Selasa, 13 Mei 2008

Puisi di Suara Pembaharuan


MANTRA

bukan maksudku untuk membuka tabir
atau mempertanyakan takdir
kasihmu seberapa jauh harus kuukur

ketika duka dan kesedihan tak bisa dihitung

lenyaplah segala sesuatu yang tak berwujud
kembalilah kepada batu hitam yang tenggelam di dasar kali
berserakan bersama pasir dan hanyut dibawa gelombang

Situbondo, 2008
Suara Pembaharuan, Minggu, 4 Mei 2008

DI MEJA MAKAN

kita berdua duduk di meja makan
kau minta hidangan yang paling istimewa
sambil menatap mataku tajam-tajam
seolah ada sesuatu yang kurahasiakan

di meja makan kita selalu berharap pada usia
agar tertata sendok dan garpu di tempatnya
angin berhembus seperti ada suara yang hilang
kita diam terpaku sambil mencicipi hidangan terakhir

Ngawi, 2008
Suara Pembaharuan, Minggu, 4 Mei 2008

NEGERI KABUT

di negeri kabut
aku berjalan menyusuri lembah merah
rumput-rumput menyapaku dengan air mata
kupu-kupu berterbangan mengitari jalanku
pohon-pohon menjulang melambaikan tangan kelamnya

Situbondo, 2008
Suara Pembaharuan, Minggu, 4 Mei 2008

CAHAYA

hitam malam menjelmakan bayanganku
seolah karang tua di pantaimu
di atas pasir aku karam dalam gelombang lautmu
namun aku menjadi api di dalam diri
yang akan membakar semua cahaya

Situbondo, 2008
Suara Pembaharuan, Minggu, 4 Mei 2008

TAMU

di antara lonceng gereja dan dentang jam duabelas
tamu-tamu telah pulang dengan jaket tebal dan senapan
di antara jalan penuh api dan dentuman meriam
aku lebih lihai dari bidik dan tatapanmu, bisikmu

Situbondo, 2008
Suara Pembaharuan, Minggu, 4 Mei 2008

ISYARAT

bunyi genting diterpa hujan
bunyi air menetes dari ledeng
di tengah malam yang suwung
hanyalah isyarat waktu yang kau tunggu

Ngawi, 2008
Suara Pembaharuan, Minggu, 4 Mei 2008

TANGAN

ingin kusempurnakan saja dalam kekosongan waktu
hati telah pedih memikirkan semua ini
pikiran telah perih menerjemahkan kegelapan
jantung telah letih berdetak terus menerus

kini setiap hari
aku berjalan-jalan dengan tanganku
pikiran ada di dalam genggaman tangan
aku ingin tanganku menjadi pemimpin selamanya

Situbondo, 2008
Suara Pembaharuan, Minggu, 4 Mei 2008

DI HUTAN

di bawah sinar bulan purnama
nampak bayang-bayang menari-nari
di dalam hutan serigala melolong-lolong
kaki-kakinya gemeresik menginjak dahan kering

pohon-pohon menari-nari bersama sepoi angin
bunga-bunga bermekaran di antara embun
belalang mengerat rakus daun-daun
fajar hari suasana sepi hanya burung berkicau

Situbondo, 2008
Suara Pembaharuan, Minggu, 4 Mei 2008

RUMAH

di rumah ini mimpiku terbang bersama sayap-sayap langit
kuikuti lelawar terbang ke gua-gua gelap tak bertepi
dan menantimu di malam-malam yang sepi

aku menjadi pengelana dalam mencari rindu
ketika kau dendangkan lagu malam
dan tuangkan anggur merah kesenyapan

batu-batu tumbuh di dalam dada
luka-luka telah menua dan memfosil
kerinduan apa yang tak bisa menyatu

