahwa kapitalis tidak memiliki ideologi yang pasti. Ideologinya cuma satu: keutungan atau uang. Karena itu, penerbitan di Indonesia memiliki peran yang cukup besar dalam menstandarkan estetika sastra yang ada ke wilayah-wilayah yang lebih profan. Estetika pasar pun berkembang. Banyak sastrawan yang menyandarkan dirinya pada estetika itu agar karya-karyanya dapat diterbitkan dan berharap menjadi bestseller. Padahal kita tahu logika kesusastraan berbeda dengan logika pasar.
Dalam perkembangannya, maka mentalitas-mentalitas sastrawan diuji oleh sebuah magnet estetika pasar. Itu pulalah yang akhirnya membuat ketergantungan sastrawan pada kemauan penerbit. Sekali lagi, jiwa independensi sastrawan menjadi terabaikan. Mereka menulis apa yang sedang digandrungi pasar. Bisa berbasis agama, sekualitas, etnis, multikultur, sains, sejarah maupun budaya pop. Tak pelak sastra dekade ini digempur habis-habisan oleh sastra pop yang sering menyaru dalam khazanah kesusastraan Indonesia. Karena itu pula, logika pasar umumnya tidak jauh-jauh dari logika budaya pop, sebuah hiburan dan kesenangan sesaat, tidak ada kegelisahan dan kontemplasi.
Ulasan di atas tentu saja merupakan kecenderungan umum yang terjadi di khazanah sastra Indonesia sampai hari ini. Adapun pengarang-pengarang yang masih memiliki militansi yang kuat umumnya menyiasati ruang-ruang yang ada, namun juga tidak bisa lepas dari estetika yang sedang dominan. Belum berani keluar dari konvensi sastra yang sudah ada. Karena itu, terasa sekali karya-karyanya kurang berkembang atau itu-itu saja. Tidak ada dinamika dalam hal estetika dan kualitasnya.
Pergulatan estetika sastrawan semestinya bisa benar-benar lepas dan luas. Tidak terbayang-bayangi atau bergantung pada estetika-estetika yang selama ini mengelayuti sastra Indonesia. Sayang, saat ini sastwawan kita lebih memilih mentalitas atau spiritualitas sebagai selebritis sastra (ingin segera dikenal) daripada mengolah spiritualitas batin estetikanya. Mereka mengganggap sastra Indonesia seolah-olah telah menemukan masa puncaknya pada estetika sastra koran, komunitas dan selera pasar. Padahal, menurut William Faulkner, sastrawan yang mudah puas, sama saja dengan bunuh diri.
*)Penyair

Senin, 22 November 2010

Realisme dan Sastra Multikultur, Dimuat di Jawa Pos 31 Oktober 2010

REALISME DAN SASTRA MULTIKULTUR
MASA DEPAN SASTRA KITA
Oleh : S Yoga

Dalam perkembangan sastra kita, dinamika sejarah sastra dunia, sangat berpengaruh. Tengok Pujangga Baru, yang merupakan gema dari angkatan 80 di negeri Belanda. Angkatan Gelanggang atau angkatan 45, yang digemai oleh sastra dunia yang memiliki konsepsi modernisme. Demikian juga dengan dekade 70an, lewat eksistensialisme dan absurditas. Termasuk juga polemik sastra, karya sastra yang bersifat postmodernisme, yang merupakan gema yang sudah berkecamuk pada tahun 70an di Eropa. Tak ketinggalan polemik sastra kontekstual, yang merupakan gema dari gerakan sastra multikultur yang mengejala di sastra dunia hingga kini.

Realita Sosial
Dalam perkembangan sastra kita selama satu abad ini, selalu dijiwai oleh sastra realisme, kita perhatikan semenjak Siti Nurbaya tahun 1920an hingga para pemenang Lomba novel DKJ, 1998-2008, banyak didominasi oleh sastra realita sosial. Yang berangkat dari pengalaman pribadi dan hasil penelitian. Fenomena ini bisa kita jelaskan, dari perkembangan sastra koran dan majalah, yang berkembang sejak lahirnya kesusastraan modern tahun 20 hingga sekarang ini.
Karenanya kehidupan sastra kita lebih banyak didominasi oleh sastra yang bersifat realis, relevan dengan berita atau isi koran dan majalah yang juga menyuarakan realita yang terkini. Sastra dimasa depan, kiranya juga masih akan didominasi oleh sastra realita sosial. Meski bisa jadi media akan berubah menjadi dan berada dalam dunia maya, tapi watak-watak jurnalismenya akan tetap sama, apalagi dalam dunia maya, kepedulian sosial akan semakin tinggi, dimana facebook dan sejenisnya akan memainkan peran penting dan cepat.
Belum lagi problem sosial-politik-ekonomi-hukum di Indonesia yang juga belum beres-beres, sehingga akan memunculkan realita-realita yang dengan mudah bisa menjadi bahan para sastrawan kita. Karena perkembangan sastra pada umumnya, bergandeng tangan dengan perkembangan kebangsaan, pemikiran, dan filsafat pada zamannya. Dalam dinamika realita sosial seringkali sastra realis ini jatuh sebagai dokumen sosial bila benar-benar tidak cermat, sehingga kritik sastra pun bicara tentang intertekstual secara sosial, berkecenderungan untuk bicara hal-hal yang berada diluar karya sastra. Dalam kondisi bangsa yang mengalami ketimpangan sosial, kemarginalan, ketidakberdayaan kaum bawah, kapitalisme menyeruak, politik gelang karet, mafia kasus hukum, demokrasi semu, kehidupan ekonomi yang tidak stabil, kerusakan lingkungan hidup dan goncangan-goncangan keterpecahan bangsa, masih bergetayangannya para teroris. Maka problem-problem sosial ini masih banyak akan mewarnai kehidupan sastra kita dimasa depan, meski bagaimanapun bentuk bahasa dan media sastra nantinya.
Sementara itu dalam kehidupan yang semakin pragmatis ini dan nantinya, maka kehidupan sastra pun akan mengalami pergeseran-pergeseran, dimana sastra yang bersifat serius akan terus digempur oleh kehidupan sastra pop, karena orang secara fisik sudah lelah dan capai oleh kesibukkan dan rutinitas. Ingin mencari sesuatu yang pragmatis dan mendapatkan kenimataan sesaat dan budaya poplah jawabannya, termasuk juga sastra pop yang akan memberikan jawaban.

Sastra Multikultur
Dan dimasa depan mungkinkah migrasi bahasa akan benar-benar terjadi, beralih mengunakan bahas Inggris. Jika hal itu terjadi resikonya, para pengarang akan dianggap, hanya meneruskan, hypogram dari karya-karya pengarang Inggris. Ketika bahasa Inggris yang digunakan tidak mampu melakukan resistensi terhadap bahasa Inggris yang sudah ada. Seperti yang dikatakan Ngugi Wa Thiongo, seorang novelis Kenya yang tinggal di New York, yang juga menulis dalam bahasa Inggris, bahwa para penulis Afrika yang menulis dalam bahasa Inggris tidak akan pernah memproduksi sastra Afrika tapi hanya memproduksi sastra Inggris. Baginya bahasa bukanlah sekedar alat, tapi merupakan pandangan dunia si pengarang. Dan pada akhirnya Ngugi Wa Thiongo, kini menulis dalam bahasa ibu-sukunya, Kikuyu, yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Ini artinya bahwa pengarang itu lebih nyaman, sreg, mengunakan bahasa ibu dalam menghasilkan karya sastranya, dalam mengungkapkan-cara pandang dunia-jagad batinnya. Yang bisa jadi akan kehilangan unity-nya, kesatuannya, bila diungkapkan dalam bahasa lain. Sehingga bila kita cermati para penulis sendiri selalu mengalami ketegangan dalam memilih bahasa.
Namun bila mampu melakukan pewarnaan dalam karya sastra yang berbahasa Inggris, dengan melakukan percampuran atau penyerapan-penyerapan. Hingga corak karya sastra yang dihasilkan memiliki citra rasa yang berbeda dengan karya sastra berbahasa Inggris yang sudah ada. Dan karya sastra yang demikian sebenarnya sudah terjadi, dan sudah banyak dilakukan oleh para pengarang keturunan India, Cina dan yang lainnya, misalnya, seperti apa yang dilakukan Bharati Mukherjee, Vikram Seth, John Updike, Joyce Carol Oates, Maxine Hong Kingston, Salman Rushdie, Kazuo Ishiguro, yang pengucapan karya sastranya, mencerminkan situasi kontemporer. Termasuk juga V.S. Naipaul-Trinidad-Tobago, Ben Okri-Nigeria, Michael Ondaatje-Kanada, Derek Walcott, Caryl Philips-Karibia, Keri Hulme-Selandia Baru, Timothy Mo, Rohinton Mistery, Chinua Achebe. Bukan hanya kualitas karyanya, namun adanya kontribusi terhadap perbendaharaan kosa kata dan tata bahasa Inggris. Dengan tema tarik ulur antar identitas, tradisi-modern, dan silang sengkarut kultur yang mereka jelajahi. Sehingga terjadi kerumitan identitas dalam merumuskan jati diri, polibudaya, muncul impresi India, Cina, Jepang dalam khazanah sastra Inggris. Lewat bahasa maupun tema-temanya, sehingga bentuk sastranya menjadi berbeda dari kanon sastra Inggris yang selama ini ada.
Dalam dunia global modial, sudah saatnya meleburkan, menceburkan diri kedalam wilayah diaspora kultural maupun bahasa, yang dapat diambil spirit, ilham maupun keunikan, dan menjadikanya sebuah karya yang bersifat hibrida baru. Dan hal ini sebenarnya sejalan dengan isi, Surat Kepercayaan Gelanggang, “Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri.” Sehingga seorang pengarang dapat menyerap, mencuri, khasanah sastra Amerika Latin, Inggris, Rusia, Amerika, Perancis, Afrika, India dan Jepang misalnya, kedalam karya sastra yang diciptakan. Karena pengaruh mempengaruhi begitu pesat terjadi ketika kita mengenal sastra modern. Sehingga kedepan pengarang haruslah bersiap-siap menjadi warga dunia baru. Yang identitas-kulturnya bisa selalu berubah, sehingga setiap saat harus selalu mengidentifikasi dirinya sendiri, karena identitas-kultur yang ada, selalu akan dicampuri oleh identitas-kultur yang baru, yang menyerbu dan mengubah kita meski tanpa kita sadari, budaya baru, ungkapan baru dan karya sastra baru. Yang merupakan pengejawantahan dari keterpecahan dan keterguncangan budaya. Dari identitas yang selalu terbelah ini, kita akan menemukkan jatidiri yang sesungguhnya. Yang merupakan resistensi dari kanon atau budaya yang dominan.
Dari perkembangan sastra kita dari zaman ke zaman menunjukkan gejala yang hampir sama. Diantaranya terjadi tarik menarik antara yang tradisi, modern, sinkretisme keduanya atau postmodernisme. Hal ini bisa kita lihat dari perdebatan-perdebatan yang ada dan karya sastra yang dihasilkan. Dimana watak karya yang mewarisi, mempertimbangkan tradisi selalu hadir semenjak para pengarang melayu lama, Amir Hamzah, Ajip Rosidi, WS Rendra, Sutardji Cazlom Bacri, Linus Suyadi, Korrie Layun Rampan dll, hingga kini. Yang pada hakikatnya mereka mencercap spirit lokal dan hendak disintesakan dengan sastra nasional, bahkan dunia. Karena itu sastrawan Subagiyo Sastrowadoyo, menyatakan, Pengarang Modern sebagai Manusia Perbatasan dan Goenawan Mohamad, memandang, Potret Seorang Penyair Muda sebagai Si Malin Kundang. Ini artinya kita selalu berada dalam perbatasan dan perjumpaan, saling hilir mudik mempengaruhi, bahkan mungkin tanpa kita sadari.
Kedepan dapat kita lihat sastra multikultur akan makin marak. Sedang yang selama ini kita lihat, masih digandoli subkebudayaan-etnis yang terlalu berat. Contoh beberapa karya dari, Linus Suryadi, Umar Kayam, Korrie Layun Rampan, Wisran Hadi dan Chairul Harun. Pada sastra masa depan tentunya akan kita jumpai sastra multikultur yang mampu melakukan sintesa kultur-etnis yang lebih baik. Sehingga menghasilkan sastra hibrida yang memiliki jati diri sendiri, baik itu sastra multikultur yang berbahasa Indonesia atau yang mengunakan bahasa Inggris, bahkan bahasa Inggris bercitra rasa Indonesia.
Namun pada pertengahan Oktober 2010, Kanselir Jerman, Angela Merkel, membuat pernyataan yang mengejutkan. Ia menegaskan, usaha membangun multikulturalisme di Jerman telah mengalami kegagalan total. Bahkan dua partai Uni Demokrat Kristen dan Uni Sosial Kristen, berkomitmen mewujudkan kultur Jerman yang dominan dan menentang bentuk multikulturalisme. Dan pernyataan ini diucapkan dimana neoliberalisme dan global modial sedemikian dahsyatnya. Komitmen itu memiliki arti penting, bahwa identitas nasional menjadi sebuah wilayah yang paling vital dan menentukan. Di Perancis juga sedang membentengi indentitas nasionalnya, dimana bahasa Perancis menjadi hal yang utama, sebagai jati diri bangsa. Ini artinya multikulturalisme yang terjadi hanya semu belaka, basa-basai, sebuah bayang-bayang dari keragaman. Apakah kesemu-semuan itu juga terjadi dalam kehidupan karya sastra. Sastra multikulturalisme yang ada dan akan berkembang hanyalah bayang-bayang kesusastraan yang sesungguhnya. Untuk menjawabnya tentu kita memerlukan telaah yang mendalam. Dan biarlah masa depan sastra sendiri yang membuktikannya.
***
Penyair dan Anggota Biro Sastra DK-Jatim

Sabtu, 28 Agustus 2010

DIBUTUHKAN SASTRA MULTIKULTUR

Sumber Seputar Indonesia, 28 November 2010

DIBUTUHKAN SASTRA MULTIKULTUR

Oleh : S Yoga

Akhir-akhir ini kita begitu dibuai oleh apa yang disebut dengan nasionalisme dan bhineka tunggal ika sebagai slogan pembangunan. Namun demikian apa yang disebut dengan dua hal itu seringkali pada prakteknya hanyalah merupakan hal-hal yang bersifat permukaan, fisikal, semu belaka. Padahal apa yang dimaksud dengan nasionalisme dan bhineka tunggal ika adalah sebuah mentalitas dalam pembangunan ini. Tentu saja mentalitas berkait erat dengan spiritualisme.

Bagaimana mungkin rasa nasionalisme dan bhineka tunggal ika terbagun bila mental-mental seperti fenomena Gayus dan antek-anteknya masih sering terjadi di negeri ini. Mafia hukum, korupsi masih begitu mengedepan. Pola pikir yang terkotak-kotak dalam kesukuan, partai politik, agama dan kepentingan ekonomi masih merajalela. Fenomena anarkisme atas nama kepentingan agama dan suku masih sering terjadi. Misal atas nama ormas, komunitas, suku atau agama tertentu menyerang orang-orang yang merayakan pluralisme, liberalisme, seksualitas dan rekonsilisasi antar isme, tanpa bisa ditangani oleh pihak yang berwajib. Demikian pula peristiwa pembantaian masyarakat Madura di Sambas tempo hari, juga rasa curiga masyarakat Aceh terhadap orang Jawa, yang merupakan imbas militerisme di NAD. Belum lagi rasa tidak aman agama-agama tertentu dalam menjalankan ibadah, hal ini menunjukan adanya keretakan-keretakan dalam makna nasionalisme dan kebhinekatunggalikaan.

Konflik Etnis

Karena itu dibutuhkan sastra multikultur, untuk menjembatani konflik-konflik etnis atau SARA, yang seringkali melanda negeri ini. Apalagi negara kita terdiri dari berbagai etnis dan agama, yang sangat mudah untuk disulut kemarahan dan anarkismenya, sebab merupakan sesuatu yang sangat sensitif, berkaiatan dengan harga diri dan kepercayaan atau keimanan. Karena itu sangat dibutuhkan adanya sastra multikultur yang mampu mengakui dan membincangkan masalah etnis, kelokalan yang dikadung oleh komunitas itu. Sehingga orang lain mampu memahami dan menyelami makna dari kearifan lokal yang dimunculkan oleh budaya tersebut. Terjadi sebuah dialog kebudayaan.