Ngawi, 2008
Suara Pembaharuan, Minggu, 4 Mei 2008

LAMUNAN MALAM

sebotol minuman tua dan lamunan malam
telah kutuangkan dalam pikiran
kenangan mulai terkuak timbul tenggelam

hujan telah reda teriakmu
kau terbahak pada mabuk yang pertama
pada sebentang jalan utara

utara yang tak pernah kau tahu
mana selatan dan arah ke rumah
rumah tua yang tak pernah kau singgahi

aku datang teriakmu
namun kembali lagi ke tempat asal
bunyi kentongan bertalu-talu kau merasa ada yang tercuri

atau mungkin ia pergi meninggalkan dirimu
aku ingin pulang, aku ingin pulang, teriaknya
namun kau tak pernah mendengar

Situbondo, 2008
Suara Pembaharuan, Minggu, 4 Mei 2008

Sastra Jawa Timur dan Krisis Kritik Sastra

Sumber, Kompas Jatim, Jumat, 28 Maret 2008
SASTRA JAWA TIMUR DAN KRISIS KRITIK SASTRA
Oleh : S YOGA

Memperhatikan kehidupan sastra di Jawa Timur akhir-akhir ini, nampaknya cukup memprihatinkan. Satu sisi banyak karya-karya sastra yang lahir baik novel, cerpen maupun puisi. Baik itu ditulis oleh pengarang-pengarang senior maupun yang muda-muda. Sementara itu kritik sastra atau kritikus yang muncul di Jawa Timur sangat sedikit. Apalagi kritikus yang muda. Sehingga perbandingan dari jumlah karya sastra dan kritik sastra begitu tidak berimbang. Sehingga karya sastra lahir, tanpa kehadiran kritik sastra. Padahal kehidupan sastra akan dibilang sehat dan baik bila kedua belah pihak, pengarang dan kritikus bisa saling menghasilkan karya. Tentu saja kita berharap kepada para akademis khususnya yang telah banyak mempelajari teori sastra agar bisa menjembatani pengarang dan pembaca lewat kritik sastra maupun sekedar menulis apresiasi sastra.
Di Jawa Timur sendiri banyak bermunculan karya sastra yang bagus. Sebut saja D Zawawi Imron dengan syair-sayir bernuansa agama dan subkultur Madura. Mardi Luhung penyair dari Gresik yang puisi-puisinya di luar kanon sastra yang ada, dengan subkultur pesisir dan gaya Barok, puisi-puisinya pun diakui di tingkat nasional. Belum lagi penyair-penyair semacam Suripan Sadi Hutomo (Alm) yang karyanya bersubkultur Jawa, M Faizi dan M Fauzi dari Sumenep, Mashuri dan Indra Tjahyadi yang surealisme, Tjahjono Widianto, Tjahjono Widarmanto, dan banyak yang lebih muda lagi. Bahkan majalah sastra Horison pada tahun kemarin mengeluarkan edisi khusus Madura.
Dalam bidang cerpen dan novel ada Budi Darma yang karya-karyanya tidak disangsikan lagi kualitas dan karakternya, seperti Olenka yang bergaya stream of consciousness yang pernah menang dalam Lomba Novel DKJ, Muhammad Ali (alm) yang terkenal dengan sastra laparnya, M Fudoli Zaini (alm) yang terkenal dengan cerpen sufi-religiusnya, Suparto Brata, Beni Setia yang juga dikenal sebagai penyair, Zoya Herawati dengan novel etnis Cina Prosesi yang termasuk pemenang Lomba Novel DKJ, Ratna Indraswari Ibrahim dengan sastra human interest dan feminisnya, M Shoim Anwar dengan karya realisme sosialnya, Bonari Nabonenar, Sirikit Syah dengan kumpulan cerpen feminis Harga Perempuan, dan Tan Tjing Siong dengan novel Konser Pasar.
Sedang dari generasi yang lebih muda muncul Lan Fang dengan novel multikultur Jawa-Jepang, Perempuan Kembang Jepun, Sony Karsono yang cerpen-cerpennya memiliki karakter budaya massa, Wina Bojonegoro, Imam Mutarom dengan kumpulan cerpen Rumah yang Tampak Biru oleh Cahaya Bulan yang realisme magis, St Fatimah yang beberapa kali menang dalam berbagi lomba, termasuk cipta cerpen Krakatau Award 2005, Stefany Irawan dengan kumpulan cerpen Tidak Ada Kelinci di Bulan. Dan yang terbaru adalah novel Hubbu, karya Mashuri dari Lamongan, juga seorang penyair, yang mampu memenangkan hadiah utama dalam Lomba Novel DKJ 2006. Novel Hubbu sendiri dapat digolongkan sebagai sastra subkultur pesantren-kejawen, Islam-Jawa, hal ini menunjukkan bahwa di Jawa Timur tidak kekurangan stok sastrawan yang berkualitas dan berkarakter.