Ada beberapa contoh sastra multikultural, yang berkaitan konteks konflik pribumi dan orang Cina. Misal Pai Yin karya Lan Fang dan Miss Lu karya Naning Pranoto. Demikian juga karya-karya subkultur lain yang memungkinkan adanya dialog budaya, karya dari Wisran Hadi, Korrie Layun Rampan, Linus Suryadi AD, Umar Kayam, YB Mangunwijaya misalnya.

Juga dalam dinamika sastranya akan dilakukan diskusi-diskusi, pembacaan yang berkaitan dengan muatan sastra multikultur tersebut, disini maka fungsi sastra akan melebar kedalam agen perubahan sosial, dan jaring-jaring budaya yang telah dibentangkan oleh sastra multikultur akan menemukan titik temu, dimana masing-masing puak akan saling bisa memahami akar tradisi, kebiasaan dan pola hidup masyarakat yang diangkat dalam sastra tersebut. Yang dimaksud dengan sastra multikultur ini, tidak hanya yang berkaitan dengan kultur namun juga spirit, mental dan cara padang masyarakatnya. Termasuk juga yang berkaitan dengan agama, masa lalu, sejarah dan politik yang dilakukan oleh masayakat tersebut.

Dalam posisi yang demikian, di samping sastra mampu mengembangkan dinamikan dan variannya, tentu saja tetap dengan memperhatikan mutu atau kualitas karyanya. Maka sastra multikultur akan menempatkan diri sebagai jembatan budaya bagi masyarakat yang ada. Dimana dalam sebuah wilayah baik itu kota atau provinsi, selama ini telah mengalami urbanisasi, dan percampuran masyarakat, yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Terdiri dari berbagai suku bangsa, budaya, pola hidup dan ekonomi. Umunya yang menjadi pergesekan-pergesekan selain SARA adalah faktor ekonomi, dan penguasan-penguasan wilayah yang disebabkan oleh faktor politik atau kekuasaan.

Sastra Hibrida

Disinilah peranan sastra multikultur menjadi sangat penting. Syukur-syukur sastra multikultur yang dihasilkan mampu melahirkan sastra hibrida yang orisinil, dimana dalam karya sastra tersebut tidak digandoli oleh kultur tertentu namun menjadi kultur baru, dari persilangan budaya tersebut, hasil dari perkawinan dua atau lebih kultur yang mendukungnya.

Saat ini kita sadar, bahwa kita hidup dalam dunia global modial, sudah saatnya meleburkan, menceburkan diri kedalam wilayah diaspora kultural maupun bahasa, yang dapat diambil spirit, ilham maupun keunikan, dan menjadikanya sebuah karya yang bersifat hibrida baru. Dan hal ini sebenarnya sejalan dengan isi, Surat Kepercayaan Gelanggang, 60 tahun yang lalu. “Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri.” Sehingga seorang pengarang dapat menyerap, mencuri, khasanah sastra dunia maupun kelokalan, kedalam karya sastra yang diciptakan. Karena pengaruh mempengaruhi begitu pesat terjadi ketika kita mengenal sastra modern.

Kedepan pengarang haruslah bersiap-siap menjadi warga dunia baru. Yang identitas-kulturnya bisa selalu berubah, setiap saat harus selalu mengidentifikasi dirinya sendiri, karena identitas-kultur yang ada, selalu akan dicampuri oleh identitas-kultur yang baru, yang menyerbu dan mengubah kita meski tanpa kita sadari. Yang merupakan pengejawantahan dari keterpecahan dan keterguncangan budaya. Dari identitas yang selalu terbelah ini, kita akan menemukkan jatidiri yang sesungguhnya. Yang merupakan resistensi dari kanon atau budaya yang dominan. Karena itu sastra multikultur yang ada nantinya akan memiliki multidimensi kultur dan identitas. Yang nantinya kita akan sadar bahwa kita semua disatukan oleh sebuah kultur yang bernama kemanusiaan.

***

Penyair dan Anggota Biro Sastra DK-Jatim

Senin, 02 Februari 2009

Puisi, Surabaya dan Peradaban

Gb Tamar Saraseh
Surabaya Post, Minggu 1 Februari 2009
PUISI, SURABAYA DAN PERADABAN
Oleh : S Yoga

Peradaban kota merupakan perwakilan dunia modern. Di mana rasionalitas, efektifitas, efesiensi dan pembagian kerja nampak mengedepan. Dengan lapisan-lapisan masyarakat yang terbagi secara jelas, baik dalam bidang pekerjaan maupun kelas sosial. Dan kelas sosial inilah yang merupakan problem kota besar, di mana kaum yang terpinggirkan atau bagi pejabat yang telah kehilangan moralitasnya. Apakah kota menjadi surga bagi mereka atau sebaliknya menjadi neraka yang mengerikan bagi kehidupan selanjutnya. Memang kota diharapkan menjadi sebuah peradaban yang serba modern, serba praktis dan rasional. Di mana kota menjadi sentral kehidupan dan peradaban yang dijunjung warga kota, dengan teknologi dan kemudahannya. Sehingga warga kota seringkali disebut warga yang modern dan rasional, dibanding warga lainnya yang ada di luar kota, yang identik dengan tradisional dan terbelakang.
Namun kenyataannya kota seringkali tidak seperti yang diharapkan, oleh para pendatang yang berharap mendapat mimpi indah hidup di kota. Kota seolah menjadi lorong gelap dengan struktur sosial yang tidak memihak. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin terpinggirkan. Maka muncul hunian para kaum miskin, gelandangan, pelacuran dan kriminalitas. Kejahatan pun bukan hanya milik kaum terpinggirkan, namun para kaum terhormat kota tak ketinggalan ikut berperan, menjadi koruptor dan pengambil kebijakan yang salah. Inilah peradaban kota yang mengalami dehumanisme dan ketertinggalan budaya. Karena kebudayaan selalu bercita-cita dan merefleksikan dirinya dengan sesuatu yang bermoral dan memanusiakan manusia. Sedangkan peradaban kota cenderung menjauhi moralitas.

Fatamorgana
Tak kecuali kota Surabaya, yang menjadi sumber inspirasi bagi sebagian sastrawan, dengan menghayati kenyataan yang ada. Yang diolah menjadi estetika urban oleh para sastrawan-penyair. Di mana Surabaya dan peradabannya menjadi sebuah wilayah yang patut dimaknai sebagai tanda-tanda zaman. Sehingga banyak sastrawan yang telah menulis karya, baik prosa maupun puisi yang bersumber dari kota Surabaya. Sebut saja Idrus dengan cerpen Surabaya-nya yang terkenal itu, di mana menceritakan kebobrokan moral para pejuang, Pramudya Ananta Toer dengan Bumi Manusia, dengan perjuangan Nyai Ontosoroh yang berseting di wilayah Wonokromo dan sekitarnya, Budi Darma dengan Rafilus, tokoh aneh dan terasing dari peradaban kota sehingga nampak terpinggirkan, bahkan penyair Jerman Berthold Brecht juga pernah menulis puisi berjudul Surabaya Jhony.
Tak ketinggalan para penyair Jawa Timur juga memberikan perhatian khusus terhadap peradaban kota Surabaya dalam karya-karyanya. Dan umumnya karya-karya mereka selalu bernada murung ketika menatap peradaban Surabaya. Misal puisi “Montase Kota Mati”-F Aziz Manna, Di taman makam kota terbaca kisah/ribuan orang bergerak dalam perang/(antara impian dan dendam) payung-payung hitam/meninggalkan masa depan/waktu hanya hitungan, kota hanya sebutan. Sebuah kecemasan akan modernitas yang ternyata kurang membawa keberuntungan bagi kaum pendatang maupun kaum marginal. Sehingga kota hanya sebuah impian bagi para pendatang, yang kalah secara struktural dan hidup sebagai parasit kota. Mereka miskin dan termarginalkan secara struktural, kota tidak punya rasionalitas, bahkan birokrasi yang ada menjadi belenggu, bukannya mempermudah, namun justru memperlambat dan seringkali memunculkan sarang koruptor, dengan banyak pintu dan pungutan. Sehingga kota nampak irasional, penuh fatamorgana, kita tak punya/rasionalitas; kota/tua kita-hantu-hantu yang diledakkan//Di sepanjang/trotoar-pagar hanya fatamorgana, “Melawat ke Kota Tua”-Mashuri.
Kota memang merupkan meltingpot, tempat awal mula bertemu dengan segala silang sengkarut kehidupan kota besar. Di mana akhirnya kota menjadi hunian orang tersingkir semacam pencopet, pelacur, begundal dan buronan. Hal ini kita jumpai dalam puisi Akhudiat, Wonokromo adalah leher botol/Ke tembolok Surabaya melahap & muntahan apa & siapa saja/Tak perlu basa-basimu, sumpah serapahmu, protes atau acungan jempol/Bahkan sindiran atas jalan layang//Di sini kancah buangan & mimpi orang tersingkir/Pecopet, pelacur/begundal, buronan/Mengendap di kampung-kampung yang tumbuh sendiri/Atau Sembunyi di hutan lalang timur stasiun kereta api//Wonokromo adalah monumen/Pasar terbakar.

Diancuk Jaran
Sedang puisi-puisi Indra Tjahyadi yang terangkum dalam “Kitab Syair Diancuk Jaran” berisi 32 puisi, rupanya khusus diperuntukkan bagi kota Surabaya. Semua puisi bercerita tentang kehidupan Surabaya, dari zaman Belanda, Jepang, kemerdekaan hingga kini. Di mana diceritakan baik kehidupan orang Cina, Arab maupun pribumi, dengan dialek yang berciri khas Suroboyoan, terus terang, kasar, liar dan menohok. Sehingga memunculkan sebuah identitas kota baik secara isi maupun bentuk ungkapnya. Inilah puisi yang menampilkan diri Surabaya secara lebih kompleks.
Baik yang remang-remang semacam pelacuran, tak ada setan/tapi mereka sebut aku begundal/;pejantan jalang yang terlahir/dari rahim danyang/kampung jarak gang makam. Tonggak kepahlawanan yang ironis macam puisi “Di Depan Tugu Pahlawanan”, “dulu kakekmu tewas di sini/setelah dikeroyok empat begal/sepulang ngemis di depan Pasar Turi”. Maupun percampuran ras, Madura, Arab dan pecinan, lek enti’ lu/ketemu be’ aku/tolong bho’ lu tanya’i/darimana asalku/ato sapa namaku//soale tinggaku/nde’ pinggiran kota//kota surabaya/dengan pesona/panorama sing kisruh/sing cuma diinapi/para pemabuk. Di mana identitas modern yang seharusnya dapat mempermudah manusia dalam mengarungi kehidupan, teryata menjadi malapetaka bagi sebagian besar penghuni kota yang mengalami ketertinggalan budaya.
Namun lain lagi dengan penyair Aming Aminoedhin dalam, “Surabaya Ajari Aku tentang Benar”, Surabaya, ajari aku bicara apa adanya/Tanpa harus pandai menjilat apa lagi berlaku bejat/Menebar maksiat dengan topeng-topeng lampu gemerlap/Ajari aku tidak angkuh/Apa lagi memaksa kehendak bersikukuh/Hanya lantaran sebentuk kursi yang kian lama kian rapuh. Yang mengisahkan tentang kecemasan kebijakan yang tidak memihak rakyat, baik dari pejabat maupun wakil rakyat, yang lebih banyak membutakan mata hatinya daripada kebijakan yang manusiawai bagai warga kota.
Inilah panorma kehidupan kota Surabaya dengan silang sengakrutnya di mata para penyair. Merupakan sebuah peringatan bagi pengambil kebijakan dan para warga kota yang harus siap-siap mengalami kehidupan yang bukanya tambah modern namun cenderung lebih primitif atau barbar dalam tatanan etika dan moralnya. Memang dalam struktur fisik kota, kita bisa melihat adanya kemajuan pesat, dengan banyaknya plaza, hotel, apartemen, realestat, cafe pub dan fisik lainnya yang mencerminkan kemeriahan peradaban. Namun kemajuan modernitas tersebut tidak diikuti dengan peningkatan rasionalitas dan moralitas para pejabat, wakil rakyat dan para penghuni kota lainnya, yang justru menyebabkan kebijakan-kebijakaan yang berlawanan dengan kemanusiaan dan moralitas. Sehingga secara struktural kaum bawah, selalu terpinggirkan di tengah kota yang menjanjikan mimpi indah.
***
S Yoga
Penyair, Anggota Komite Sastra DK-Jatim.

Rabu, 21 Januari 2009

Taman Puisi Gelap Surabaya

Suara Karya, Sabtu, 13 Desember 2008
Taman Puisi Gelap Surabaya
Oleh S Yoga
Tak bisa dipungkiri, bahwasanya puisi gelap begitu marak perkembangannya di Jawa Timur, khususnya di Surabaya. Pengistilahan puisi gelap sendiri masih bisa diperdebatkan lagi, juga mutu puisi tidak terkait dengan istilah puisi gelap atau puisi terang. Istilah ini juga sudah biasa digunakan untuk menyebut kecenderungan puisi-puisi dari penyair komunitas Airlangga. Dengan para penyairnya di antaranya W Haryanto, Sihar Ramses Sakti, Indra Tjahyadi, Mashuri, Deny Tri Aryanti, Dheny Jatmiko, Ahmad Faishal dan Puput Amiranti N, coba simak puisi-puisi mereka pada dekade 2000-an hingga sekarang, maka akan terasa kegelapan dan keremang-remangan. Tentu saja hal ini tidak kebetulan semata, karena mereka memang berkembang pada satu komunitas, bermarkas di lingkungan kampus Universitas Airlangga. Namun perlu juga diketahui bahwa meski berada dalam satu komunitas banyak juga penyair yang memilih jalan sendiri, karena demokratisasi dan menghargai perbedaan, lebih ditegakkan daripada mazhab atau ideologi. Misal penyair Panji K Hadi, F Aziz Manna, S Yoga, M Anshor Syahroni, Kadirman, K Yudha Karnanta, St Fatimah, Luska Fitria dan M Aris.
Surealisme