Dari karya-karya sastra yang ada di Jawa Timur, ternyata tidak diimbangi oleh telaah atau kritik sastra, baik yang akademik maupun kritik sastra non akademik, yang seimbang dan mumpuni. Seolah para kritikus sastra Jawa Timur hilang bagai ditelan bumi. Para akademik di universitas terlihat hanya mengejar karier dengan penelitian yang akan mendatangkan kredit poin. Intelektualitas mereka kurang terasah untuk berkreativitas. Sehingga seringkali tanpa membaca atau memantau keadaan sastra di Jawa Timur yang sebenarnya, lalu memberikan penilaian yang kurang bertanggungjawab.
Memang sudah sejak lama disinyalir kita mengalami krisis kritik sastra. Kita lihat di Jawa Timur hanya orang itu-itu saja yang melakukan kritik dengan benar, jumlahnya pun hanya sedikit. Di antaranya Budi Darma di Surabaya dan Djoko Sarjono di Malang yang barusan mengelurakan buku kritik sastra tentang kemungkinan eksplorasi teori sastra dan wacana. Sementara kritikus yang lebih muda di antaranya Ribut Wijoto dan Imam Mutarom. Namun jumlah ini masih minim dibanding para penulis karya sastra. Karena itu perlulah diingatkan kembali kepada para akademik, khususnya yang muda-muda, bahwa salah satu tugasnya adalah menumbuh kembangkan intelektualitas dan kreativitas ke tengah masyarakat. Sehingga fungsinya sebagai seorang ahli sastra bisa berguna bagi perkembangan sastra. Karena tak bisa dipungkiri karya dan kritik sastra bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan.
Sebenarnya untuk memunculkan atau merangsang kritikus-kritikus muda agar bersedia menulis, tentunya perlunya pembinaan yang serius, baik itu bagi mahasiswa-mahasiswa maupun dosen-dosen yang berkompeten dibidangnya. Pelajaran terori maupun kritik sastra bukan hanya diarahkan agar mahasiswa mendapatkan nilai baik namun lebih dari itu agar mereka dapat menjadi kritikus sastra yang baik. Teori-teori sastra pun tidak perlu untuk diugemi atau dipathui secara kaku. Karena perlu direnungkan lagi bawa teori sastra tak lebih dan tak kurang dari asumsi-asumsi atau akal sehat untuk mendekati sebuah objek. Justru kalau kita terkukung oleh teori sastra an sich maka tulisan atau temuan kita akan kering dan hasilnya ya itu, itu saja. Karena sastra tak lain dan tak bukan adalah daya ungkap terhadap masalah kehidupan, filsafat dan jiwa. Sehingga ilmu bedah sastra tak jauh dari tujuan karya sastra itu, meski telaah sastra harus mengungkap estetika dibalik karya sastra, baik itu kelebihan maupun kekurangan menurut sudut pandang pisau analisisnya.
Kegalauan para akademik untuk terjun dalam dunia kritik sastra entah karena daya intelektual dan komitmennya sebagai bidang profesi tidak menjanjikan atau karena kegagapan para adademik melihat jurang anatara teori dan karya sastra, yang tidak mampu mereka telaah. Ada baiknya para akademik berani memaksakan diri setiap tahun membuat satu buah buku telaah sastra. Bila hal ini bisa terjadi maka dunia kritik sastra di Jawa Timur akan semarak. Di mana dalam setiap universitas kita jumpai ada beberapa kritikus (akademik) sastra yang berbobot. Dan hal ini akan sangat membantu para pengarang muda untuk meningkatkan kualitas karya-karyanya. Di sisi lain akan menjembatani para pembaca karya sastra dengan pemikiran penulisnya. Dalam kurun lima tahun, bila bisa berlangsung kontinyu maka Jawa Timur akan sangat diperhitungkan dalam dunia sastra Tanah Air.
Tentu saja diperlukan kritik sastra yang konseptual, kritis dan analitis, tidak hanya denyut atau implus saja. Bukan hanya gagah-gagahan dengan teori sastra, tapi selami karya sastra dan urai kelebihan dan kelemahannya secara estetika sastra. Karena seringkali teori sastra tidak mampu memayungi semua karya yang ada. Kritik sastra yang baik adalah kritik yang kreatif dan bernas, mampu menunjukan kelebihan dan kelemahan secara obyektif. Bukan hanya menceritakan kembali isi dan tema karya sastra saja. Karena itu kritik sastra yang baik bisa jadi tidak identik dengan kritik sastra akademik, namun lebih ke kritik sastra kreatif. Dan kritik sastra jenis ini masih jarang kita temui yang ditulis oleh para akademik. Kalau begitu apa boleh buat, ketika kritikus sudah dieksekusi oleh rutinitas, penelitian dan kemalasan intelektual. Terpaksa karya sastra harus berjalan sendirian. Bahkan ironinya seringkali dipuja-puja sendiri oleh komunitasnya atau kenalannya.
***