Bila ditelusuri sejarahnya, sebenarnya kecederungan taman puisi gelap Surabaya mulai berkembang pada tahun 1995-an, saat itu mereka gandrung dengan aliran surealisme, super realis, "yang melampaui kenyataan", begitu menurut pencipta istilah tersebut; Guillaume Apollinaire, bagi mereka surealisme adalah jawaban dan gambaran yang tepat dari realitas sosial yang mencekam, represif dan informasi yang tak bisa dipegang kebenarannya. Puisi, Indra Tjahyadi, "Amsal Kekosongan dan Rindu" bisa menjadi petunjuk akan kata-kata atau bahasa yang tak bisa dipercaya, Seperti katamu bulan adalah hantu. Seteguk pekik terlepas/dari negeri raibmu, lebih nyata ketimbang perahu/Bahasa yang diciptakan geludhuk membisukan penglihatanku.
Maka mereka suntuk membaca dan mempelajari surealimse lewat tokohnya Andre Brenton dan penyair Kriapur (Solo) dengan apokaliptiknya. Kalau kita baca karya-karya Kriapur maka kita akan bisa menarik benang merah pada puisi-puisi gelap mereka. Menurut Abdul Hadi W.M dalam acara Cakrawala Sastra Indonesia tahun 2004, ketika menelaah penyair Jawa Timur, di antaranya Indra Tjahyadi dan W Haryanto, ia menyatakan penyair Jawa Timur berkecenderungan apokalipsa, di mana hasrat untuk menunjukkan bahwa zaman kita hidup sekarang ini dipenuhi tanda-tanda buruk yang mengisyaratkan hancurnya tatanan kehidupan sosial dan kebudayaan. Kemudian Nirwan Dewanto dalam kata pengatar antologi puisi, Lima Pusaran, FSS 2007, menyatakan, sejumlah penyair dari Surabaya memang giat dalam sepuluh tahun terakhir. Di antaranya dengan mengusung puisi gelap yang bisa menjelma keajaiban atau keganjilan dengan kocokan maut kata-kata.
Karena kegandrungan penyair komunitas Airlangga akan surealisme maka ketika membuat antologi bersama, mereka beri judul Manifesto Surealisme, sebuah judul yang mengambil pernyataan, manifesto, Andre Brenton, karena pada tahun 1924, penyair Perancis ini, pernah mengeluarkan Manifesto Surealisme. Andre Breton menyerukan pembebasan potensi-potensi terpendam dalam diri manusia, di alam bawah sadar, yang telah terkekang oleh rasio dan kebiasaan. Merayakan alam mimpi dan menekankan bawah sadar. Membiarkan imajinasi liar bekerja secara bebas tanpa kendali nalar dan tata bahasa. Mereka berharap menemukan paduan antar kata dalam sebuah metafor yang mengejutkan dan baru, tidak terpancang pada logika struktural dan konvensi umum sebuah puisi. Mereka mencoba menerapkan temuan psikoanalisis Sigmun Freud dari Austria. Yakni antara naluri-naluri dan hasrat-hasrat utama kita (id) dan corak perilaku kita yang lebih beradab dan rasional (ego).
Puisi gelap atau abstrak, tidak rasional, sebenarnya sudah marak pada tahun 1950-1960, di mana pada waktu itu banyak puisi yang susah dimengerti dan dinikmati. Kemudian muncul juga pada tahun 70 dan 80-an. Seolah gelombang yang secara siklus terus mengempur kesadaran rasional kita di zaman modern. Puisi-puisi gelap penyair koumintas Airlangga ini, seolah-olah melakukan pelarian kedalam keterasingan terhadap pikiran-pikiran pembaca, mengambil jarak, menjauhi akal sehat dan imajinasi pembacanya. Puisi-puisinya sangat subjektif, alienasi dirinya terhadap dunia sekitarnya. Sarat imajinasi, pembebasan imaji, dan metafor, kata-kata adalah imajinasi. Yang seringkali meloncat-loncat, tidak sinkron, retak-retak dari bangunan imaji sebelumnya. Puisi dipahami sebagai sebuah teks (writerlytext) yang cerai berai, retakan-retakan peristiwa. Dalam gelap rimba imajinasi. Kita berharap bisa mendapatkan sejumput kearifan dan keindahan.
Karena itu dalam menelaah puisi, penyair komunitas Airlangga, perlulah juga melihat struktural semiotik dan latar seting sosial budaya. Di mana kondisi sosial dan politik yang sedang berkembang, khususnya pada era Orde Baru, Soeharto, sangat berperan. Namun kegelisahan mereka dalam manifestasinya tidak muncul dalam karya sastra kritik sosial atau puisi protes. Mereka lebih memilih dalam gambaran dari bentuk pemerintahan yang reprensif itu sendiri. Dalam wadah sebuah ekspresi simbolik yang subyektif. Yang mencerminkan sebuah zaman kegelapan, di mana struktur kekuasaan yang otoriter dan militerisme berkembang, keterasingan masyarakat begitu mengedepan. Puisi Deny Tri Aryanti, "Tarian Sebuah Musim", merupakan gambaran dari keterasingan peradaban; Aku tak ingin menjadi abu/saat mayat-mayat menari gemulai/menorehkan darah pada tanah peradaban.
Sikap pejabat negara yang bukan pada batas kewenagannya namun sudah menjadi kesewenang-wenangan yang tak bisa ditoleransi lagi. Hingga puncaknya pada demonstrasi mahasiswa dan terjadilah peristiwa reformasi. Maka bentuk-bentuk puisi mereka benar-benar kelam, cemas, seram, gelap, erotis, liar, sebagai bentuk perlawanan realitas sosial yang ada, yang hinggar bingar dengan kekerasan, penembakan, pembunuhan, pengusuran dan ketidakadilan yang merajalela, di mana hukum menjadi barang dagangan. Puisi Mashuri, "Asu" bisa megambarkan betapa dahsyatnya perubahan sosial yang tak bisa terelakan, namun tak bisa disiasati sehingga mereka menjadi korban yang paling hina, yang digambarkan menjadi anjing, yang nasibnya ditedang kesana kemari tanpa keadilan. Begitu angin menderu, seluruh tubuhku berbulu, gigiku bertaring/ kuku-kukuku runcing. Aku telah menjelma anjing. Lalu aku menunggu/ isyarat, ketika malam telah lengser ke peraduan dan kokok ayam/ pertama menggantikannya untuk kembali bertahta. Ketakutan menebar di udara, seperti aromba busuk yang menusuk paru-paru.
Sehingga wajar bila judul antologi puisi mereka yang serba seram, menakutkan dan liar; Ekspedisi Waktu, Syair Pemanggul Mayat (Indra Tjahyadi), Pengantin Lumpur, Ngaceng (Mashuri), Labirin dari Mata Mayat (W Haryanto). Maupun judul-judul puisi mereka misal; Syair Pemabuk, Lembah Kabut Kematian, Kembali ke Neraka, Hantu Pasir, Hikayat Orang Bangkit dari Kubur, Kubur Panjang, Saksi Kematian, Karnaval Ajal. Kata-kata neraka, maut, labirin, mayat, hantu, kematian, kegelapan dan bayang-bayang seolah-olah menjadi kata-kata kunci dalam puisi-puisi mereka.
Dalam kondisi seperti ini, akhirnya mereka memilih sebuah paradigma atau ideologi dalam perjuangan literernya yakni surealisme yang cenderung kedalam kegelapan, di mana bentuk-bentuk strukturalisme mereka tentang. Hingga bila memahami puisi mereka dengan cara strukturalisme maka akan sia-sia, yang akan ditemui hanyalah kegelapan semata. Karena puisi mereka adalah retakan-retakan realitas yang tidak bisa atau terpahami lagi, karena kegelapan peristiwa yang ada, realitas yang ada bagai jaring-jaring labirin yang tak bisa diurai dan ditemukan siapa pelaku, bagaimana bisa terjadi, apa yang terjadi sebenarnya, dan bagaimana bisa keluar dari kenyataan yang ada. Mereka tak bisa memahami realita itu semua, karena yang ada hanya kabar burung tanpa ada sebuah kebenaran yang bisa diyakini. Bila hingga kini mereka masih tekun menulis dengan cara demikian, puisi gelap, berarti mereka masih meyakini bahwa pada zaman sekarang ini, yang kataya menjunjung demokratisasi dan keterbukaan ternyata masih menyimpan labirin kegelapan yang susah untuk dibongkar, semisal mafia peradilan dan korupsi rente dalam sebuah birokrasi. Di mana irasional kemanusiaan berlangsung.***
S Yoga, Alumnus Sosiologi FISIP Unair Penyair danpemerhati kebudayaan anggota Komite Sastra DK-Jatim.

Panorama Sastra Religius


Surabaya Post, Minggu 16 November 2008
PANORAMA SASTRA RELIGIUS
Oleh : S Yoga

Perkembangan sastra religius di Jawa Timur (Jatim) mungkin kurang menarik bagi generasi muda. Sehingga bila kita cermati, hingga kini jarang terlahir sastrawan muda yang kesadarannya terhadap religi cukup tinggi. Padahal sastra religius merupakan salah satu aset yang sangat penting. Hal ini dikarenakan dukungan secara kultural sudah sangat mencukupi, di mana basis-basis pesantren tersebar di Jatim. Sehingga hal yang pontensial ini hendaknya mampu melahirkan karya-karya religius yang mampu berbicara di tingkat nasional.
Apalagi kita tahu Sumenep merupakan gudangnya penyair religius, misal Abdul Hadi WM, D Zawawi Imron, Jamal D Rahman dan Ahmad Nurullah. Sedangkan dalam bidang prosa ada M Fudoli Zaini (Alm) dengan karya Arafah dan Batu-Batu Setan. Sementara di daerah lain kita mengenal Djamil Suherman (Alm), novelis kelahiran Surabaya, menghasilkan Perjalanan ke Akhirat dan Umi Kulsum, yang karyanya berlatar belakang pesantren. Muhammad Ali (Alm) juga kelahiran Surabaya dengan karya Di Bawah Naungan Al-Qur`an. Namun mereka umumnya malang melintang pada tahun 1960-1970 dan yang lebih muda tahun 1980-1990. Karena itu kita berharap kepada generasi muda, khususnya mereka yang berkomunitas di lingkungan pesantren. Yang jelas memiliki potensi yang lebih daripada mereka yang berada di luar. Karena ajaran dan kehidupan keagaam setiap hari mereka pelajari dan jalani
Pada masa kerajaan-kerajaan di Tanah Air, kita sudah mengenal sastra religi yang pada waktu itu dikenal dengan nama suluk maupun serat. Sehingga kita kenal Suluk Quthub, Suluk Berang-Berang, Suluk Wijil, Suluk Sukma Lelana, Suluk Seh Amongroga, sedangkan serat yang terkenal yang mencerminkan keagamaan adalah Wedhatama dan Wulangreh. Kita juga mengenal adanya lagu atau syair yang diciptakan Sunan Bonang, Tombo Ati dan Sunan Kalijaga, Ilir-ilir dan Kidung Rumeksa Ing Wengi. Tentu saja para sunan menciptakan syair demikian bukan tanpa maksud, karena mereka memahami masyarakat yang senang dengan nyanyian dan gamelan, maka diciptakanlah lagu-lagu yang berisi ajaran tasawuf bagi para pengikutnya. Bahkan hingga sekarang lagu tersebut masih banyak dinyanyikan oleh masayarakat desa dan disenangi oleh banyak orang, seakan-akan sudah menjadi milik masyarakat, guna menetramkan hati dan siar agama.
Ketika menyebut sastra religius, tentu saja yang terngiang dalam pikiran adalah sastra yang menyuarakan keagamaan. Hal ini tidaklah salah, demikian juga ada yang menyebutnya sastra sufi, sastra transendensi dan sastra profetik. Yang kesemuanya bermuara kepada pengertian kesadaran akan rasa ketuhanan, kebenaran yang bersumber pada Tuhan. Dan konsepsi ini bisa berlaku bagi semua agama. Yang di Islam biasanya terfokus pada amar mar’ruf, nahi munkar, tu’ minu billah. Menyuruh berbuat baik, mencegah kemungkaran dan bertaqwa pada Allah.

Pencerahan Rohani
Untuk bisa berbuat sesuai tiga hal tersebut, yang pasti rohani kita harus suci terlebih dahulu. Namun di sisi lain kehidupan kita sekarang ini seringkali tergoda oleh hal-hal duniawai. Karenanya bisa jadi posisi kita berada dalam krisis iman. Belum lagi gempuran materialisme dan sekularisme terus-terusan berada di sekitar kita. Lalu apa yang bisa diperbuat oleh para sastrawan guna menjawab tantangan zaman yang harus segera dibenahi ini. Bagaimana sastrawan Jatim telah mewarnai, memerangi hal-hal buruk yang bisa membuat moral kita terjun bebas menjadi nihil. Alias tak bermoral, yang akhirnya merajalela menjadi kejahatan, yang jauh dari harapan dan kaidah agama. Bahkan bila kita melihat penulis-penulis muda yang ada, seringkali malah berpaling dari sastra religius, dan lebih memilih menekuni sastra liberalisme atau sastra kelamin (mengeksploitasi seks). Dan hal ini akan semakin menjauhkan diri kita untuk mewujudkan kehidupan sastra religius yang lebih berkembang dan sanggup menjawab persoalan kehidupan. Karena krisis iman atau moral hanya bisa diatasi dengan cara meningkatkan transendensi. Sehingga kita semua dapat menemukan pencerahan rohani.
Sementara itu ada pendapat yang mengatakan bahwa karya sastra harus memberi pesan atau amanat yang jelas dan baik. Mengandung nilai-nilai moral yang tinggi. Padahal dalam prakteknya sastra seringkali berlawanan dengan harapan tersebut, karena sastra membeberkan kebobrokan, kenistaan dan kepahitan hidup. Di mana dari kerusakan-kerusakan moral ini akan memuncak dalam sebuah katarsis, pesuncian jiwa. Sehingga dari pengalam membaca sastra, akan kita ambil hikmahnya. Jadi seringkali sastra memberikan pesan atau amanat hanya tersirat saja, tidak tersurat. Dan hal ini membutuhkan diri pembaca untuk aktif berpikir, tidak hanya menerima jadinya saja, yang justru akan membuat diri kita pasif.
Lalu bagaimana mewujudkan karya sastra religius yang bisa dikatakan berhasil, namun juga tidak lepas dari rasa taqwa terhadap Tuhan. Kita tahu pada awal mulanya puisi adalah mantra atau pun doa. Sehingga kehidupan sastra religi, meski pada zaman dulu belum dikenal, sebenarnya sudah ada, yakni dalam ritus-ritus. Sastra religius merupakan doa dalam bentuk ekspresi yang mampu mengetarkan jiwa.
Seringkali kita membaca bahwa sastra religius hanyalah semata-mata memindahkan atau mencomot kata-kata yang ada dalam kitab suci. Sehingga kita tidak menemukan kebaruan dan keunikan di dalamnya. Bahkan sama saja dengan kita mendengarkan rohaniwan berdakwah atau kita membaca buku-buku keagamaan. Padahal bagi seorang penyair yang benar-benar memahami estetika, ia akan dituntut lebih tinggi dalam kemahirannya menerjemahkan doa ke dalam pencitraan baru yang otentik dan kreatif. Kita ambil contoh sebuah puisi, Abdul Hadi WM, Tuhan/Kita begitu dekat/Sebagai api dengan panas/Aku panas dalam apimu/Tuhan/Kita begitu dekat/Seperti kain dengan kapas/aku kapas dalam kainmu/Tuhan/Kita begitu dekan/Seperti angin dan arahnya/Kita begitu dekat/Dalam gelap/kini aku nyala/pada lampu padammu.
Karya ini menunjukkan kedekatan yang sangat intim antara sang penyair dan Tuhannya. Penyair begitu dekat seperti api dan panas, kapas dan kain, angin dan arahnya. Wahdatul wujud begitu sebutanya dalam ilmu tasawuf, sedang dalam mistik Jawa disebut Manunggaling Kawulo Gusti. Menyatunya mahluk dengan Tuhannya. Puisi di atas tidak terjebak dalam konseptual, definitif dan normatif keagamaan. Sehingga justru mampu memberikan pencerahan rohani terhadap pembaca karena sifatnya yang personal, otentik dan sublim. Sehingga mengejutkan dan mampu menciptakan keindahan. Memberikan gambaran penghayatan si penyair akan rasa ketuhanan dengan intreprestasi yang intens dan unik.
Dan salah satu fungsi karya sastra adalah memperingatan sejak dini akan adanya dekadensi moral dan dehumanisasi. Karena itu, ia meruapakan salah satu oase pencerahan. Melihat betapa pentingnya peran sastra religius di masa mendatang, karena rohani kita selalu digempur habis oleh godaan duniawi. Maka kita berharap akan muncul generasi muda para sastrawan di Jatim, yang memiliki daya jelajah religiuitas yang tinggi dalam karya-karyanya. Sehingga dapat menjadi warna tersendiri dalam kehidupan sastra yang selama ini lebih banyak tergoda pada sastra liberal. Tentunya yang benar-benar menjelma menjadi karya sastra yang menyatu antara bentuk dan isi. Mengejutkan, otentik dan tidak normatif. Dan bukan hanya tempelan dogma-dogma agama belaka. Yang justru akan melunturkan nilai-nilai sastra.
***
S Yoga
Penyair dan anggota Komite Sastra DK-Jatim

Rabu, 12 November 2008

Ludruk, Kemerdekaan dan Perlawanan


Surabaya Post, 21 September 2008
LUDRUK, KEMERDEKAAN DAN PERLAWANAN
Oleh : S Yoga

“Bekupon Omahe Doro, Melok Nipon Soyo Sengsoro”.
Begitulah kidungan Cak Durasim, pendiri Ludruk Organizatie (LO) di zaman perjuangan, yang berhasil membangkitkan rasa tidak senang rakyat terhadap Jepang, hingga masuk bui, disiksa tentara Jepang, dan akhirnya meninggal di penjara. Dari fenomena ini, kita tahu bahwa ludruk, sebenarnya merupakan kesenian perlawanan di masa penjajahan, baik itu di masa kolonial Belanda maupun Jepang. Kontribusi ludruk di masa perjuangan kemerdekaan tak bisa diremehkan. Ludruk efektif menghibur masyarakat yang tertekan, tertindas dan lapar, yang dikebiri hak sosial, ekonomi dan politiknya. Sehingga masyarakat ketika menyaksikan pertunjukan ludruk, sekejab bisa terbebas dari segala tekanan hidup dan merasa merdeka. Dan di dalam peristiwa ludruk, yang biasanya terbagi dalam nyanyian, tari remo, kidungan, lawakan dan lakon utama. Para pemain bisa memasukan kidungan atau dialog sambil menyampaikan kritik sosial, yang disebut pasemon, semonan. Di mana kritik tersebut harusnya tidak membuat marah penguasa yang dikritik.