Bau Busuk di Kamar Mandi


Sumber: Suara Merdeka, 25 Maret 2007
BAU BUSUK DI KAMAR MANDI
Cerpen: S Yoga

Jam berapa sekarang?. Aku berjalan mondar-mandir di dalam kamar mandi. Apakah aku harus berangkat? Rasanya tubuh ini masih bau, aku cium sendiri tubuhku. Apakah aku harus mandi lagi? Rasanya tidak enak kalau tidak mandi lagi. Kenapa tubuh ini akhir-akhir ini baunya tidak enak? Jelas aku takut dan malu sekali bila tercium oleh teman-teman sekantor. Ah kenapa mulutku baunya tidak enak sekali, pantas istriku seringkali tidur di kamar sebelah. Aku harus mandi lagi. Aku tak peduli pertemuan di kantor terlambat. Aku tidak peduli.
Aku terkejut dengan reaksi perutku yang tiba-tiba sakit luar biasa seolah ada yang mencabik-cabik dari dalam. Berarti obat dari dokter itu tak ada artinya. Dokter hanya bilang ini semua ada kaitannya dengan pencernaan. Dan alat pencernaan ada kaitannya dengan menu makanan dan minuman yang saban hari aku santap. Dokter mengingatkan bahwa semua yang dimakan manusia ada sebab akibatnya. Kalau yang dimakan halal keluarnya ya halal. Kalau yang dimakan haram keluarnya ya haram. Kalau kita dapat uang dengan cara yang tidak jujur, dibelikan apa pun juga tidak berguna bahkan bisa mencelakakan kita. Ah ini dokter atau seorang pendakwah.
Aku termenung di atas kloset. Aku merasa sejarah manusia memang selalu kelam. Sejarah manusia memang selalu terluka. Terluka oleh orang lain. Oleh perasaan kita sendiri. Oleh nasib kita yang selalu tidak mujur. Oleh orang-orang yang dekat dengan diri kita. Oleh orang-orang yang kita cintai. Terluka oleh anak-anak kita. Terluka oleh istri tercinta kita. Oleh orang tua kita. Oleh mertua kita. Semua ini bermula dari ayah mertua. Aku diminta segera membuat surat lamaran, temannya sanggup meloloskan, aku tak bisa menolak karena istri mengancam akan pergi kalau aku tidak bisa membahagiakan dirinya pada hari kemudian, katanya dia perlu hidup yang layak dan terpandang. Aku tak bisa berbuat apa-apa.
Aku berdiri menikmati guyuran air dari shower. Semua ini karena istriku. Ya istriku. Aku tahu siapa yang berlaku tidak baik di rumah ini. Sudah tidak beres keluarga ini. Aku sudah merasa sejak dulu ketika aku menikah dengannya. Dulu kelihatan baik. Tapi akhirnya semuanya terbongkar sudah. Betapa malunya aku sebagai kepala keluarga. Memang watak hatinya keras. Tapi apakah ia tidak ingat sebentar lagi akan mati. Apa yang kita cari di dunia? Apakah semua kekayaan akan kita bawa ke alam baka. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan dia. Aku sebagai kepala keluarga rupanya tidak pernah dihormati. Dia pinginnya menang sendiri. Hancur keluarga. Apalagi mulut racunnya, selalu mendidik anak-anaknya agar tidak menghormati ayahnya. Mana ada sekarang anak-anakku yang hormat padaku. Tidak ada. Semua karena perempuan itu. Anak-anak dimanja dengan uang dan materi sehingga selalu menuntut uang padaku. Istriku inginnya mengendalikan keluarga. Ia yang mengatur kehidupan anak-anak. Semua keinginannya harus terwujud meski anak-anak tidak setuju. Jadi obsesi keinginannya ditimpakan pada anak-anaknya yang suruh menjalani. Keberadaanku sebagai suami rasanya tidak diakui lagi. Diremehkan. Tapi biarlah semua itu suatu saat nanti ia pasti akan sadar. Bagaimana harus menegakkan keharmonisan keluarga. Semua itu akhirnya berimbas pada cara kerjaku. Pekerjaanku di kantor secara tidak langsung diatur sama istriku. Sedikit-sedikit aku diminta memark up pengeluaran keuangan untuk keperluan keluarga. Aku harus belikan gelang. Aku harus belikan cincin. Aku harus belikan mobil. Akhirnya aku harus pandai-pandai menyiasati pembukuan. Selama ini berjalan baik-baik saja, karena ada pengertian juga dari atasan. Tapi hari ini aku harus berhadapan dengan petugas komisi pemeriksa keuangan. Betapa mentalku jatuh. Aku takut ketahuan. Aku takut.
Aku duduk di pinggir bak mandi sambil bermain air. Kalau aku pikir-pikir. Kapal ini sudah karam. Untuk apa dipertahankan. Tidak jelas siapa nakhodanya di rumah ini. Mestinya aku. Tapi tiba-tiba istriku yang mengambil alih hanya karena wataknya yang tak mau mengalah dan kehendaknya harus dipatuhi, ia yang mengatur keuangan keluarga. Rasanya aku hanya boneka. Akhirnya keadaan di rumah menjadi kacau, padahal sudah bertahun-tahun kami menikah dan akhir-akhir ini sering bertengkar hanya karena masalah-masalah sepele, berapa kali saja hal ini terjadi, sudah tidak bisa dihitung. Seminggu ia tidak mau bicara denganku.
Dua minggu kemudian aku tidak mau bicara dengannya. Dan tiba-tiba seminggu kemudian tanpa ada yang tahu kami sudah baikan kembali. Sebulan kemudian hal seperti itu berulang kembali. Terus menerus karena hal-hal yang sepele, yang semua itu sebenarnya bersumber pada keinginan-keinginan istriku untuk beli ini itu yang dirasa kurang, ya apalagi kalau bukan keberadaan uang kami yang sudah menipis. Bahkan beberapa kali ia ngungsi ke rumah ayahnya. Hal itu apa contoh yang baik bagi anak-anak.
Sekarang saatnya aku harus mempertanggungjawabkan semuanya. Aku harus menghadapi pemeriksaan dari pengawas keuangan. Apalagi para pegawai pengawas keuangan aku dengar sama sekali tidak mau disogok, tidak mau diajak kerja sama. Aku benar-benar bingung. Selama ini tidak ada yang pernah lolos dari pengawasan pegawai tersebut. Di sisi lain aku sangat hormat kepada petugas penyidik keuangan yang sama sekali masih memegang komitmen moral dalam tugas-tugasnya, sama sekali tidak mau menyalahgunakan jabatan. Andai mereka mau bekerja sama tentu saja mereka akan kaya raya. Karena hampir semua instansi bisa lolos dari jerat hukum tindak pidana korupsi dengan membayar sejumlah uang. Memang dibutuhkan orang-orang seperti mereka untuk membangun bangsa ini. Kalau semua korupsi dapat diberantas, maka orang-orang sepertiku akan berpikir tujuh kali untuk melakukan tindakan tercela ini. Tidak berani korupsi lagi. Para atasan tidak berani lagi seenaknya sendiri mengunakan uang negara untuk memperkaya diri sendiri. Karena semua uang negara pada intinya adalah uang rakyat. Dan para pegawai digaji oleh rakyat. Lewat pajak dan lain sebagainya.
"Ya, sebentar lagi aku harus menemui mereka. Komisi pemeriksa keuangan. Namun rasanya nyaliku kecil. Aku harus bicara apa. Skenario atasan agar aku berbohong dengan mengeluarkan proyek-proyek fiktif, apakah ini berhasil, aku sendiri sangsi, petugas itu sangat jeli. Apa aku terus terang saja bahwa kami telah melakukan penyelewengan keuangan.
"Kalau hal ini aku lakukan hari itu pula rasanya merupakan hari kemenangan bagiku karena aku telah lulus dari ujian hidupi. Aku kembali menjalani hidup yang bersih kembali. Aku masih bingung. Pikiranku kacau. Apa aku melarikan diri saja keluar negeri biar mereka tidak bisa melacak. Aku menghilang dan tak pernah ditemukan. Di sana aku bisa hidup bahagia."
Berjalan hilir mudik bingung bukan main. Apakah aku hadir dalam pertemuan nanti? Apakah aku tetap di sini hingga pertemuan usai? Kalau aku tidak hadir pastilah mereka akan memarahiku bukan main. Kalau aku hadir, semua akan terbongkar. Rasanya yang paling tepat aku harus hadir. Aku harus hadir. Berani berbuat harus berani mempertanggungjawabkan. Inilah hidup. Rasanya lebih baik aku mengikuti semua petunjuk atasan saja. Biarlah kalau ketahuan atasan juga akan kena. Atasan pastilah sudah menyusun pertemuan ini dengan rapi. Atasan tentu sudah punya jalur-jalur yang harus ditutup. Atasan pasti punya backing yang lebih kuat lagi. Jadi kenapa aku harus takut dengan petugas pemeriksa keuangan? Ya aku putuskan untuk berangkat sekarang juga waktu masih cukup. Seperempat jam dari rumah sudah sampai kantor. Aku harus berangkat. Aku harus berani.