Paranoid
Namun bagi penguasa yang paranoid, ketakutan tanpa sebab, ludruk dipandang membahayakan kekuasaan sehingga hal itu dianggap kegiatan yang subversif. Perlawanan budaya ludruk juga bisa dilihat dari sejarah terbentuknya. Memang ada dua versi dari mana ludruk berasal, yang satu berpendapat ludruk lahir dari Jombang dan yang kedua ludruk berasal dari Surabaya. Ada yang menyatakan pada tahun 1890, ludruk sudah ada, yang serupa badut yang ngamen, mbarang dari rumah ke rumah, dengan tarian yang kakinya menghentak-hetak (gedruk-gedruk) tanah yang kemudian disebut ludruk. Yang disertai nyanyian, dialog dan lawakan dengan cerita yang sederhana atau kisah-kisah kepahlawanan lokal, seperti Cak Sakera dan Sarif Tambak Yoso. Yang biasanya dipentaskan di pesta pernikahan atau pesta rakyat lainnya.
Sebagai teater rakyat atau jalanan, baik jenis ludruk besut, lerok dan ludruk, secara nyata membuat pengisahan sendiri, yang umumnya cerita berpusat pada kebenaran istana atau penguasa. Kini rakyat diberi alternatif pengisahan lewat lakon di dalam ludruk. Pengisahan ini pun tidak mengambil kisah agung-besar, ludruk memberikan spirit perlawanan dengan kisah-kisah lokal, bahkan keseharian. Di sinilah ludruk menemukan jati dirinya sebagai teater rakyat dan agen perubahan, baik di masa kolonial maupun revolusi. Tidak seperti wayang, tari bedaya atau kethoprak yang muncul dari kalangan istana atau kaum elite, yang komunikasinya benar-benar mempertahankan tata bahasa Jawa. Ludruk memakai bahasa rakyat jelata yang cenderung kasar, egaliter, tanpa ungah-unguh. Selain dari sejarah, bahasa dan pengisahan, ludruk juga menunjukkan perlawanan budaya dengan kostum, yang umumnya memakai kaos merah putih dan ini merupakan semangat nasionalisme yang mensimbolkan bendera merah putih. Juga dengan karakter perempuan yang dimainkan oleh laki-laki, hal ini bisa diartikan ejekan pada rakyat yang tidak mau berjuang sebagai seorang banci atau perempuan.
Di zaman kemerdekaan ludruk masih memiliki fungsi kritik sosial, perlawanan, namun di era Orde Baru ludruk benar-benar dibungkam kreatifitasnya, dan dikenakan kaca mata kuda yang hanya boleh melihat dan bersuara satu arah, yakni kebijakan pemerintah versi Orde Baru. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya grup ludruk yang bergabung dengan instansi dan militer. Sebelumnya ludruk juga telah dimanfaatkan oleh partai politik pada tahun 1945-1965, di mana pada masa itu ludruk yang paling populer adalah “Ludruk Marhaen”, yang sempat main di istana negara 16 kali, milik Partai Komunis Indonesia. Saat itu kedudukan ludruk sangat vital dalam mempengaruhi rakyat. Sehingga PKI mengambil kebijakan untuk merekrut ludruk lewat Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) guna menyuarakan partai, tak heran waktu itu banyak orang yang terpengaruh dan bergabung denga PKI, tanpa tahu subtansi visi dan misi yang sebenarnya. Yang akhirnya memunculkan prahara dan kudeta berdarah pada tahun 1948 di Madiun dan 1965 di Jakarta.

Badut Politik
Waktu itu hampir semua partai politik memiliki grup ludruk sebagai corong partai untuk mempengaruhi dan mencari pengikut, khususnya di Jawa Timur, baik yang berbahasa Jawa maupun Madura. Ludruk menjadi primadona partai guna memenangkan pemilu. Di mana para seniman ludruk pun banyak yang akhirnya menjadi anggota partai. Dan fenomena tersebut dalam tataran politik modern saat ini, seniman atau artis menjadi primadona baru untuk mendulang suara partai atau diajukan untuk menjadi bupati, walikota dan gubernur, bahkan dari kalangan artis ada yang berani mencalonkan diri sebagai presiden. Hal ini menunjukan bahwa kebudayaan ternyata juga berpengaruh penting terhadap perjalanan sebuah bangsa, lewat partai politik atau independen. Namun bila tidak sesuai dengan kapasitas yang dimiliki maka hanya akan menjadi badut politik.
Setelah era ludruk ditunggangi partai politik, di zaman Orde Baru nasib ludruk secara politis juga masih sama tragisnya, tidak merdeka dan independen. Ibaratnya keluar dari mulut ular masuk mulut harimau. Maka orientasi ludruk sebagai suara rakyat, aspirasi kaum bawah dengan kritik sosial dan mencoba mempengaruhi kebijakan pemenrintah, lagi-lagi menjadi terbungkam. Karena ludruk dikangkangi militer dan pemerintahan Orde Baru, di mana bermunculan nama-nama ludruk sesuai kesatuan militer; misal Ludruk Wijaya Kusuma yang terbagai hingga 5 unit (grup), di mana grup ludruk tersebut leburan dari Ludruk Marhaen-Surabaya, Anogara-Malang, Uril A-Malang, Tresna Enggal-Surabaya dan Kartika-Kediri. Ketika itu semua ludruk yang ada dibina oleh militer sehingga semua konsep pementasan haruslah sesuai atau mendapat ijin dari militer. Kebebasan berekspresi dan kreatifitas ludruk pun terberangus. Yang ada hanyalah satu suara-arah kebijakan yang sesuai dengan pesanan, sehingga dikenal juga sebagai ludruk pesanan, misal untuk klompecapir. Sebenarnya tidak ada salahnya ludruk menyuarakan pesan kebijakan pemerintah, namun seringkali ketika akan memberikan kritikan hal ini dilarang, yang boleh hanya pujian. Masyarakat pun akhirnya tidak memiliki kepedulian karena bahasa yang digunakan, abstrak, jauh dari kenyataan yang ada, sehingga kaku, tidak seperti aslinya dengan bahasa yang ceplas-ceplos, kasar dan familier.
Ludruk dapat menjadi kitab lupa dan gelak tawa bagi rakyat pada umumnya karena ia menyimpan tradisi dan memori hidup yang tak akan terhapus oleh sejarah apa pun, meski sejarah itu telah direkayasa. Karena ingatan pendukungnya lebih kuat lewat cerita dan humor hitam yang didedahkan. Ia menjadi saksi bagi perjalanan bangsa, ia menjadi ekspresi resistensi bagi rakyat jelata terhadap para penguasa. Karena hakikat ludruk adalah perlawanan yang menyuarakan cita-cita kaum lemah, ia simbol perjuangan mereka yang tertindas dan lahir dari kondisi sosial yang represif. Baik itu secara politis maupun ekonomi, di mana ludruk biasanya mengajarkan kearifan lokal dan ini merupakan perlawanan terhadap kapitalisme. Selain secara tradisi lisan menciptakan identitas lokal para pendukungnya. Secara politik ludruk telah menunjukkan jati dirinya sebagai bentuk subversif dari kebijakan pemerintah yang sewenang-wenang. Sehingga bila kini banyak grup ludruk yang kehilangan orientasi perjuangan tersebut, dengan pasemon dan lawakan yang getir, pahit maka ia sedang menggali kuburnya sendiri. Karena secara perlahan rakyat pastilah akan meninggalkannya. Karena itu spirit ludruk sebagai bentuk perlawanan rakyat terhadap penguasa yang tiran haruslah terus dihidupkan, tentu saja dengan lawakan yang elegan,dan selalu menyerap aspirasi kaum bawah.
Namun kini nasib ludruk sama tidak menentunya dengan nasib rakyat penerima BLT, yang hidup secara subsistensi. Di mana kehidupan ludruk seakan-akan tergantung kepada belas kasihan para pendukungnya. Kadang pentas kadang nganggur, peran pemerintah untuk menghidupkan ludruk pun tidak sungguh-sungguh. Hal ini karena kebijakan pemerintah yang selalu memandang kebudayaan sebagai objek dan dagangan semata. Bukan sebagai ekspresi dan spirit rakyat yang tertekan, di mana roh kearifan lokal bisa memberikan siraman terhadap beban hidup yang mereka alami. Mungkin kalau Cak Durasim saat ini masih hidup, ia akan berkidung: “Bekupon Omahe Doro, Nasib Ludruk Soyo Sengsoro”.
***
Yoga Penyair dan Anggota Komite Sastra DK-Jatim

Sabtu, 24 Mei 2008

Mati Suri Teater Jawa Timur


MATI SURI TEATER JAWA TIMUR
Oleh S Yoga

Pada dekade terakhir ini dunia teater Jawa Timur, bahkan Indonesia, benar-benar mengalami kemerosotan. Tidak tampak kelompok teater yang kuat muncul. Kalaupun ada, hanyalah teater-teater dan aktor-aktor lama yang bangkit dan berpentas, misal Teater Koma.