Segera memakai baju dan celana, jas, dasi dan sepatu, bercermin, mematut matut diri, siap berangkat. "Tapi bau apa ini yang keluar? Bau apa ini? Busuk sekali. Busuk sekali. Pasti kloset itu. Kubuka kloset. Bukan ternyata. Lalu bau apa. Pastilah bak mandi itu. Tapi nggak ada apa-apa. Tidak ada bangkai. Ini pasti bangkai tikus. Pastilah tikus itu mati di saluran pipa. Kuperiksa saluran pipa. Bukan dari saluran pipa. Kalau dari pipa pastilah baunya busuk sekali di sekitarnya. Lalu bau apa? Apa kaos kaki ini? Tapi barusan dicuci."
Bercermin lalu mencium baju dan tubuh. "Ya, Tuhan bau busuk itu datang dari tubuhku. Ya tubuhku yang berbau busuk. Tubuhku yang kotor. Jiwaku yang kotor. Hatiku yang tercela. Tentu saja dengan bau yang sebusuk ini aku tidak berani menghadap pegawai pemeriksa keuangan. Aku tahu mereka pasti akan mencium bau busukku. Bau yang sangat busuk. Aku tak akan pergi ke kantor. Aku tak berani menghadap. Bau busuk ini harus aku tutupi dengan apa? Dengan apa?" Aku ingat ini mungkin cobaan dari Allah karena dulu Nabi Ayub pernah merasakan sakit yang luar biasa dengan bau busuk menyebar dari koreng yang memenuhi tubuhnya, sehingga istrinya saja enggan untuk melayani bahkan berniat untuk meninggalkan, niatan istrinya ketahuan oleh Nabi Ayub dan beliau bernazar kalau ia sembuh nanti istrinya akan dihukum cambuk seratus kali. Namun karena kesabaran dan ketabahan hati akan cobaan itu beliau akhirnya sehat kembali. Istrinya kemudian dihukum cambuk, tidak seratus kali namun sekali cambuk dengan sapu yang lidi-lidinya kalau dihitung jumlahnya seratus biji.
Aku ambil bedak di tempat rias dekat cermin. Dengan bedak ini baunya akan hilang. Aku taburkan bedak ke wajah dan seluruh tubuh yang sudah berpakaian rapi. Baunya hilang. Aku teriak-teriak sambil berlari-lari. Aku gembira. Aku bahagia. "Bau busuk hilang. Hilang. Oh masih bau! Masih bau busuk! Seolah bau busuk datang dari neraka. Kotoran terbusuk di dunia. Aku harus bersih menghadap petugas peyidik keuangan. Aku harus bersih. Tidak sebusuk ini. Memang baunya luar biasa. Siapa pun pasti akan mencium. Pasti tercium. Sepandai-pandai tupai meloncat suatu saat akan jatuh juga. Sepandai-pandai menyimpan bangkai suatu saat akan tercium juga. Ya hidupku penuh dengan kebusukan. Penuh dengan orang-orang busuk yang berada di sekitarku. Ya semuanya karena uang. Uang dan godaan materilah yang membuat semua bau busuk ini. Rasanya aku sudah menjadi gila sekarang. Aku harus bagaimana?" Aku berlari-lari sendiri di dalam kamar mandi Kalau aku menghadap..."Ah tidak mungkin." Aku berdiri di pinggir bak mandi. "Ah, kacau semua hidup ini. Lebih baik aku mandi lagi biar bersih." Aku masuk bak mandi dengan pakaian lengkap. "Ya, Allah ampunilah aku. Aku kapok. Aku tak akan mengulangi lagi." Kepala aku celup-celupkan ke dalam air, timbul-tenggelam. Aku merasa hati nuraniku yang sering timbul-tenggelam dalam bau busuk kehidupan terus meronta-ronta. "Bau busuk. Busuk sekali. Awas bau busuk.... Awas bau busuk..... Busuk... Busuk..."
Di rumah megah itu tak seorang pun tahu kalau di dalamnya ada seorang yang terus meronta-ronta dalam hidupnya. Hingga waktu berjalan terus tak pernah menggenal ampun menggerus usia kita. ***

Rabu, 07 Mei 2008

Puisi di Kompas, 23 Maret 2008


ARCA

adalah sebuah perjalanan menuju batas
sebelum senja dan hujan membasahi
mengungkir dengan tangan-tangan gaibnya
hingga ketelanjangan ini bisa kumengerti

Ngawi, 2008
Kompas, Minggu, 23 Maret 2008

ASMARALAYA

di antara pohon-pohon kamboja
dan rerontokan bunga kenanga
ilalang panjang dan nyanyian rembang

kusaksikan sebuah isyarat senja
di epitat reruntuhan makam
kekasih adalah batu yang dipahat waktu

Ngawi, 2008
Kompas, Minggu, 23 Maret 2008

ULAR

di dalam hujan ia mengembara
di udara dingin dan kabut yang luruh
sesenyap api yang datang

di malam hari ia mengendap dalam dengus tak henti
mengintip bilik ranjang stupa candi
tempat bertapa

kubukakan pintu utara
agar engkau tak malu pada
ketelanjangan ini

di antara payung-payung purba
kau hanya berdiam diri
dengan mata buta

Ngawi, 2008
Kompas, Minggu, 23 Maret 2008

LAYANG -LAYANG

layang-layang adalah masa kecil yang hilang
ia terbang ke atas dan turun menukik
dan sesekali menyambar-nyambar angin
ketika putus kau terperanggah dan menangis

lalu bangkit dan mengejar-ngejar bayangan
melintasi sawah, ladang, rumah dan menara
ke arah susuh angin yang tak kutahu di mana rimbanya
yang begitu sempurna mempermainkan sayap sihirnya

dalam pengejaran ini aku semakin tercekam
ketika memasuki senja dengan cahaya suram
yang kulihat hanya bayang-bayang gelap
yang mengejar-ngejar dan mempermaikan waktu