Noorca M.Massardi bahkan meminta Festival Teater Jakarta dibubarkan saja (Kompas,7/1) karena kualitas pesertanya makin merosot jauh. Demikian juga Festival Teater Remaja Jatim yang tak kedengaran gaungnya, meski setiap tahun diadakan.
Ada apa sebenarnya dengan dunia teater kita hingga kini tak memunculkan kekuatan yang dapat dibicarakan di tingkat provinsi atau nasional. Jangan-jangan para pekerja teater belum dapat menyadari bahwa kerja teater sebenarnya bagaikan ilmuwan yang sedang melakukan riset.
Sering saya melihat pementasan teater, baik di daerah maupun di Surabaya, menampilkan naskah yang cenderung tidak memiliki karakter antartokohnya sehingga pementasan seolah suara dari satu karakter. Artinya, kelemahan yang pertama adalah naskah yang sering dibuat sendiri.
Coba kita hitung di antara pementasan yang pernah ada, sangat minim kelompok teater yang berani menampilkan naskah standar. Pada tahun lalu saya mencatat naskah standar ditampilkan ditampilkan dengan cukup bagus oleh kelompok Teater Unisma Malang di Festival Seni Surabaya dengan naskah Aduh (Putu Wijaya), yang berani mengimajinasikan seting dalam sebuah lingkungan pabrik dengan mesin-mesinnya. Sebuah penemuan dan kerja kreatif yang patut diacungi jempol.
Kemudian kelompok Tombo Ati dari Jombang yang menampilkan Kapai-Kapai (Arifin C.Noor) di Cak Durasim. Akan tetapi, kelompok ini agak lemah dalam penyutradaraan karena waktu yang terlalu lama, sedangkan greget pementasan mulai kedodoran. Pilihan naskah standar inilah yang patut ditiru oleh kelompok-kelompok lain kalau benar-benar ingin bermain seni peran, keaktoran.
Pementasan-pementasan yang ada di beberapa kota umumnya menampilkan sebuah pementasan yang mirip-mirip gaya bermainnya Teater Sae, dengan naskah yang serupa ditulis oleh Afrizal Malna. Jangan lupa, sebelum Teater Sae berkecimpung dalam naskah-naskah semacam itu, mereka pernah merajai Festival Teater Jakarta dengan naskah-naskah standar . Ibarat seorang pelukis, mereka ini sudah menguasai lukisan realis terlebih dahulu sebelum melukis surealis atau yang lain.
Namun, yang saya temui dalam pementasan di beberapa kota menampakkan bahwa kelompok teater ini tidak menguasai lukisan realis, tetapi langsung melukis surealis atau absurditas. Ketika diminta untuk melukis realis yang muncul lukisan-lukisan yang lucu dan tak berwatak. Inilah wajah teater kita hari ini, menempuh jalan pintas yang metodologinya sulit untuk dipertanggungjawabkan.
Sebuah kelompok msetinya memiliki jati diri dan bukan jati diri orang lain, kecuali mereka mampu melakukan terobosan kreativitas yang radikal dari pendahulunya. WS Rendra pun pernah melakukan pementasan mini kata, namun ia kembali lagi kepada hakikat teater, yakni seni peran. Bahkan ia mengatakan pementasan semacam itu hanya merupakan eksplorasi dalam metode pelatihan.
Ada beberapa catatan menarik dari pementasan teater di jatim selama ini.
Pertama, merupakan manifestasi dari budaya massa. Banyak pementasan yang menyiratkan adegan sinetron, misteri, detektif, serta banyolan ala Srimulat dan film aksi yang mengharu-biru penonton dengan realitas diangan-angan. Bisa jadi tanpa sadar para pelaku pementasan yang bernapas budaya massa, bersifat menyenangkan, wishful thingking, adalah produk yang gilang-gemilang rekayasa budaya saat ini. Akhirnya yang muncul dipentas tak lain konflik kata-kata, karakter tunggal: flat character. Bentuk seninya masih dicari-cari sehingga kesadaran sosial dan kemasyarakatan menjadi terabaikan.
Kedua, meski pertunjukan dikemas rapi dan baik, berlubang besar kejiwaan tokoh-tokohnya. Kelompok seperti ini sebenarnya cukup menguasai teknik teater, tetapi begitu tergoda dengan hasrat pemberontakannya, tidak sabar dan tidak jeli dalam teknik penyampaian. Rupanya kredo dari kelompok-kelompok ini memang sudah mengkhususkan diri pada teater kesadaran yang didaktis. Jika kelompok-kelompok ini bisa keluar dari rasa “amarah” yang berlebihan, tentu hasilnya akan merupakan bentuk seni yang menarik, berupa suatu gerakan kesadaran. Seni bukan suatu entitas mati. Ia dinamis sejalan dengan kesadaran manusia.
Ketiga, memilih naskah yang sublim, namun ekspresi seninya kurang mendapat porsi yang optimal. Sebenarnya dengan menggarapa dengan lebih jeli lagi mengerahkan segala daya kreativitas untuk mewujudkan kompleksitas karakter: round character. Pementasan mereka akan lebih memberi siraman rohani, batin kita yang merupakan roh dari gerak budaya. Mereka akan mampu menyebarkan gagasan, tematik yang penting guna pencerahan masyarakat yang telah dikepung oleh segala silang-sengkarut kenyataan yang bertambah kompleks dan membingungkan.
Mereka akan mampu merefleksikan daya cipta yang secara sublim dari ruang batin masyarakat yang tengah dibungkam. Bila kelompok-kelompok semacam ini dapat mengoptimalkan bentuk seninya, ia adalah potensi besar.
Keempat, pertunjukan yang penuh dengan konflik kata-kata, konflik fisik, konflik adegan, terampil beratraksi, kayak sirkus, pandai beretorika, mecomot sana-sini istilah yang lagi keren di periklanan, digabungkan dengan teknologi, politik, dan dihampirkan pada agama, jadilah pementasan teater. Ditambah penguasaan medium lewat trik-trik adegan, fragmentasi, jadilah pertunjukan yang menakjubkan inderawi, bagai film futuris atau sirkus. Urusan peran dan jiwa untuk sementara dilupakan.
Dari berbagai kelemahan-kelemahan yang ada, baik kurang optimalnya daya ekspresi,bentuk dan isi, maupun wawasan sastranya, diharapkan pada kesempatan mendatang para pekerja teater dapat membenahinya. Bukan hanya katarsis inderawi semata. Keseimbangan antarkeduanya akan memunculkan kebenaran dalam berkesenian yang bisa menerobos melampaui batas-batas moral, yakni gambaran-gambaran keadaan yang humanis.
Memang karya sastra yang baik juga haruslah menyuarakan semangat zaman, zetgeist. Atau lebih dalam lagi, ia tak akan lekang oleh waktu. Namun, semangat zaman yang temporer dan membabi buta, tak lebih sebagai sebuah propaganda, yang nilainya sesaat. Tak ada kedalaman renungan hidup dan hanyalah merupakan usaha penumpulan kecerdasan dan kehalusan budi kita, tidak memberi keaktifan, pertanyaan, dan kegelisan hidup. Padahal, kerja kebudayaan adalah sebaliknya.
Disinilah letak dilematis ekspresi seni. Di sini pula letak pentingnya kedudukan seni di dalam kehidupan. Ia bukan lokomotif demokrasi, tetapi ia adalah gerak roh budaya demokrasi itu sendiri.

(S Yoga, Penyair dan Pemerhati Teater. Tinggal di Sumenep, Madura).
Pernah dimuat di harian Kompas Edisi Jawa Timur, Sabtu, 3 Februari 2007.