Ngawi, 2008
Kompas, Minggu, 23 Maret 2008

PELANCONG

mereka turun dari kapal di gelap malam
membawa senter, oncor dan peta masa lalu
dan gerimis senja mengantarnya pada hutan belukar
di sebuah tempat yang tak terduga
sebuah semenanjung di sebuah pulau
tempat budak-budak diternak

terdengar lolong serigala di perbukitan
tubuhnya bercahaya di antara bayangan bulan
dan hutan yang terbakar
rupanya bayang-bayang lebih gaib dari pikiran
karena ia selalu lepas dari genggaman

beri aku senapan, beri aku peluru teriakmu
ketika mendengar suara-suara binatang malam
kubisikkan kata-kata muram sebelum matanya lebih jalang
tunggu semua burung-burung pulang ke sarang
agar kau jumpai pikiran lepas dengan badai ingatan

ah kau inlander tahu apa tentang masa lalu
aku pun diam di bawah pohon besar
dekat sebuah makam purba bernisan batu
aku pun tahu sebentar akan sampai pada batas

di pantai ini hanya nasib yang mempertemukan
sebelum esok pagi kita pergi ke besuki
panarukan, panji dan asembagus
melihat pabrik-pabrik dan bising mesin
meminta kita untuk kembali ke masa-masa silam
ketika senjata menjadi panglima
dan pikiran-pikiran berputar-putar pada hasrat dunia
pejamkan matamu dan kau akan melayari semua impian
yang pernah terlupakan, sebelum tergadaikan

di pagi hari di pelabuhan jangkar sebelum gempa
kau memandang kapal-kapal yang berkabut
terdampar di pelupuk matamu yang biru
asap dan bayang-bayang masih menyelimuti
sebuah pulau, nun jauh di sana yang tak terjangkau
seolah diterjunkan dari bukit-bukit tandus
kebun-kebun tebu, sawah dan ladang hangus

dan di pabrik gula, mesin-mesin terus bekerja
memeras keringat dari madu kemurnian
dan sungai-sungai dipenuhi kegelapan
mengalir dari hulu menuju muaramu
sebelum kau layarkan ke pulau-pulau asing
tempat terjauh yang tak pernah kukenal

sebuah gudang tua milik tuan tanah
menyimpan sejarah gelap perbudakan
di ladang tebu, tembakau dan perkebunan
tubuh yang hitam berdiri memandang senja
di antara sihluet patung raksasa berambut gimbal
kau duduk di antara pohon-pohon tua
di pelabuhan kau berteriak, ini juga tanah airku
kau ambil peta dan kau bubuhi tanda
dulu aku juga dilahirkan di sini

aku tenggelam dalam kenangan
bunga harum yang kuharap telah jadi bangkai
ah kau hanya merayu untuk sesuatu yang sesat
ini bukan birahiku di antara sepi dan api
tapi hanyalah lelaki jalang yang mengembara
di antara pulau-pulau yang masih perawan
dan tanah-tanah yang minta diberkahi
aku beri tanda dan kau hanya bisa tengadah
nyalakan obor di kandang dan gubuk sebagai tawanan
hambamu hanyalah hamba yang tunduk pada takdir
kau hanya boleh memainkan kincir di batas mimpi

bau kemarau masih menyimpan tubuhmu dari seberang
di tanah ini telah kau tandai waktu dan sejarah
dengan pabrik, lori, tebu, tembakau dan kapal-kapal
agar masa lalu bisa terulang dan aku terkenang pada noni-noni
ah wajahnya putih susu dan betisnya seharum bunga leli
sedang bau keringatku seapek tembakau di gudang tua
kini kami mainkan tambur dan genderang di ladang-ladang
agar semangat kerja menjadi doa dan pahala

Situbondo, 2008
Kompas, Minggu, 23 Maret 2008